April 15, 2020


Spirit Muslim. Bau mulut menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami seseorang, terlebih saat ia menjalankan ibadah puasa. Bahkan ketika merasa bau mulut tidak sedap, seseorang akan menjadi risih dan tidak percaya diri. Itulah mengapa saat sedang berpuasa kita dianjurkan untuk menyikat gigi terlebih dahulu saat selesai makan sahur. Menyikat gigi saat makan sahur akan meminimalisir bau mulut saat berpuasa.

Namun terkadang tidak jarang kita jumpai meskipun kita sudah menggosok gigi, ditengah puasa bau mulut itu kembali menghampiri, karena memang bau mulut tidak semata-mata berasal dari mulut, akan tetapi dari uap lambung yang disebabkan tidak ada asupan makanan. Memang persoalan bau mulut ini tidak bisa dianggap remeh, pasalnya hal tersebut cukup mengganggu bagi diri kita dan orang lain. Namun sebagai umat Muslim yang senantiasa menjalankan syari’at agama, apapun yang terjadi, kita tetap wajib menjalankannya meskipun terkendala bau mulut sekalipun.

Adalah sebuah fakta jika bau mulut saat puasa memang sulit untuk dihindari, meskipun begitu kita harus tetap berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir bau mulut tersebut, dan jika akhirnya masih tetap bau juga maka tidak perlu berkecil hati karena sesuai hadits bahwa bau mulut orang yang berpuasa kelak di akhirat akan lebih harum dari harumnya minyak Misk atau Kasturi.

Seperti kita ketahui bersama bahwa minyak Misk atau kasturi memiliki ciri khas wangi yang lembut, tidak menyengat namun tidak mudah pudar. Inilah keistimewaan minyak Misk atau kasturi hingga Allah S.W.T menjadikan perumpamaan bau mulut seseorang saat berpuasa. Allah S.W.T melalui Rasulullah S.A.W memberikan kabar gembira ini melalui sabdanya yang tertuang dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

Artinya:
“Demi Zat yang berkuasa atas nyawaku, sungguh bau mulut orang puasa itu lebih wangi menurut Allah daripada bau misik”. (H.R. Bukhari).


PENAFSIRAN HADITS.


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memahami hadits diatas:

1. Hadits diatas adalah kalam Majaz.
Dalam memahami kalam Majaz, kita tidak bisa menafsirkan kalam begitu saja. Artinya kalam tersebut adalah sebuah perumpamaan semata, yakni wangi yang disebutkan bukanlah wangi menurut penciuman Allah S.W.T. Jika Allah S.W.T menilai dengan penciuman maka itu sama hakikatnya dengan makhluk, padahal seperti kita ketahui bersama bahwa Allah S.W.T tidaklah sama dengan makhluk dalam hal apapun juga (Laisa kamitslihi syaiun). Yang dimaksud dengan عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ adalah pahalanya lebih banyak menurut Allah daripada pahala orang yang memakai minyak misik pada shalat Jumat atau shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Hal ini juga disebutkan oleh Al-Bujairimi dalam Tuhfatul Habib ala Syarhil Khatib terkait makna hadits ini.

قَوْلُهُ: (أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ) أَيْ أَطْيَبُ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ الْمَطْلُوبِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَالْعِيدَيْنِ أَيْ أَكْثَرُ ثَوَابًا مِنْ ثَوَابِ رِيحِ الْمِسْكِ الْمَطْلُوبِ، فَلَا يَرِدُ أَنَّ الشَّمَّ مُسْتَحِيلٌ عَلَيْهِ تَعَالَى، أَوْ مَعْنَى كَوْنِهِ أَطْيَبَ عِنْدَ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَرِضَاهُ بِهِ 

Artinya:
“Yang dimaksud dalam qaul ‘lebih wangi menurut Allah’ adalah lebih wangi daripada bau minyak misik yang diperintahkan untuk memakainya ketika hari Jumat dan dua shalat Id, atau maksudnya adalah pahalanya lebih banyak daripada pahala menggunakan minyak misik pada hari Jumat atau dua hari raya. Sungguh, mencium adalah hal yang mustahil bagi Allah SWT sehingga yang dimaksud dengan ‘lebih wangi menurut Allah’ adalah pujian dan ridha-Nya terhadap orang yang berpuasa.”

2. Tetap berusaha menjaga kebersihan mulut.
Telah disinggung diatas bahwa hadits tersebut merupakan kalam majaz. Jadi kita tidak bisa menafsirkan hal tersebut begitu saja. Orang yang berpuasa bau mulutnya lebih wangi dari Misk, hal tersebut seolah memberi gambaran, semakin bau mulut seseorang maka baunya akan semakin wangi seperti Misk sehingga menjadikannya malas untuk membersihkan mulutnya. Ini adalah pemahaman yang keliru, jika bau mulut tersebut dibiarkan maka akan mengganggu diri kita sendiri serta orang-orang yang ada di dekat kita. Pemahaman yang benar adalah kita tetap berusaha menjaga kebersihan mulut kita, namun jika pada akhirnya bau mulut masih dirasakan maka kita pasrahkan semua kepada Allah S.W.T dengan optimis meskipun bau mulut namun bau mulut tersebut kelak akan lebih harum dan wangi daripada wangi dan harumnya minyak Misk.

3. Wangi minyak Misk tersebut terjadi di akhirat.
Al-Qadhi Iyadh mengatakan wangi minyak Misk orang-orang yang berpuasa tidaklah terjadi di dunia, akan tetapi kejadian tersebut akan terjadi di akhirat kelak. Allah S.W.T akan menandai orang-orang yang rajin puasa di akhirat kelak dengan bau mulut yang wanginya lebih harum dari minyak Misk. 

Bekas ketaatan yang berakibat tidak enak bagi jiwa di dunia akan dibalas dengan sesuatu yang menyenangkan pada hari kiamat. Artinya, bau mulut yang tidak enak akan dibalas dengan bau yang wangi karena hal itu muncul dari amalan ketaatan pada Allah di dunia. (Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 286-288).


PENDAPAT IMAM NAWAWI


Dalam kitab Maraqi Al Ubudiyyah, Syekh Nawawi Al Bantani menjelaskan ada beberapa tafsiran ulama mengenai hadits ini. Antara lain :
  • Dalam arti, bau mulut orang yang berpuasa karena perutnya kosong dari makanan lebih banyak pahalanya daripada aroma wangi minyak misik, yang disunnahkan untuk dipakai dalam Shalat Jumat dan majelis zikir. An Nawawi menguatkan makna ini dengan mengartikan kata “harum” sebagai penerimaan puasa dan keridhaan Allah atasnya.
  • Al Mawardi memaknai bau mulut orang yang berpuasa lebih baik disisi Allah daripada aroma minyak misik, bahwasannya bau itu lebih mendekatkan diri kepada Allah daripada minyak misik diantara kalian.
  • Salah seorang ulama berkata, “Berbagai macam amal ibadah mempunyai bau semerbak pada hari kiamat. Maka bau puasa diantara berbagai macam ibadah itu seperti bau minyak misik.” Perkataan ini seperti dalam hadis yang menyebutkan bahwa “Orang yang ihram dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan sedang bertalbiah”. Atau seperti dalam hadis lain yang menyatakan, “Peniup seruling dibangkitkan dalam keadaan sedang memegang seruling ditangannya, kemudian ia melemparkannya, tetapi seruling itu kembali ke tangannya dan tak mau berpisah darinya.”

0 comments:

Post a Comment