April 01, 2020


Spirit MuslimDidalam syari’at Islam, puasa terbagi menjadi dua macam, yakni puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa wajib hanya dilakukan umat Muslim pada bulan Ramadhan saja, akan tetapi puasa sunnah dilakukan pada bulan-bulan selain bulan Ramadhan sesuai dengan syari’at yang telah ditentukan. Seperti yang kita ketahu bersama bahwa puasa merupakan salah satu amalan dari sekian banyak amalan luar biasa yang dianugerahkan Allah S.W.T kepada hambanya. Bahkan terlampau agungnya amalan puasa ini, bahkan Allah S.W.T sendiri yang akan membalasnya dengan ganjaran atau pahala yang hanya Allah S.W.T saja yang mengetahui. Bahkan pahala yang hamba dapatkan karena berpuasa bisa jadi pahala yang tidak terhingga di mana hanya Allah saja yang tahu kadarnya.

Inti dari puasa sebenarnya adalah menahan diri dari makan dan minum. Namun orang-orang sholeh menganggap bahwa puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus semata, melainkan saat puasa seseorang juga harus menahan hawa nafsu dari berbagai perbuatan sia-sia yang dapat menjerumuskan seseorang kedalam tindakan kemaksiatan.

Perihal puasa ini Imam Ghazali membagi tingkatan orang yang berpuasa kedalam 3 tingkatan utama:
  • Pertama puasa tingkat umum: yakni hanya menahan lapar dan haus semata.
  • Kedua puasa tingkat khusus: yakni menahan lapar dan haus serta menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat.
  • Ketiga puasa tingkat paling khusus: yakni menahan lapar, dahaga, menjaga dari kemaksiatan, serta pikiran dan hatinya murni tertuju fokus semata kepada Allah S.W.T.
Pembagian tingkatan puasa ini terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali sebagaimana yang beliau sebutkan:

إعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص: وأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله، وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام، وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر

Artinya:
“Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”

1. PUASA PADA UMUMNYA (صوم العموم)


Ini merupakan jenis puasa seseorang pada umumnya, yakni hanya menahan lapar dan dahaga saja. Kategori puasa jenis ini merupakan kategori paling rendah. Mereka tetap berpuasa akan tetapi masih melakukan kemaksiatan. Mereka menganggap bahwa puasa hanya sekedar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa menurut tata cara yang diatur dalam hukum syariat. Puasa semacam inilah yang dikhawatirkan Rasulullah S.A.W dalam sabdanya berikut:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

Artinya:
“Betapa banyak orang berpuasa namun balasan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga semata. Dan betapa banyak orang melakukan shalat malam (tarawih dan witir) namun balasannya dari shalatnya hanyalah begadang menahan kantuk semata.” (H.R. Ahmad no. 8856, Abu Ya’la no. 6551, Ad-Darimi no. 2720, Ibnu Hibban no. 3481 dan Al-Hakim no. 1571. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Sanadnya kuat).

2. PUASA KHUSUS (صوم الخصوص)


Puasa kategori ini merupakan puasanya para Shalihin (orang-orang sholeh). Seseorang yang berpuasa pada kategori ini, mereka berpuasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, akan tetapi mereka juga menahan diri untuk tidak menuruti hawa nafsunya serta tidak melakukan kemaksiatan. Mereka menjaga bibir, mata, telinga, serta anggota tubuh lainnya agar terhindar dari tindakan maksiat. Mereka yang berpuasa dalam kategori ini senantiasa menghabiskan waktunya dengan hal-hal kebaikan, misalnya saja selalu berdzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, menghadiri majlis ilmu, dan lain sebagainya yang dapat membuat dirinya terhindar dari kemaksiatan. dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”

3. PUASA PALING KHUSUS (صوم خصوص الخصوص).


Puasa ini sering disebut juga dengan خواص الخواص yakni puasanya orang yang paling khusus. Ini merupakan tingkatan puasa tertinggi. Dikatakan demikian karena mereka tidak hanya puasa secara dzahir (menahan lapar dan haus), akan tetapi mereka juga berpuasa secara bathin. Selain menahan diri dari lapar, haus, serta kemaksiatan, mereka juga memfokuskan hati dan pikirannya hanya kepada Allah S.W.T semata. Tidak terlintas pada benak mereka kehidupan duniawi, yang mereka pikirkan hanya fokus dengan masalah akhirat, memurnikan tujuan semata semua yang ia lakukan hanya untuk Allah S.W.T. Kategori ini adalah kategori puasanya para nabi, shiddiqqin, serta muqarrabin.

0 comments:

Post a Comment