February 10, 2020


Spirit Muslim. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan dengan berbagai potensi wisata eksotis yang cukup terkenal di belahan dunia. Mulai dari wisata bahari hingga wisata religi tersedia di negara ini. Berbicara perihal wisata, salah satu destinasi yang dapat dikunjungi adalah Palembang. Palembang merupakan salah satu kota di Indonesia yang terletak di provinsi Sumatera Selatan. Ciri khas kota ini terletak pada jembatan Ampera sebagai simbol dari kota ini.  Di Palembang tidak hanya terkenal akan jembatan Ampera saja akan tetapi disana juga terdapat sebuah Al-Qur’an yang diukir diatas kayu dengan diameter yang cukup besar. Al-Qur’an ini diklaim merupakan Al-Qur’an terbesar di dunia yang terbuat dari kayu. Al-Qur’an tersebut dikenal dengan sebutan Al-Akbar, karena memang ukuran Al-Qur’an tersebut terbilang cukup besar. Lantas seperti apa Al-Qur'an Ak-Akbar ini ? Siapa penggagas Al-Qur'an Al-Akbar ini ? berikut penjelasan selengkapnya.

1. Berbahan Dasar Kayu Tembesu.

Al-Qur’an Al-Akbar merupakan salah satu Al-Qur’an terbesar di dunia yang terbuat dari kayu tembesu. Pemilihan kayu jenis ini dinilai lebih tahan lama dan anti rayap. Kayu jenis ini banyak terdapat di daerah Palembang dan Jambi. Para pengukir khusus didatangkan dari Jawa dan Palembang. Uniknya sebelum mengukir ayat-ayat Al-Qur’an ini, mereka juga melakukan ritual khusus seperti berpuasa.

2. Penggagas Al-Qur'an Al-Akbar.

Penggagas dari Al-Qur’an ini adalah  Bapak H. Kgs Syofwatillah Mohzaib. Al-Qur’an ini berada di kota Palembang lebih tepatnya di Jalan M. Amin Fauzi, Soak Bujang di pondok pesantren Al-Ihsaniyyah Gandus Palembang. 

3. Detail Al-Quran.

Al-Qur’an ini terdiri dari 30 juz yang diukir diatas kayu tembesu. Untuk membuat Al-Qur’an jenis ini diperkirakan menghabiskan dana kurang lebih Rp. 2 Milyar dengan jumlah kayu sebanyak 40 meter kubik. Masing-masing lembar memiliki ukuran 177 cm x 140 cm x 2,5 cm. Tebal dari keseluruhan mushaf diperkirakan mencapai 9 m. Uniknya Al-Qur’an ini bisa diputar layaknya pintu untuk memudahkan pengunjung membacanya.

Al-Qur’an dengan lama pengerjaan 7 tahunan ini memiliki halaman berjumlah 630 halaman lengkap dengan tajwid dan doa khatam. Alquran ini terdiri dari 315 keping dengan 630 halaman untuk 30 juz. Dimana untuk 1 hingga 5 juz berada di bagian bawah, 6 hingga 10 juz berada di lantai kedua, 11 hingga 15 berada di lantai tiga, dan 16 hingga 20 berada di lantai empat. Sedangkan sisanya dari 21 hingga 30 juz masih disimpan, mengingat kurangnya tempat untuk di pasang 315 keping Alquran tersebut.

Lembaran Al-Qur’an ini memiliki warna dasar coklat dengan huruf timbul berwarna kuning keemasan. Pada tepi masing-masing mushaf juga diukir dengan motif kembang khas songket Palembang.

Al Quran Raksasa ini diklaim menjadi yang terbesar dan pertama di dunia yang berhasil dibuat dalam bentuk Al Quran 30 juz yang dibuat pada media kayu jenis tembesu. Sebelum Al-Qur’an ini dipublikasikan secara resmi, terlebih dahulu dipajang dalam ruang pameran masjid agung Palembang selama 3 tahun agar bisa mendapat koreksi dari seluruh umat.

4. Awal Mula Ide.

Kiagus Syofwatillah Mohzaib mulai menggarap Al-Qur’an Al-Akbar pada tanggal 10 Ramadhan 1422 H/2002 Masehi. Beliau mendapat ide untuk membuat Al-Qur’an ini saat  beliau baru saja merampungkan pemasangan kaligrafi pintu dan ornamen Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Berangkat dari sana terpikir bagi beliau untuk membuat Mushaf Al-Qur’an dengan ornamen dan ukiran khas Palembang.

Tepat pada 1 Muharam 1423 (15 Maret 2002) satu lembar ukiran yang telah dibuat yaitu Surah Al-Fatihah dipamerkan pada acara peringatan Tahun Baru Islam. Ukiran Al Qur’an ini baru selesai pada akhir tahun 2008. Kamis 14 Mei 2009 ukiran Al Qur’an ini diluncurkan di Masjid Agung Palembang.

5. Diresmikan oleh SBY.

Setelah dinilai layak untuk dipublikasikan, akhirnya pada desember 2011 untuk pertama kalinya Al-Qur’an ini dirilis. Kemudian pada januari 2012 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama seluruh delegasi konferensi parlemen Organisasi Konferensi Islam (OKI) meresmikan penggunaan Al-Quran tersebut.

6. Antusias Pengunjung.

Pengunjung wisata ini terbilang cukup banyak, setiap pekannya tercatat pengunjung ke ponpes ini mencapai 2000-3000 orang atau dalam setahunnya bisa mencapai 500 ribu hingga satu juta pengunjung.

Apalagi dalam suasana Lebaran, banyak masyarakat yang mudik memanfaatkan waktu liburannya untuk melakukan wisata religi di ponpes ini. Pengunjung ke tempat ini tidak hanya dari Palembang, tetapi masyarakat dari berbagai daerah dalam wilayah Sumsel, Jakarta, Surabaya, dan provinsi lainnya.  pada hari biasa pengunjung tempat ini hanya masyarakat lokal dan rombongan siswa dari berbagai sekolah serta komunitas tertentu.

0 comments:

Post a Comment