November 04, 2019


Spirit Muslim. Bulan asyura atau bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang memiliki banyak sekali keutamaan, karena dalam bulan tersebut terjadi beberapa peristiwa besar yang berhubungan dengan sejarah umat Islam, mulai dari Nabi Musa AS diselamatkan dari kejaran Fir’aun, Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari api raja namrudz, hingga Nabi Nuh AS selamat dari banjir bandang.

Di Indonesia sendiri terutama penduduk tanah jawa pada bulan asyura identik dengan membagikan bubur suro atau jenang suro. Bubur ini jarang sekali ditemui pada bulan bulan lain kecuali bulan asyura, karena ini memang sudah menjadi tradisi warga turun temurun untuk memperingati 10 hari pertama bulan asyura.

Lantas seperti apa asal usul tradisi bubur suro atau jenang suro ini ?, adakah kaitannya dengan salah satu sejarah para nabi ?, atau hanya tradisi yang murni dari tanah jawa ?, berikut penjelasan selengkapnya.

SEKILAS TENTANG BUBUR SURO/JENANG SURO.

Jenang suro merupakan salah satu jenis makanan berbentuk bubur halus yang terbuat dari campuran beras, garam dan air. Dalam penyajiannya biasanya bubur ini dilengkapi kuah santan dengan rasa gurih dan diatasnya ditaburi beberapa pelengkap sebagai lauk seperti irisan tahu, tempe, telur dadar, perkedel kentang hingga aneka macam kacang-kacangan.

Dewasa ini, bubur suro cukup memiliki banyak varian menyesuaikan setiap daerah yang ada di Indonesia, sebut saja bubur suro khas Situbondo dengan ciri khas taburan ikan tongkol atau ayam sisir, ada juga bubur suro  khas Solo dengan taburan utamanya irisan tempe bongkrek atau tempe gembus.

Meskipun jenang suro/bubur suro memiliki banyak varian pada setiap daerah, namun pada dasarnya bubur ini disajikan untuk memperingati datangnya bulan Muharram/Asyura, sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat yang dilimpahkan Allah S.W.T di bumi ini.

ASAL-USUL BUBUR SURO/JENANG SURO.

Bubur Suro atau jenang suro telah menjadi tradisi yang cukup melekat pada umat Islam di tanah Jawa, ini tak lain karena tradisi semacam ini telah turun temurun diwariskan hingga saat ini. Keberadaannya pun menjadi salah satu kearifan lokal tersendiri bagi warga Indonesia terutama masyarakat pulau jawa.

Pada bulan Muharram ini umat Islam berlomba-lomba membuat bubur suro untuk saling dibagikan kepada tetangga-tetangga sebagai ungkapan bentuk syukur serta shadaqah pada bulan Muharram/ Asyura. Dalam sebuah hadits disebutkan:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ سَنَتِهِ كُلِّهَا. (حديث صحيح رواه الطبرانى، والبيهقى.

Artinya:
“Barang siapa berbuat tausi’ah (memberi nafqah lebih) kepada keluarganya di hari asyura, maka Allah akan memberinya keleluasaan selama setahunnya”. (Hadist shahih riwayar At-Thabarani dan Al-Baihaqi)

Namun siapa sangka kelezatan bubur ini ternyata kehadirannya tidak lepas dari sejarah salah satu nabi kita, yakni nabi Nuh a.s. Ini bermula saat Allah S.W.T  memerintahkan nabi Nuh untuk menanam pohon jati yang kelak akan dijadikan bahtera/perahu. Saat bahtera itu jadi nabi Nuh a.s lantas memerintahkan semuanya untuk memasuki bahtera tersebut, mulai dari manusia hingga hewan tak luput memasuki bahtera tersebut. Hingga tidak lama setelah itu terjadilah peristiwa banjir bandang selama kurang lebih 40 hari. Bahtera tersebut mampu menyelamatkan nabi Nuh beserta seluruh penumpang yang ada dalam bahtera tersebut.

Hingga suatu hari lebih tepatnya tanggal 10 Muharram bahtera tersebut terdampar diatas sebuah gunung dan nabi nuh memerintahkan untuk membuat makanan sebagai rasa syukur kepada Allah S.W.T karena telah diselamatkan dari banjir tersebut.

Kisah ini tertuang dalam Kitab I'anah Thalibin jilid 2 halaman 267 disebutkan:

أَنَّ نُوْحًا – عَلَيْهِ السَّلَامُ – لَمَّا نَزَلَ مِنَ السَّفِيْنَةِ هُوَ وَمَنْ مَعَهُ: شَكَوْا اَلْجُوْعَ، وَقَدْ فَرَغَتْ أَزْوَادُهُمْ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَأْتُوْا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، فَجَاءَ هَذَا بِكَفِّ حِنْطَةٍ، وَهَذَا بِكَفِّ عَدَسٍ، وَهَذَا بِكَفِّ فُوْلٍ، وَهَذَا بِكَفِّ حِمَّصٍ إِلَى أَنْ بَلَغَتْ سَبْعَ حُبُوْبٍ – وَكَانَ يَوْمَ
عَاشُوْرَاءَ – فَسَمَّى نُوْحٌ عَلَيْهَا وَطَبَخَهَا لَهُمْ، فَأَكَلُوْا جَمِيْعًا وَشَبِعُوْا، بِبَرَكَاتِ نُوْحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ.


Artinya:
”Sesungguhnya Nabi Nuh ketika berlabuh dan turun dari kapal, beliau bersama orang-orang yang bersama beliau, mereka merasa lapar sedangkan perbekalan mereka sudah habis. Kemudian Nabi Nuh memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. Maka dengan cepat mereka mengumpulkan sisa2 perbekalan mereka, ada yang membawa segenggam biji gandum, ada yang membawa biji Adas, ada yang membawa biji kacang Ful, ada yang membawa biji Himmash (kacang putih) dll, sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Asyuro. Setelah itu Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul lalu beliau memasaknya, setelah matang lalu mereka menyantapnya bersama-sama sehingga kenyang semuanya dengan berkahnya Nabi Nuh a.s.“

Hal serupa juga terdapat dalam kitab  Nihayatuz-Zain karya As-Syekh Imam Nawawi Banten:

وحكي ان نوحا عليه الصلاة والسلام لما استقرت به السفينة يوم عاشوراء قال لمن معه
“اجمعوا مابقي معكم من الزاد. فجاء هذا بكف من الباقلاء وهو الفول, وهذا بكف من العدس, وهذا بارز, وهذا بشعير, وهذا بحنطة. فقال:اطبخوه جميعا فقد هنأتم بالسلامة. فمن ذلك اتخذ المسلمون طعام الحبوب. وكان ذلك اول طعام طبخ علي وجه الارض بعد الطوفان. واتخذ ذلك عادة في يوم عاشوراء.
(نهاية الزين صحيفة 179)


Artinya:
Di kisahkan ketika perahu Nabi Nuh terdampar (di atas gunung Zud) di hari ‘Asyura’, beliau memerintahkan orang-orang yang berada di perahu untuk mengumpulkan apa yang tersisa dari perbekalan: ”Mari, kumpulkan sisa-sia bekal kalian !!!”.

Lalu ada yang membawa kacang faul/kacang kapri. Ada yang membawa kedelai, ada yang beras, ada yang membawa jagung, ada yang gandum. Lalu Nabi Nuh a.s berkata “Masak semuanya !!! Kalian telah di anugrahi keselamatan oleh AllAh S.W.T”.

Itulah makanan yang pertama kali dibuat setelah banjir bah yang sangat fenomenal, lalu menjadi tradisi umat islam setiap tanggal 10 Muharram membuat hidangan dari biji-bijian atau yang lebih kita kenal dengan bubur Suro. (Nihayatuzzain Shahifah: 179).

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, nyatanya tradisi yang telah diturunkan secara turun temurun itu tidak lantas pudar, bahkan keberadaannya menjadi salah satu ciri khas yang melekat dalam kebudayaan Islam, terutama dalam tradisi di tanah jawa. Inilah salah satu keunikan dari tradisi bubur suro, kehadirannya menjadi salah satu wasilah bagi seseorang untuk saling berbagi rizki sebagai bentuk rasa syukur terhadap Allah S.W.T.

0 comments:

Post a Comment