April 01, 2020


Spirit Muslim. Kelembutan hati Rasulullah S.A.W membuat setiap makhluk merindukannya. Bagaimana tidak, Rasulullah S.A.W senantiasa memikirkan umatnya jauh hari bahkan sebelum umatnya lahir ke dunia ini. Rasulullah S.A.W lebih sering memikirkan umatnya yang kelak tidak bisa menemuinya di dunia. Rasulullah S.A.W khawatir umatnya akan terjerumus kedalam lembah kesesatan jika umatnya tidak bisa menemui Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W tiada henti memohon kepada Allah S.W.T untuk memberikan keringanan atas kesalahan yang kelak dilakukan oleh umatnya tersebut.

Pernah suatu ketika Rasulullah S.A.W menangis tersedu-sedu memikirkan nasib umatnya, bahkan tangisan Rasulullah S.A.W tersebut sampai-sampai mengguncang Arsy. Allah maha tau atas apa yang menimpa Rasulullah S.A.W.

Atas kejadian tersebut lantas Jibril diperintahkan Allah S.W.T untuk menemui Rasulullah S.A.W dan menanyakan keadaan Rasulullah S.A.W saat itu. Jibril mendatangi Rasulullah S.A.W seraya menanyakan: “Yaa Habiballah. Sesungguhnya Allah mengirim salam kepadamu dan menanyakan apa gerangan yang menyebabkan engkau menangis…?”

Rasulullah S.A.W menjawab: “Wahai Jibril, yang menyebabkan akau menangis, aku teringat ucapan terakhir saudaraku ‘Isa Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa AS) sebelum diangkat oleh Allah S.W.T yang ada dalam Al-Qur’an Surah Al Maidah Ayat 118:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya:
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Rasulullah S.A.W tahu bahwa nabi Isa tidak memiliki kuasa penuh atas umatnya, dengan kata lain nabi Isa tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan umatnya bahkan nabi Isa tidak dapat memberikan syafaat terhadap kaumnya. Nabi Isa menyerahkan semua urusan umatnya kepada Allah S.W.T tanpa campur tangan nabi Isa.

Rasulullah S.A.W dengan rasa kasih sayangnya terhadap umatnya tidak rela jika memiliki nasib sama dengan nabi Isa yang tidak dapat memberikan pertolongan terhadap umatnya. Rasulullah S.A.W berkata kepada Jibril: “Wahai jibril aku tidak rela jika harus berpisah dengan umatku di dunia jika tidak ada jaminan keselamatan bagi umatku kelak”.

Jibril kemudian kembali dan menghadap kepada Allah S.W.T dan menyampaikan apa yang telah diucapkan oleh Rasulullah S.A.W tersebut.

Allah S.W.T kemudian memerintahkan Jibril untuk turun kembali dengan membawa salah satu surat dalam Al-Qur’an yakni surat Ad-Duhaa dan mengulang-ngulang ayat 5 dari surat tersebut.

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

Artinya:
"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas". (Q.S. Ad-Dhuhaa: 5).

Setelah Jibril mengulang-ulang ayat tersebut, Rasulullah S.A.W tersungkur bersujud dalam tangisnya. Kemudian beliau bangun seraya berkata kepada Jibril: “Demi Allah Wahai Jibril, dan demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman Tangan-Nya (Kekuasaan-Nya), Aku tidak akan Ridha, tidak akan Senang, dan tidak akan Gembira , apapun yang Allah akan berikan kepadaKu kalau nanti di akhirat masih ada ummatKu yang di siksa di neraka jahanam walau cuma satu orang”.

Jibril pun kembali menghadap kepada Allah S.W.T menyampaikan perkataan Rasulullah S.A.W. Kemudian Jibril diperintahkan turun kembali untuk menyampaikan sebuah kabar kepada Rasulullah S.A.W bahwa Allah S.W.T Ridha atas umat Muhammad:

يا جبريل اذهب إلى محمد فقل إنا سنرضيك في أمتك ولا نسوؤك " رواه مسلم

Artinya:
"Allah Ta'ala berfirman: "Hai Jibril, pergilah ke Muhammad dan katakanlah: "Sesungguhnya Kami akan memberikan keridhaan pada umatmu dan Kami tidak akan membuat keburukan padamu -yakni membuat engkau menjadi susah -sedih." (H.R. Muslim).

Sungguh besar kasih sayang Rasulullah S.A.W terhadap umatnya, bahkan saat umatnya belum dilahirkan, Rasulullah S.A.W telah mengkhawatirkan keadaan dan nasib umatnya kelak. Kasih sayang Rasulullah S.A.W yang begitu besar sampai-sampai membuat beliau tidak rela jika jika salah satu umatnya terjerumus kedalam lembah neraka. Untuk itu jangan sampai kita menyia-nyiakan pengorbanan Rasulullah S.A.W ini. Maka sudah selayaknya kita sebagai umat Rasulullah S.A.W menyambutnya dengan rasa mahabbah terhadapnya dengan menjalankan syariat Islam sesuai ketentuan serta menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah S.A.W agar kelak saat hari penghakiman tiba, Rasulullah S.A.W mengenali kita sebagai umatnya dengan memberikan syafa’atnya kepada kita agar kita selamat di dunia hingga di akhirat kelak. Aamiin.

0 comments:

Post a Comment