April 04, 2020


Spirit Muslim. Konstantinopel atau sekarang dikenal dengan Istanbul Turki, dulu merupakan salah satu wilayah kekuasaan bangsa Romawi yang telah berhasil ditaklukkan oleh salah seorang sultan kerajaan Utsmaniyyah, dia adalah sultan Muhammad Al-Fatih. Al-Fatih adalah seorang sultan kerajaan Turki ke-7 yang memimpin masa keemasan kesultanan Utsmaniyyah selama kurang lebih 30 tahun lamanya.

Sultan Muhammad Al-Fatih merupakan seorang pejuang Islam yang sangat berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam, beliau terkenal akan kehebatannya dalam menaklukkan beberapa kerajaan-kerajaan yang ada di dunia sejak umur 21 tahun. Diusianya yang masih muda tersebut, Sultan Muhammad Al-Fatih telah berhasil menaklukkan Konstantinopel, Byzantium. Sebuah kota dengan pertahanan militer yang cukup kuat pada masanya.Lantas seperti apa kisah lengkap sultan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel ? berikut penjelasan selengkapnya.


AWAL PENGANGKATAN SULTAN MUHAMMAD AL-FATIH


Sultan Muhammad Al-Fatih merupakan putra dari sultan Utsmani ke 6 yakni Sultan Murad II. Sultan Murad II memberikan perhatian lebih kepada putranya tersebut dengan memberikan bimbingan pendidikan yang mumpuni, mulai dari Al-Qur’an, Ilmu Fiqih, hingga ilmu bahasa beliau berikan kepada putranya dibawah bimbingan para ulama.

Sultan Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H saat usianya 12 tahun. Beberapa program besar ia canangkan, salah satunya adalah  menaklukkan Konstantinopel. Sultan Muhammad juga melakukan berbagai strategi serta kebijakan-kebijakan awal yang terbilang cukup strategis, seperti kebijakan militer dan politik luar negeri, hingga pembaruan perjanjian yang telah dilakukan dengan negara sekutu. Berbagai kebijakan ini ia lakukan untuk melemahkan pengaruh Byzantium di wilayah negara-negara tetangga kesultanan Utsmani.


PENAKLUKAN KONSTANTINOPEL (BYZANTIUM).


Berbagai kebijakan politik dan militer sebelumnya telah berhasil dilakukan, langkah selanjutnya yang dilakukan Sultan Muhammad Al-Fatih adalah mempersiapkan pasukannya ke medan peperangan. Sejumlah 4 juta pasukan disiapkan untuk menggempur kota yang terkenal akan bentengnya yang tak terkalahkan tersebut (Benteng Theodosian).

Benar saja, Byzantium telah dikelilingi dengan rantai dibawah laut yang membentang di sekitar semenanjung Golden Horn (Tanduk Emas). Tidak ada pilihan lain selain melewati pagar tersebut untuk menaklukkan Byzantium. beberapa kali pertempuran dan gencatan senjata terjadi , tentara Turki Ottoman mengalami kekalahan. Sultan Muhammad Al-Fatih mengalami banyak kerugian, baik dari sisi persenjataan, perbekalan, maupun pasukan, bahkan banyaknya tentara yang syahid terbunuh saat pertempuran.

Hingga sebulan lamanya, mereka belum dapat menembus benteng Theodosian. Sultan Muhammad Al-Fatih pun memikirkan berbagai macam cara agar bisa menerobos benteng tersebut. Hingga akhirnya terlintas dibenaknya suatu cara yang pernah dilakukan oleh pangeran Kiev saat menyerang Byzantium, meskipun cara tersebut dulunya tidak berhasil namun Sultan Muhammad Al-Fatih memiliki cara yang lebih cerdik lagi, yakni dengan memilih jalur memutar melewati Galatia, untuk sampai ke pantai utara pelabuhan laut Golden Horn.

Para prajurit menggunakan kayu yang dilapisi pelumas untuk memudahkan pengangkutan kapal melewati daratan sejauh satu mil. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam, hal semacam itu mengejutkan pasukan Byzantium dan tidak mengira hal tersebut terjadi.

Sontak peperangan sengit pun terjadi, hingga membuat kerajaan yang telah berdiri selama 11 abad tersebut jatuh ke tangan umat Muslim. Sebanyak 265.000 pasukan umat Islam gugur. Kemudian pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H (29 Mei 1453 M), Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lalu akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.

0 comments:

Post a Comment