October 13, 2017

Spirit Muslim. Salah satu kebiasaan buruk yang harus dihindari oleh seorang Muslim ialah berkata kotor, mengumpat, dan berkata jorok. Banyak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan mengenai larangan untuk berkata kotor ini. Bahkan ancaman bagi orang yang biasa berkata kotor ini tidak main-main, lembah neraka lah yang menjadi hadiah bagi mereka yang membiasakan dirinya berkata kotor.


Selain itu sama sekali tidak ada manfaat yang didapat saat seseorang tersebut berkata kotor atau mengumpat orang lain. Mungkin sebagian besar orang melontarkan kata-kata umpatan karena emosi pada dirinya sudah memuncak dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk meluapkan emosinya tersebut selain dengan berkata kotor.
Hal semacam ini tidak dibenarkan dalam Islam, Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk berlaku lemah lembut terhadap orang lain, memperlakukan orang lain dengan sopan dan santun merupakan akhlaq yang diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Bahkan ketika Rasulullah didzalimi oleh orang Yahudi, Rasulullah pun tetap mengedepankan sikap lemah lembut untuk menghadapi mereka.

ANCAMAN BAGI ORANG YANG BERKATA KOTOR

Berkata kotor, mengumpat, dan berkata jorok bukanlah salah satu sifat yang mencerminkan dirinya sebagai seorang Muslim sejati. Dengan berkata demikian hanya akan merendahkan dirinya sendirinya dihadapan Allah dan juga orang lain. Bahkan ancaman bagi seorang pengumpat sudah sangat jelas disebutkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an berikut:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
Artinya:
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela”. (Q.S. Al-Humazah: 1)

Dari ayat diatas dapat kita ambil 2 kalimat utama mengenai celaan ini, yakni:

Pertama, "هُمَزَةٍ" yakni mencela dan mengumpat orang lain dengan isyarat dan perbuatan. Dalam kitab tafsir karangan Syaikh As-Sa’di Yang dimaksud "هُمَزَةٍ" adalah banyak mengumpat atau menjelekkan orang lain dengan cara ghibah atau merendahkan orang lain dengan candaan, atau semisalnya.

Kedua, "لُمَزَةٍ" adalah mencela orang lain dengan ucapan. Yakni mencela secara langsung dihadapan orang lain dengan perkataan buruk yang dapat menyakitkan hati orang lain.

Dari kedua istilah ini maka dapat disimpulkan bahwa kita dilarang utuk mencela orang lain dalam bentuk apapun, baik mengumpat tanpa sepengetahuannya atau mengumpat langsung dihadapannya. Karena ancaman dari mengumpat ini sudah dijelaskan dalam ayat diatas pada kalimat وَيْل , kalimat ini merupakan sebuah isyarat mengenai ancaman yang begitu berat. Salah satu tafsir menyebutkan bahwa wail adalah sebuah ancaman di lembah di neraka.

Saat didunia, jika ia senantiasa mengucapkan hal-hal yang buruk sudah pasti ia akan dijauhi oleh orang-orang disekitarnya. Bahkan saat kita megutarakan sebuah pendapat maupun gagasan dianjurkan untuk mengucapkan hal-hal yang baik agar pendapat dan gagasan kita bisa dengan mudah dicerna oleh orang lain. Untuk itu merugilah seseorang saat ia ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya karena perkataannya yang buruk. Dalam sebuah hadits disebutkan:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

Artinya:
"Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya pada hari kiamat disisi Allāh adalah orang yang ditinggalkan oleh masyarakat." (H.R. Muslim: 2591)

Seseorang yang beriman tidak akan membiasakan dirinya untuk mengucapkan perkataan yang jelek dari mulutnya. Mukmin yang sejati senantiasa menghiasi mulutnya dengan perkataan-perkataan yang baik dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Inilah cerminan seorang Muslim dan Mukmin yang sebenanya, bahkan disebutkan dalam satu riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah". (H.R. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)


Sudah selayaknya kita sebagai seorang Mukmin yang memiliki iman dan akhlak luhur memberikan contoh yang baik bagi sesama. Tidak lain hal semacam ini sebagai salah satu bentuk amar ma’ruf seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika ia adalah seorang pemimpin, baik pemimpin rumah tangga, pemimpin lembaga, hingga pemimpin negara, sudah seharusnya menghindarkan dirinya dari perkataan semacam ini karena kedudukan mereka sebagai panutan maka sangat tidak layak jika seorang pemimpin mengatakan hal-hal yang mengandung kata umpatan, kata-kata jorok, ataupun yang semisalnya.

Rasulullah S.A.W bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ

Artinya:
"Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu'min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allāh benci dengan orang yang lisānnya kotor dan kasar." (H.R At Tirmidzi nomor 2002, hadits ini hasan shahīh, lafazh ini milik At Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahādīts Ash Shahīhah no 876)

Hadits diatas menunjukkan bahwa seseorang tidak akan mencapai derajat kemuliaan jika ia masih membiasakan diri berkata kotor, karena tolok ukur dari kemuliaan akhlaq seseorang terdapat pada lisannya yang mana lisan mencerminkan keadaan hati seseorang, jika lisannnya baik maka baik pula hatinya.

ALKISAH

Dalam sebuah hadits disebutkan: datanglah sekelompok orang-orang Yahudi yang hendak menemui Nabi S.A.W, kemudian mereka mengejek Nabi dengan perkataan yang buruk:

 السَّامُ عَلَيك 

Artinya:
"Kebinasaan atasmu Wahai Abu Qassim".

Sepintas, kalimat tesebut seakan-akan seperti sebuah ucapan salam yakni "Assalamu'alaik (keselamatan bagi engkau)," namun jika kita cermati, huruf lam dalam kalimat salam tersebut dihilangkan sehingga artinya berubah menjadi "semoga engkau cepat mati".

Kemudian Nabi menjawab: "Wa'alaikum (kalian juga)."

Mendengar Rasulullah diejek seperti itu, Aisyah tidak kuat tatkala mendengar suaminya (Rasulullah S.A.W) dicaci maki oleh orang-orang Yahudi itu. Hingga akhirnya Aisyah pun membalasnya dengan berkata: 

وعليكم السام، لعنة الله عليكم وغضب الله عليكم إخوة القراد والخنازير

Artinya:
"Semoga kalian yang cepat mati, laknat Allah bagi kalian, Allah murka bagi kalian, wahai saudara-saudara babi-babi dan monyet-monyet".

Lantas Aisyah ditegur oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

يَا عَائِشَةَ لَا تَكُوْنِيْ فَاحِشَةَ

Artinya:
"Wahai Aisyah jangan engkau menjadi orang yang mulutnya kotor." (H.R. Muslim: 2165)

Dalam riwayat lain kata Rasulullah S.A.W bersabda: 

ما كان الرفق في شيء إلا زانه، ولا نُزع الرفق من شيء إلا شانه

Artinya:
"Tidaklah kelembutan diletakkan pada suatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah diangkat kelembutan tersebut kecuali akan merusaknya". (H.R. Imam  Muslim: 2594 dengan lafazh yang berbeda)

Jika kita perhatikan ucapan sayyidah Aisyah terlihat kasar, namun hal tersebut tidak sepenuhnya salah karena laknat untuk bani Israel memang terdapat pada salah satu ayat Al-Qur'an: 

Perkataanya benar, tidak ada yang salah semua perkataannya (dalīlnya) ada dalam Al Qur'an, Allah S.W.T berfirman: 

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Artinya:
"Telah terlaknat orang-orang kāfir dari Bani Israel (Yahudi) dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas". (Q.S Al Maidah: 78)

Dan hal tersebut juga berlanjut pada ayat berikutnya

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Artinya:
"Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu". (Q.S Al Maidah: 79)

Laknat mengenai orang-orang Yahudi pun juga terdapat pada ayat lain, yakni pada Surat Al-Baqarah ayat 65 yang menyebutkan mereka (orang Yahudi) merupakan golongan dari kera-kera yang hina.

 كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Artinya:
"Jadilah kalian kera-kera yang hina." (Q.S Al-Baqarah: 65)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman: 

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِير

Artinya:
"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang kedudukannya lebih buruk disisi Allah ?, Mereka adalah orang yang dilaknat oleh Allah dan di murkai oleh Allāh, dan diantara mereka ada yang dirubah menjadi babi-babi dan monyet-monyet." (Q.S Al-Maidah: 60)

Maka tidaklah salah jika sayyidah Aisyah mengucapkan hal tersebut kepada mereka, bahkan celaan sayyidah Aisyah ini tidak lain untuk membela Rasulullah dari celaan kaum Yahudi la'natullah 'alaih.

Namun karena akhlaq Rasulullah yang begitu luhur, Aisyah pun ditegur atas ucapannya tersebut oleh Rasulullah. Rasulullah lebih mengedepankan akhlaq yang lembut dengan melarang sayyidah Aisyah untuk mengatakan hal demikian. Sekalipun kita diperbolehkan membantah untuk hal yang keliru, namun Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk membantah hal tersebut dengan perkataan yang lembut, lebih-lebih kepada orang kafir agar mereka sadar bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan.


Oleh karenanya tatkala kita menyeru kepada tauhid dan sunnah jika kita membantah orang-orang yang bersalah sampaikanlah dengan kata-kata yang lembut.

Pelajaran bagi kita: kepada orang-orang Yahudi saja jika mereka mencaci kepada seorang Muslim kita dianjurkan untuk memilih kata-kata yang baik untuk menentangnya apalagi kepada sesama muslim. Tidak seharusnya kepada sesama Muslim kita berkata dengan perkataan yang kasar apalagi sampai mengeluarkan kata umpatan dan cacian kepada mereka, karena kita tahu bahwa antara satu Muslim dengan Muslim lainnya terikat rasa persaudaraan atas dasar Iman dan Islam.

Semoga artikel ini memberikan pelajaran yang berharga bagi kita semua bahwa tiada manfaat sama sekali yang didapat oleh seseorang saat ia membiasakan berkata kotor, jorok, atau bahkan mengumpat orang lain. Sebaliknya perkataan yang kasar yang mengandung umpatan malah akan membuat kita dibenci oleh Allah dan para makhluknya. Jika semua sudah membenci kita, apa yang bisa kita perbuat ?, untuk itu mari kita jaga keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah S.W.T dengan menjaga lisan kita untuk membiasakan diri berbicara yang baik dan bermanfaat agar kita termasuk kedalam umat yang memiliki akhlaq yang mulia, agar kita kelak bisa bersanding dengan Rasulullah S.A.W di hari akhir nanti. Amin.

0 comments:

Post a Comment