April 02, 2020


Spirit Muslim. Habib Umar Bin Hafidz merupakan sosok ulama terkemuka yang menjalankan misi dakwah hingga ke berbagai belahan dunia. Beliau merupakan salah satu ulama yang berasal dari Tarim Hadramaut Yaman yang mampu menghafal kurang lebih 100.000 hadits. Ketinggian ilmu yang beliau miliki membuat beliau semakin memperlihatkan sifat tawadhu’nya. Sosok ulama dengan ciri khas janggut berwarna merah serta murah senyum ini senantiasa memberikan kesejukan dan kedamaian tatkala beliau menyampaikan dakwahnya. 

Habib Umar lahir dari keluarga dengan silsilah keilmuan yang mumpuni dalam bidang agama. Sanad keilmuannya pun juga tidak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya cukup banyak beliau berguru dari orang-orang hebat yang ahli dari berbagai bidang, sebut saja Habib Abdul Qodir bin Ahmad bin Abdurrahman Assegaf hingga Habib Salim Asy-Syatiri.

Maka tidak mengherankan dengan ketinggian ilmu serta kerendahan hati beliau dalam berdakwah membuat  beliau dapat diterima mayoritas masyarakat di berbagai negara. Lantas seperti apa biografi Habib Umar bin Hafidz ? berikut penjelasan selengkapnya, mulai dari biografi singkat, Riwayat pendidikan, sanad guru, karya, gelar, hingga dakwah habib Umar bin Hafidz.


SEKILAS BIOGRAFI HABIB UMAR BIN HAFIDZ.


Nama lengkap: Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syeikh Abu Bakar
Kelahiran: Yaman, Senin  4 Muharram 1383 H (27 Mei 1963)
Orang tua: Habib Muhammad bin Salim
Istri: Hubabah Ummu Al-Muqaddam
Putra: Habib Salim

Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syeikh Abu Bakar lahir pada hari Senin tanggal 4 Muharram 1383 H bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1963 pada pagi hari sebelum terbit matahari di Tarim, Hadhramaut, Yaman. Beliau tumbuh di antara keluarga shaleh dan berilmu, ayah beliau adalah seorang ulama terpandang yang mencapai derajat mufti dalam mazhab Syafi’I, kakek beliau juga seorang yang masyhur, sedangkan saudara tertua beliau yaitu Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz adalah seorang ahli fiqih yang sampai saat ini menjadi pemuka para mufti kota Tarim.


NASAB HABIB UMAR.


Al-Imam Al-’Arifbillah Al-Musnid Al-Hafidz Al-Mufassir Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz bin Al-Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Abdallah bin Abi Bakr bin ‘Aidrous bin Al-Hussain bin Al-Syaikh Abi Bakr bin Salim bin ‘Abdallah bin ‘Abdarrahman bin ‘Abdallah Al-Syaikh ‘Abdarrahman Assaqof bin Muhammad Maula Al-Daweela bin ‘Ali bin ‘Alawi bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Sahib Al-Mirbat bin ‘Ali Khali‘ Qasam bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Ubaidallah bin Al-Imam Al-Muhajir Ilallah Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad bin ‘Ali Al-‘Uraidi bin Ja’far Asshadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Hussain bin ‘Ali bin Abu Talib wa Fatimah Azzahra binti Rasulullah Muhammad S.A.W.


RIWAYAT PENDIDIKAN.


Saat Habib Umar masih kecil, keadaan Tarim Hadrammaut berada dalam tekanan yang ditujukan kepada para ulama dan pengajar. Hal itu membuat kota tersebut menjadi tidak kondusif. Kedaan demikian tidak lantas membuat Habib Umar putus asa untuk tetap belajar menggali ilmu agama. Beliau secara sembunyi-sembunyi belajar  kepada para ulama disamping belajar juga kepada ayahandanya.

Namun kenyataan yang pahit harus diterima Habib Umar, saat beliau berumur 9 tahun ayah beliau yaitu Habib Muhammad bin Salim diculik oleh orang-orang komunis yang saat itu sedang berkuasa di kawasan Yaman Selatan, ayah beliau diculik lantaran tegas dalam menyampaikan dakwah dan kebenaran, hingga sampai saat ini beliau tidak diketahui keberadaannya.

Sanad keilmuan habib Umar juga tidak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya beliau berguru kepada ulama-ulama tersohor dunia, sebut saja Habib Salim bin Abdullah Asy-Syatiri, Habib Abdullah bin Syeikh Al-Aydarus, hingga Habib Abdullah bin Hasan Bilfaqih.

Pada kesempatan menuntut ilmu inilah beliau ke Haramain untuk berhaji. Beliau juga menyempatkan untuk mengikat hubungan dengan banyak ulama disana. Dari tangan merekalah Habib Umar menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu tauhid, fikih, usul fikih, tata bahasa sejarah, hingga ilmu Tazkiah (tasawuf). Maka tidak mengherankan, ketinggan ilmunya membuat beliau mulai menjalankan misi dakwah sejak umur 15 tahun. 

pada permulaan bulan Shafar 1402 H yang bertepatan dengan bulan Desember 1981 M, beliau pindah ke kota Baidha’, dan menetap di Ribath Al-Haddar. Di sana beliau berguru kepada Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar, Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, dan Al-Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil. beliau gencar berdakwah dan mengajar di sekitar kota Baidha’, Hudaidah dan Ta’iz. Di kota Ta’iz inilah beliau berguru kepada Al-’Allamah Al-Musnid Ibrahim bin Umar bin ‘Aqil. Kemudian pada bulan Rajab 1402 H yang bertepatan dengan bulan April 1982 M, beliau berkunjung ke Haramain. Di sana beliau berguru kepada Habib Abdulqadir bin Ahmad Asseqqaf, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, Habib Abu Bakar Al-Aththas bin Abdullah Al-Habsyi. Beliau juga memperoleh ijazah sanad Hadits dari Al-Musnid Syeikh Muhammad Yasin Al-Faddani dan Muhadditsul Haramain Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki serta sejumlah ulama lainnya.

Selanjutnya pada tahun 1413 H/1992 M, beliau pindah ke kota Syihr dam mengajar di Ribath Syihr. Beliau menetap di sana selama beberapa tahun. Satu tahun setengah sebelum ke Syihr, beliau tinggal di Oman untuk mengajar dan berdakwah di sana. Setelah itu beliau kembali ke kota Tarim, dan pada tahun 1414 H/1994 M beliau mulai merintis pendirian pesantren ‘Darul Musthafa’ yang kemudian secara resmi berdiri pada hari Selasa 29 Dzulhijjah 1417 H/6 Mei 1997 M.


SANAD GURU HABIB UMAR.


Habib Muhammad bin Salim (ayah), Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, Habib Ahmad bin Ali bin Syekh Abu Bakar, Habib Muhammad bin Abdullah al Haddar (di kota Baidho – Yaman), Habib Ibrahim bin Agil bin Yahya (di Kota Taiz – Yaman), Habib Abdul Qodir bin Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, Habib Abdullah bin Syeikh Al-Aydarus, Habib Abdullah bin Hasan Bilfaqih, Habib Umar bin Alwi Al-Kaff, Habib Ahmad bin Hasan Al-Haddad, Habib Ali Al-Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Habib Salim bin Abdullah As Syatiri, Syeikh Al-Mufti Fadhl bin Abdurrahman Ba Fadhl, Syeikh Taufiq Aman, Al-’Allamah Al-Musnid Ibrahim bin Umar bin ‘Aqil, Al-Musnid Syeikh Muhammad Yasin Al-Faddani, Muhadditsul Haramain Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki


KITAB KARYA HABIB UMAR


  • Is’af tholibi ridho alkhallak bimakarimi alkhallak
  • Taujihat tullab
  • Syarah mandhumah sanad alawiy
  • Khuluquna
  • Dakhirah musyarafah
  • Khulasoh madad an-nabawiy
  • Diyaul lami bidhikri maulidi nabi as-syafi
  • Syarobu althohurfi dhikri siratu badril budur
  • Taujihat nabawiyah
  • Nur aliman
  • Almukhtar syifa alsaqim
  • Al washatiah
  • Mamlakatul qa’ab wa al ‘adha’


GELAR AL-HAFIDZ.


Penyematan gelar Al-Hafidz merupakan gelar yang diberikan oleh para ulama terhadap para ulama yang telah menghafal 100.000 hadits. Habib Umar memiliki gelar tersebut namun pernah suatu ketika Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawwa saat bertemu Habib Umar bin Hafidz menegurnya untuk tidak menyebutkan gelar Al-Hafidz kepadanya. Inilah salah satu bentuk ketawadhuan Habib Umar, padahal sudah jelas-jelas beliau telah menghafal 100.000 hadits namun beliau enggan disebut gelarnya.


DAKWAH HABIB UMAR


Dakwah Habib Umar yang sejuk dan indah telah membuat setiap orang yang mendengarkan menjadi tenang, bahkan karena kelembutan dakwahnya tersebut membuat beliau dapat diterima diberbagai  negara, sebut saja Haramain, Syam, Mesir, Afrika, Asia Tenggara, hingga ke daratan Eropa. Beliau tiada hentinya melakukan dakwah untuk menebar kebaikan di muka bumi ini. Bahkan setiap tahun pada bulan Muharram selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Indonesia. Dakwah beliau juga sangat dirasakan kesejukannya dan disambut dengan hangat oleh umat Islam di Indonesia. Masyakarat menyambut beliau dengan sangat antusias dan hangat, mengingat bahwa kakek beliau yang kedua, al Habib Hafidz bin Abdullah bin Syekh Abubakar bin Salim, berasal dari Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Habib Umar telah melakukan dakwah rutin sejak tahun 1994 saat diutus oleh Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf yang berada di Jeddah untuk mengingatkan dan menggugah ghirah (semangat atau rasa kepedulian) para Alawiyyin Indonesia. Perintah itu disebabkan sebelumnya ada keluhan dari Habib Anis bin Alwi al-Habsyi seorang ulama dan tokoh asal Kota Solo, Jawa Tengah tentang keadaan para Alawiyyin di Indonesia yang mulai jauh dan lupa akan nilai-nilai ajaran para leluhurnya. Intensitas kedatangan yang semakin sering ke Indonesia membuat Habib Umar menginisiasi lahirnya organisasi bernama Majelis Al-Muwasholah Bayna Ulama Al Muslimin atau Forum Silaturrahmi Antar Ulama. Sejak itu, Habib Umar menjadi semakin sering datang ke Indonesia untuk menyampaikan dakwah dan ajarannya. 

Di Indonesia al Habib Umar sudah beberapa kali membuat kerjasama dengan pihak bahkan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Ditjen Kelembagaan Keagamaan Departemen Agama RI meminta pembuatan kerjasama dengan al Habib Umar dan Darul Musthafa untuk pengiriman SDM yang berkualitas, khususnya para kyai pimpinan pondok pesantren untuk mengikuti program pesantren kilat selama tiga bulan dibawah bimbingan langsung al Habib Umar.

Sampai saat ini, banyak sudah santri-santri di Indonesia yang menuntut ilmu di pondok pesantren yang beliau pimpin, Darul Musthafa di Hadramaut, dan telah melahirkan banyak da’i-da’I yang meneruskan perjuangan dakwahnya di berbagai daerah di Indonesia.


KISAH TELADAN HABIB UMAR BIN HAFIDZ.


Pernah suatu ketika saat Habib Umar berumur 25 tahun dan ditawari untuk menikah dengan salah satu putri dari guru beliau Al-Imam al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar. Beliau memiliki 2 orang putri yang satu masih gadis dan satunya lagi janda. Tanpa pikir panjang Habib Umar memilih putri dari gurunya tersebut yang berstatus janda. Saat beliau oleh sang guru alasan memilih putrinya yang janda habib Umar menjawab: “Aku ingin ditemani oleh seseorang yang telah memiliki pengalaman di dalam menjalani kehidupan, karena suatu saat nanti aku akan membawa beban yang cukup berat (perjuangan dakwah). Dan satu lagi yaitu, aku ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh Kekasihku Muhammad Al-Musthafa S.A.W.” Rasulullah Saw. ketika menikahi Sayyidah Khadijah Ra. berumur 25 tahun dan Sayyidah Khadijah Ra. sudah berstatus janda.

Pernah juga ada sebuah peristiwa yang melibatkan Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ahmad ibn Muhammad Alkaff salah satu murid habib umar serta beberapa murid lainnya. Pada pertengahan bulan april 1994 musim dingin tengah terjadi di kota Tarim Hadramaut. Sepulang dari acara rauhah dan maulid Habib Ahmad dan beberapa murid bergegas menemui Habib Umar untuk mendapatkan selimut, namun sayangnya selimut tersebut telah habis dibagikan kepada murid-murid yang lain dan dijanjikan oleh Habib Umar akan dibelikan keesokan harinya karena malam hari toko tutup. Saat Habib Ahmad beserta murid lainnya hendak pulang menuju asrama yang ada dibelakang kediaman Habib Umar, Habib Umar tiba-tiba membagikan selimut tipis nan lusuh dan membagikan kepada para muridnya tersebut. Para murid tersebut lantas bergegas menuju asrama dan lekas tidur, tak selang lama mereka mendengar tangisan bayi dan mereka yakin itu adalah putra habib Umar. Setelah shalat shubuh saat kajian kitab Nahwu mereka bertemu dengan salah satu putra Habib Umar yakni habib Salim. Mereka bertanya kepada Habib Salim atas tangisan bayi pada malam tersebut “Wahai Salim mengapa adik bayimu menangis tak henti hentinya tadi malam? Apakah dia sakit? Habib Salim pun menjawab, "Tidak, adikku tidak sakit." Jawab Habib Salim. "Lalu apa yang membuatnya menangis?" Tanya mereka. Dengan keluguannya habib Salim pun menjawab, "Mungkin karena kedinginan, karena semalam kami sekeluarga tidur tanpa selimut?!" mereka terkejut mendengar apa yag diucapkan habib Salim. Habib Ahmad lantas segera mengembalikan selimut itu kepada habib Umar dan beliau menerima selimut itu dan menggantikan selimut tersebut dengan yang baru, yang dikirim oleh pemilik toko. Habib Ahmad dan murid lainnya pun kembali keasrama tanpa dapat membendung lagi air mata mereka yang melihat kemuliaan yang diberikan habib Umar kepada murid-muridnya. Subhanallah, inilah akhlak seorang Habib Umar, beliau rela selimut keluarganya bahkan selimut putranya yang masih bayi diberikan kepada murid-muridnya meskipun keluarganya dalam keadaan kedinginan.

0 comments:

Post a Comment