August 26, 2017



Spirit Muslim. Kitab-kitab hadits merupakan kitab yang memiliki peran cukup penting dalam khazanah keilmuan Islam. Sudah banyak berbagai kitab hadits yang telah tersebar di muka Bumi ini yang telah disusun oleh berbagai ulama terkenal. Sebut saja kitab Durratun Nasihin yang telah disusun oleh Syekh Utsman Al-Khoubawy. Berbagai macam nasehat serta peringatan-peringatan yang ada dalam kitab ini membuat kitab ini dijadikan salah satu sumber rujukan bagi para da'i untuk memberikan tausiyah-tausiyahnya.

Namun sayangnya hanya sedikit informasi mengenai biografi pengarang kitab Durratun Nasihin ini yakni Syekh Utsman Al-Khoubawy. Keterbatasan informasi ini tak lain karena dalam kitabnya memang hanya disebutkan beberapa saja mengenai kehidupan beliau.

Seperti yang kita tahu bahwa kitab Durratun Nasihin sangat terkenal di kalangan para da'i dan para ulama, tak lain karena didalamnya terdapat berbagai macam nasihat dan peringatan-peringatan yang berharga untuk kehidupan seseorang. Dibalik semua kelebihannya itu ternyata kitab ini juga menuai banyak kontroversi, disisi lain kitab ini  juga memiliki kesan tersendiri dihati penggemarnya.

Durratun Nasihin memiliki makna "Mutiara Para Penasihat", sesuai dengan maknanya, kitab ini menghimpun beberapa nasihat-nasihat, peringatan-peringatan, serta kisah menarik meliputi ranah duniawi dan ukhrawi. Oleh karena itu pantas saja jika kitab ini banyak dipakai oleh para muballigh untuk menyampaikan materi yang sesuai dengan pembahasan ceramah maupun pidatonya. Kitab ini telah lama dikaji dan dipelajari oleh santri-santri pondok pesantren dan juga masyarakat Indonesia sendiri.

Kitab Durratun Nasihin merupakan buah karya dari Syekh Utsman Al-Khoubawy yang wafat pada 1824 M. Tidak banyak biografi serta informasi mengenai pengarang kitab ini karena dalam kitabnya sekalipun biografi pengarang kitab tidak dicantumkan secara lengkap. Dalam muqaddimah kitabnya hanya disebutkan bahwa beliau menetap di Konstantinopel.

Baca juga: Letak Konstantinopel

Disebutkan bahwa pada mulanya beliau mengarang kitab ini lantaran pada awalnya beliau menyadari bahwa di daerah beliau tinggal terdapat beberapa kalangan masyarakat yang benar-benar menggemari untaian kata berupa nasihat-nasihat. Mengetahui hal tersebut, hati beliau tergugah untuk mengarang sebuah kitab yang berisi nasehat-nasehat yang serupa dengan kegemaran para penduduknya tersebut. Akhirnya disusunlah kitab yang sesuai dengan kegemaran masyarakatnya tersebut yakni Durratun Nasihin. Faktor lain yang mendukung asal mula penulisan kitab ini diungkapkan oleh Al-Khoubawy bahwa beliau merasa adanya penyimpangan pada penyampaian nasehat-nasehat yang pada saat itu dibawakan oleh sahabat-sahabatnya.

Dikatakan menyimpang...................

menurut Al-Khoubawy sendiri kadang kala dalam penyampaian-penyampaian tersebut jauh dari nilai yang ada dalam Al-Quran. Sayangnya Al-Khoubawy sendiri tidak menyebutkan bagaimana bentuk dari penyimpangan tersebut.

Belum terlaksana niat beliau menyusun kitab ini, beliau terserang penyakit keras yang membuat beliau menunda menyusun kitab ini. Dikatakan dalam muqaddimah kitabnya, bahwa sakit yang beliau derita hingga membuatnya susah untuk berbicara.

Pada saat itulah beliau bernadzar apabila Allah telah menyembuhkannya dari penyakit tersebut maka beliau akan menyusun kitab nasehat yang menarik bagi pendengar.

Allah mengijabahi permintaan tersebut dan Syekh Al-Khoubawy sembuh dari penyakit yang dideritanya. Setelah beliau sembuh, mulailah Al-Khoubawi menulis kitab tersebut. Penulisan kitab ini dilakukan beliau pada abad ke-13 H.

Baca juga: keutamaan dan peristiwa penting yang terjadi pada 10 hari awal bulan dzulhijjah

Secara umum, kitab ini memiliki tebal 288 halaman, memuat berbagai kisah serta keutamaan-keutamaan dari setiap ibadah, misalnya saja sunnah puasa pada bulan Dzulhijjah. Total semua nasehat-nasehat yang tertuang dalam kitab tersebut memuat sekitar 75 pasal keutamaan yang berkaitan dengan setiap topik yang dibahas. Dan setiap keutamaan-keutamaan dari setiap ibadah disertai dengan berbagai kisah dan hikayat yang diambil dari beberapa kitab, diantaranya:

1. Zubdat Al-Wa'izin.
2. Tuhfah Al-Mulk.
3. Kanz Al-Akhbar.
4. Durroh Al-Waizin.
5. Syifa Al-Syarif.
6. Daqaiq Al-Akhbar.
7. Firdaus Akbar.
8. Bahjat Al-Anwar.

Penambahan kisah, cerita, atau hikayat yang dicantumkan Al-Khoubawy ini tampaknya dimaksudkan agar keutamaan yang diterangkan tersebut semakin menambah semangat bagi pembacanya untuk segera mengamalkannya.

Suatu karya yang lahir dari hasil karya manusia dalam bidang apapun itu tentu tidak akan lepas dari respon orang lain, baik respon positif maupun negatif. Begitu pula dengan kitab ini. Disinyalir oleh banyak orang bahwa didalam kitab ini terdapat banyak hadits-hadits dhaif dan hikayat-hikayat yang tidak mempunyai keterangan yang jelas.

Sebenarnya..........

Dalam mengambil sumber, Al-Khoubawy sendiri selalu menyertakan sumber dimana beliau mengambil data-data yang dikutipnya.

Tapi memang.........

Kitab-kitab yang dijadikan sebagai sumber ini tidak begitu populer dikaji oleh masyarakat banyak, bahkan bisa dikatakan asing untuk didengar. Oleh karena itu banyak yang menyebutkan bahwa kitab ini tidak patut untuk dijadikan rujukan dalam mengamalkan suatu ibadah.

Namun nyatanya, hingga kini ternyata masih banyak para da'i dan mubaligh yang menjadikan kitab ini menjadi salah satu rujukan mereka dalam menyampaikan dakwahnya.

Lantas apakah isi dakwahnya tidak bisa dipercaya ?

Tidaklah demikian, bukan berarti apa yang disampaikan oleh para da'i maupun mubaligh menjadi tidak dapat dipercaya, mereka menyampaikan dakwahnya tidak hanya bersumber dari kitab ini saja, melainkan para da'i pun juga mencari sumber referensi lain yang sesuai dengan kitab ini untuk dijadikan bahan dalam menyampaikan dakwahnya, sehingga apa yang mereka sampaikan dapat dipertanggung jawabkan.

Berbicara mengenai kitab Durratun Nasihin dalam konteks negara Indonesia.............

Kalangan akademisi menimbulkan wacana bahwa kitab ini tidak memiliki bobot ilmiah untuk dikaji. Hal ini dapat dipahami bahwa banyak diperbincangkan di dunia maya bahwa banyak hadits dhaif yang terkandung didalamnya.

TAPI LAIN HALNYA..................

Jika masuk dalam kalangan pondok pesantren. Kitab ini telah banyak dikaji dalam beberapa pondok pesantren di Indonesia. Dan elemen yang paling banyak menggunakan kitab ini adalah para muballigh dan da'i. Hal ini terbukti bahwa seringnya mereka menjadikan kitab ini sebagai pedoman dalam berpidato. Penerjemahan dalam bahasa Indonesia pun juga banyak diterbitkan dengan penerjemah Abu HF Ramadhan dan Salim Bahreisy untuk mempermudah para konsumernya memahami isi dari kitab ini.

Baca juga: biografi kh. hasyim asyari lengkap sang pendiri nu.

0 comments:

Post a Comment