November 04, 2018



Spirit Muslim. Kucing merupakan salah satu hewan yang paling banyak dipelihara oleh manusia, bagaimana tidak,  sifatnya yang jinak membuat manusia tidak enggan untuk memeliharanya, bahkan sebagian orang beranggapan bahwa kucing adalah salah satu hewan yang paling bisa mengerti perasaan pemiliknya.

Tidak berlebihan rasanya jika kucing menjadi salah satu hewan yang cukup dimuliakan dalam islam karena kristimewaan dan keutamaan yang dimilikinya, misalnya saja air liurnya yang  tidak najis, kemampuannya membersihkan diri, hingga menjadi salah satu hewan kesayangan Rasulullah S.A.W. Selain itu terdapat berbagai riwayat yang menjelaskan kisah yang berhubungan dengan kucing ini, sampai-sampai ada seorang perawi hadits yang mendapatkan julukan Abu Hurairah yang berarti kucing kecil, maka pantas rasanya jika kucing dinobatkan menjadi salah satu hewan yang dimuliakan didalam islam.

Berbicara perihal kucing cukup banyak alasan kenapa kucing menjadi salah satu hewan yang dimuliakan dalam islam, berikut penjelasan selengkapnya.

KISAH-KISAH TENTANG KUCING

Dalam bahasa Arab kucing dinamakan "Qith, Sanur, Dhayyun, Hirr, Bas" (dialek penduduk syam), Masy (dialek penduduk magrib), Qathawah (dialek semenanjung Arab).

Dikisahkan, Rasulullah S.A.W memiliki kucing bernama Muezza (Read: Mu’izzah). Rasulullah sangat menyayangi Muezza lantaran ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah mengikuti lantunan suara adzan’.

Bahkan ada satu kejadian yang memperlihatkan kasih sayang Rasulullah terhadap hewan peliharaannya ini, yakni ketika Rasulullah akan ngambil jubahnya, akan tetapi Muezza terlihat tertidur di atas jubah Rasulullah, melihat hal itu Rasulullah tidak lantas membangunkannya, akan tetapi beliau memotong belahan lengan yang ditiduri Muezza dari jubahnya supaya tidak mengganggu kucingnya yang sedang tertidur pulas itu.

Selain itu terdapat kisah seorang wanita yang masuk neraka sebab mendzalimi seekor kucing. dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, lebih parahnya wanita tersebut tidak melepaskan kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi Muhammad S.A.W pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

Artinya:
"Seorang wanita disiksa Allah pada hari kiamat lantaran dia mengurung seekor kucing sehingga kucing itu mati. Karena itu Allah Subhanahu Wa Ta'ala memasukkannya ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi makan dan minum dan tidak pula dilepaskannya supaya ia dapat menangkap serangga-serangga bumi." (H.R. Muslim).

Hadits diatas memberikan penjelasan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang kepada semua makhluk di muka bumi ini, tidak terkecuali kepada seekor kucing. Disebutkan bahwa Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan diharamkannya membunuh kucing dan diharamkan mengurungnya tanpa diberi makanan dan minuman. Adapun dimasukkannya dia ke dalam neraka adalah karena perbuatan itu. Zahir hadits menunjukkan bahwa perempuan tersebut beragama Islam, meskipun demikian dia masuk neraka gara-gara menyiksa seekor kucing.” (lihat Syarh Muslim [7/347]).

Lebih lanjut Imam Nawawi menegaskan, “Maksiat ini bukanlah dosa kecil, bahkan dia bisa berubah menjadi dosa besar apabila dilakukan secara terus-menerus.” (lihat Syarh Muslim [7/348]).

Mengomentari hadits ini Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Didalamnya terkandung dorongan untuk menaruh kasih sayang kepada segenap makhluk, tercakup di dalamnya orang beriman dan orang kafir, serta binatang yang dimilikinya maupun binatang yang bukan miliknya.” (lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad 1/490).

Sebagian Tabi’in menyebutkan, “Barangsiapa yang banyak dosanya hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!” (lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad 1/500]).

Kisah lain yang berhubungan dengan seekor kucing yakni cincin khalifah pada abad ke 13 diukir berbentuk wajah kucing, tidak hanya itu saja, ukiran dengan wajah kucing juga terdapat pada patung-patung, porselen, hingga mata uang pada masa itu. Tidak terbatas pada seni ukir, dalam dunia sastra, kucing juga diabadikan dalam syair-syair para pujangga lantaran jasa kucing yang telah menjaga buku-buku karangan mereka dari serangan tikus dan serangga-serangga lain.

Disebutkan Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti Mamluk, Baybars Al-Zahir, seorang Sultan yang juga pahlawan garis depan dalam Perang Salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan di dalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara Islam. Hingga saat ini, mulai dari Damaskus, Istanbul, hingga Kairo, kita masih bisa menjumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.

KEISTIMEWAAN DAN KEUTAMAAN KUCING.

1. Anti Bakteri.
Pada lapisan kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri, uniknya otot yang terdapat pada  kucing dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia. 

2. Lidah Kucing Pembersih Paling Efektif.
Pada permukaan lidah kucing terdapat berbagai benjolan yang mengerucut berbentuk seperti gergaji. Bukan tanpa sebab, permukaan lidah dengan bentuk sepperti ini sangat efektif untuk membersihkan kulit dari kotoran dan bakteri yang hinggap pada tubuh kucing. Selain itu lidah dengan permukaan seperti ini mempermudah kucing pada saat ia minum, sehingga pada saat ia minum tidak ada air yang menetes yang jatuh dari lidahnya tersebut. Permukaan lidah yang kasar menjadikan lidah kucing sebagai alat pembersih yang cukup canggih, pasalnya lidah tersebut juga berfungsi untuk membuang bulu-bulu yang mati dan bulu yang masih tersisa di badannya.

3. Hewan Bersih.
Sebuah studi penelitian menunjukkan bahwa kucing termasuk hewan terbersih. Penelitian ini dilakukan terhadap kucing dengan  berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada semua bagian tersebut diambil sampel dengan mengusap masing-masing bagian tersebut. Sampel lain juga diambil berupa cairan khusus pada dinding dalam mulut dan lidah kucing-kucing tersebut. Selain itu untuk menguji kebersihan hewan ini, peneliti juga menanamkan kuman pada bagian-bagian tertentu.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa sampel yang diambil dari kulit luar tenyata tidak berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang. Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80 persen jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut. Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil hampir tidak berkuman. Kuman yang ditemukan saat proses penelitian merupakan kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus dengan Jumlah kurang dari 50 ribu pertumbuhan.

4. Liurnya Membersihkan.
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba, liurnya bersih dan membersihkan. Hal ini dipertegas oleh Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah yang menyebutkan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang bemama lysozyme yang berfungsi sebagai pembersih bakteri yang melekat pada kucing.

Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di Rumah Sakit Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing, jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit. Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak adalah terdapat pada anjing, manusia memiliki kuman ¼ dari kuman anjing, dan kucing memiliki kuman 1/2 dari kuman yang ada pada manusia.

Predikat kucing sebagai hewan terbersih rasanya tidak berlebihan, mengingat kucing tidak suka air. Seperti yang kita tahu bahwa air merupakan salah satu media  yang sangat subur bagi pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air (ex:lumpur, genangan hujan, dll). Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya, Ia tidak banyak berjemur dan tidak menghindari adanya genangan air, tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya.

5. Sebagai Terapi Mental.
Kucing terkenal sebagai hewan peliharaan yang setia dan menghilangkan rasa kesepian. Sebagian  orang yang memelihara kucing seringkali mengajak kucingnya mengobrol dan bermain, hal inilah yang dapat menjadi obat terapi untuk mental atau emosi yang sedang tidak stabil. Dengkuran kucing dengan frekuensi  50Hz dinilai cukup baik bagi kesehatan, selain itu mengelus kucing juga mampu menurunkan tingkat stress seseorang.

KUCING ITU SUCI.

Diriwayatkan dari Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi S.A.W pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.

Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Yaa Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya. Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.

Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing.” (H.R AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni).

Hadis ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang yang mana badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, liurnya bersih dan membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia.

Diriwayatkan dalam Hadist bahwa Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu Abu Qatadah menuangkan air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas Abu Qatadah menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum.

Kabsyah berkata, “Perhatikanlah.” Abu Qatadah berkata, “Apakah kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW prnh bersabda, 

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

Artinya:
"itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita.” (H.R. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ahmad, Malik. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 173 mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Dari hadits diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:


A. Kucing adalah binatang yang suci, namun haram untuk dimakan. 
Ada suatu kaedah: “Segala hewan yang haram dimakan termasuk hewan yang najis.” Namun, dalam penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, ada pula hewan yang tidak dikatakan najis yang menyelisihi kaedah tadi. Kucing memang pada asalnya najis karena kucing haram untuk dimakan. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengecualian untuk kucing, yakni karena kucing adalah hewan yang biasa kita temui di sekitar kita, maka ia haram untuk dimakan namun ia suci.

B.Najis pada bagian tertentu. 
Mungkin ini terlihat bertolak belakang dengan penjelasan bahwa kucing adalah hewan suci. Kucing memang hewan suci namun tetap pada batasan-batasan tertentu, seperti pada air liur, segala sesuatu yang keluar dari hidungnya, keringat, bekas minum, dan bekas makannya. Namun keadaan suci tidak berlaku jika hal tersebut yang memang pada dasarnya bersifat najis seperti kotoran, air kencing, serta darah kucing. Alasan keharaman ini didasarkan karena  segala sesuatu yang berasal dari bagian dalam tubuh dari hewan yang  haram dimakan dihukumi najis, seperti kencing, kotoran, darah, muntahan dan semacamnya.

C. Air/makanan tetap suci meskipun bekas kucing.
Jika kucing minum dari suatu wadah yang berisi air (sebagaimana diceritakan sebab Abu Qotadah menyebutkan hadits ini), maka air tadi tidak dihukumi najis, baik kucing tersebut meminumnya dalam jumlah sedikit ataupun banyak. Ini karena air yang ada di bejana tadi hanya sedikit yang digunakan untuk berwudhu.

D. Kucing mutlak suci .
Artinya tidak ada bedanya kucing tersebut apakah telah memakan sesuatu najis atau tidak, dalam jumlah sedikit atau banyak, kucing tetap suci. Hal ini didasarkan pada kemutlaqan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi. Nabi ucapkan dalam bentuk umum: “Kucing tidaklah najis”.  Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup baik kucing tadi makan sesuatu yang najis beberapa saat tadi atau sudah dalam waktu yang lama. Jadi tidak benar jika seseorang melihat kucing memakan tikus lantas air itu dihukumi menjadi najis. 

F. Al-Masyaqqah Tajliibu At-Taisir.
Hadits tersebut menegaskan dari sebuah kaidah Fiqhiyyah, yakni: “Al-Masyaqqoh Tajlibut Taisir (Karena adanya kesulitan, datanglah kemudahan)”. Allah S.W.T telah memberikan keringanan dan kemudahan dengan adanya kucing, pasalnya kucing termasuk hewan yang sering kita temui lebih-lebih di sekitar rumah kita, bayangkan saja jika kucing dihukumi najis tentu ini akan mempersulit kita karena ia sering meminum dan memakan makanan yang ada di sekitar kita.

G. Salah satu manifestasi kasih sayang Allah S.W.T terhadap makhluknya.
Kasih sayang Allah S.W.T sangatlah begitu luas, salah satu bentuk kasih sayang Allah S.W.T adalah diciptakannya makhluk bernama kucing agar manusia senantiasa menebarkan kasih sayangnya terhadap sesama makhluk Allah S.W.T, selain itu Allah S.W.T juga memberikan keringanan untuk menyayangi seekor kucing yang pada kodratnya adalah makhluk yang suci.

H. Menebarkan sunnah Rasulullah.
Dari hadits tersebut Abu Qatadah mencoba untuk menjelaskan suatu perkara yang belum diketahui oleh kabsyah yang mana Kabsyah melihat mertuanya yakni Abi Qatadah hingga keheranan, sampai kemudian Abi Qatadah menjelaskan kepada Kabsyah bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh Rasulullah, sekaligus sebagai teladan bahwa kasih sayang Rasulullah tidak hanya terbatas pada manusia, akan tetapi juga terhadap semua makhluk ciptaan Allah S.W.T.

MANFAAT MEMELIHARA KUCING.

1. Mendidik sifat empati.
Ketika kita memelihara seekor kucing, maka secara tidak langsung hal tersebut akan melatih rasa empati kita. pada dasarnya kucing adalah hewan yang memiliki keterikatan dengan pemiliknya karena pemiliknya akan berusaha untuk memahami dan mengerti keinginan kucingnya. Maka saat sang pemilik mengerti apa keinginan kucingnya maka rasa empati yang timbul akan meningkat, dan rasa keterikatan antara kucing dan pemiliknya juga akan meningkat.

2. Salah satu bentuk Sedekah.
Islam adalah agama yang sempurna, syariat menganjurkan umat Muslim untuk gemar melakukan sedekah, tidak terkecuali terhadap hewan, lebih-lebih terhadap kucing yang notabene merupakan salah satu hewan kesayangan Rasulullah S.A.W. Sedekah tersebut akan bermanfaat untuk menolong kita kelak saat kita sudah meniggalkan alam dunia ini. Rasulullah S.A.W. bersabda:

“Pada setiap sedekah terhadap makhluk yang memiliki hati (jantung) yang basah (hidup) akan mendapatkan pahala kebaikan. Seorang musllim yang menanam tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang kemudian dimakan oleh burung-burung, manusia, atau binatang, maka baginya sebagai sedekah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

3. Mengajarkan untuk saling menyayangi.
Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan untuk saling mengasihi dan menyayangi terhadap semuan makhluk ciptaan Allah. Kehadiran kucing merupakan salah satu isyarat kecil dari Allah untuk menyayangi dan mengasihinya, bisa jadi kehadiran kucing yang kita sayangi mampu menjadi penolong kita kelak di akhirat.

4. Menjadikan Rasulullah SAW. sebagai teladan
Kucing merupakan salah satu hewan kesayangan Rasulullah, beliau menyayangi serta mengasihi hewan yang satu ini. Maka dengan kita mengasihi dan menyayangi seekor kucing sudah barang tentu hal tersebut menjadi sunnah bagi kita karena hal tersebut telah diajarkan oleh Rasulullah. 

0 comments:

Post a Comment