March 22, 2018


Spirit Muslim. Seperti yang kita tahu bersama, Umar bin Khattab r.a merupakan salah satu Khalifah pengganti Rasulullah S.A.W yang kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau adalah salah seorang Khalifah yang mampu melebarkan sayap pemerintahan Islam di beberapa daerah di timur tengah bahkan hingga gurun sahara di Afrika. Berikut kisah selengkapnya mengenai perluasan wilayah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab r.a.

EKSPANSI WILAYAH SYAM

Setelah peperangan Yarmuk terjadi, Abu Ubaidah bersama dengan para pasukannya berangkat menuju Damaskus. Adapun Khalid bin Walid maju memimpin pasukan yang dibawa Abu Ubaidah tersebut. Khalid beserta pasukan Islam mengepung daerah tersebut selama kurang lebih 70 malam.

Hingga pada suatu malam, Khalid mendengar sebuah keramaian yang terjadi di Damaskus. Tak disangka Khalid menjumpai para pasukan yang menjaga Damaskus tersebut sedang melangsungkan pesta, terlihat mereka semua dalam keadaan mabuk. Dalam keadaan seperti itu, mereka sudah tidak memperdulikan apapun lagi, bahkan mereka sudah tidak sadar bahwa mereka telah meninggalkan benteng pertahanan mereka.

Hal ini tentu sangat mengutungkan pasukan Islam untuk menduduki wilayah tersebut, mengingat semua pasukan Rum berada dibawah pengaruh alkohol hingga sangat mudah untuk mengalahkan pasukan Rum tersebut.

Mengetahui keadaan semacam itu, Khalid lantas maju menuju perbatasan kota. Awalnya Khalid menuju perbatasan kota hanya ditemani oleh beberapa pasukan Islam yang mana pasukan tersebut dipilih karena memiliki badan yang perkasa. Setelah sampai disana Khalid beserta pasukan terpilih itu mendobrak masuk benteng pertahanan Damaskus sembari mengumandangkan takbir. Melihat Khalid dan sebagian pasukan Muslim berhasil mendobrak masuk pertahanan Damaskus, selanjutnya pasukan muslim yang lain pun berbondong-bondong membantu menyerbu daerah tersebut.

Akhirnya para pasukan Rum di Damaskus tersebut tersadar dari mabuknya sehingga mereka menyerah dan meminta perdamaian dengan pasukan Islam.

Abu Ubaidah tiba di Damaskus dan akhirnya mengabulkan permintaan pasukan Rum tersebut dengan menulis perjanjian akad damai antar kedua belah pihak.  Abu Ubaidah pun kemudian memberikan kabar kepada Umar bin Khattab atas kemenangan tersebut. Mengetahui hal itu, betapa gembiranya sayyidina Umar atas keberhasilan pasukan Islam melakukan ekspansi di daerah Damaskus.

Setelah berhasil menaklukkan Damaskus, Abu Ubaidah, Khalid bin Walid, serta para pasukan Islam kembali melanjutkan perjalanan menuju Syam untuk memperluas daerah kekuasaan Islam hingga Anthakiyyah.

EKSPANSI BAITUL MAQDIS

Jauh sebelum berangkat menuju Damaskus, Abu Ubaidah sebelumnya telah menitipkan daerah Palestina dan Urdu dibawah kekuasaan Amr Bin Ash untuk melumpuhkan daerah tersebut.

Pada saat peperangan berlangsung, Amr bin Ash tidak segan-segan untuk mengepung daerah Urdu sehingga membuat pasukan Rum berlari menuju Baitul Maqdis, Amr bin Ash tidak tinggal diam begitu saja, beliau bersama pasukan mengejar pasukan Rum yang berlari tersebut.

Namun lagi-lagi naas bagi pasukan Rum

Mengetahui bahwa mereka telah terkepung dan tidak dapat berkutik akhirnya mereka meminta perdamaian kepada Amr bin Ash.

Amr bin Ash mengabulkan permohonan tersebut, kemudian beliau mengirimkan surat kepada Umar bin Khattab bahwa ia telah berhasil mengalahkan pasukan Rum tersebut secara damai. Kemudian Amr Bin Ash melakukan perjalanan dari Madinah dan menitipkan kepemimpinan Baitul Maqdis dibawah kekuasaan Ali bin Abi Thalib.

Setelah Umar bin Khattab membaca surat dari Amr bin Ash, beliau segera bergegas menuju Baitul Maqdis untuk melakukan kesepakatan antara umat Islam dan penduduk Baitul Maqdis. Saat Umar bin Khattab tiba di Baitul Maqdis, beliau pun menawarkan perdamaian kepada mereka dengan menuliskan sebuah perjanjian kepada penduduk Baitul Maqdis untuk membayar pajak terhadap umat Muslim serta mengamankan semua gereja dan pendeta yang ada di Baitul Maqdis. Kejadian tersebut berlangsung pada tahun 15 H.

EKSPANSI MESIR, ISKANDARIYYAH, DAN SHAHRA'

Saat Umar berada di Syam, Amr Bin Ash meminta izin untuk melakukan ekspansi menuju Mesir. Umar mengizinkan Amr bin Ash dan mengirimnya bersama pasukan Islam yang berjumlah 12.000 pasukan.

Pada saat Amr bin Ash tiba di Mesir, beliau mengajak para penduduk Mesir untuk memilih salah satu dari pilihan berikut, yakni antara masuk Islam atau membayar pajak. Penduduk Mesir pun menolak semua pilihan yang ditawarkan Amr bin Ash tersebut. Hingga akhirnya Amr bin Ash melakukan pengepungan dan mengobarkan api peperangan bersama para pasukan Islam terhadap penduduk Mesir. Setelah peperangan terjadi, kemenangan berada di pihak pasukan Islam, penduduk Mesir akhirnya menyerah dengan meminta perdamaian serta membayar pajak. Amr bin Ash menerima permohonan damai tersebut dan menjadikan Muqoukas sebagai raja sekaligus kepala negara Mesir saat itu.

Amr bin Ash kembali melanjutkan perjalanan menuju Iskandariyyah untuk memperluas ekspansi kekuasaan Islam. Setibanya disana Amr bin Ash mengajak para penduduk Iskandariyyah untuk memeluk Islam.

Mereka pun menolaknya mentah-mentah. Geram dengan penolakan tersebut, Amr bin Ash berikut pasukan Islam akhirnya memutuskan untuk memerangi mereka. Peperangan berlangsung hingga penduduk Iskandariyyah menyerah atas perlawanan tersebut dan kemenangan pun diraih pasukan Muslim.

Ekspansi dilakukan kembali menuju daerah Shahra' (sekarang: Gurun Sahara/Afrika). Amr bin Ash kembali maju bersama para pasukannya hingga ia tiba di Barqah dan berhasil menaklukkan daerah tersebut , tak ketinggalan juga daerah Torobulus bagian barat juga berhasil di kuasai pasukan Muslim. Amr bin Ash juga berniat untuk menaklukkan tunisia dan jazair untuk menyebarkan Islam di Afrika, namun Umar bin Khattab mencegah Amr bin Ash untuk melanjutkan ekspansi dan memerintahkannya untuk berdiam terlebih dahulu di perbatasan Torobuls.

PENYEMPURNAAN EKSPANSI IRAK (PERANG JASR/JEMBATAN. Bag.1).
Sebelumnya, sebagian wilayah Irak telah berhasil dikuasai pasukan Islam. Untuk menyempurnakan penaklukkan tersebut, Umar bin Khattab mempersiapkan pasukan Islam dibawah pimpinan Abu Ubaid bin Mas'ud Ats-Tsaqifi. Beliau pun mengutus Abu Ubaid beserta pasukan yang telah dipersiapkan untuk melakukan perjalanan menuju Irak guna membantu Mutsanna bin Haritsah untuk menguasai Irak sepenuhnya.

Setibanya di Rustam, pasukan Persi (Iran) tengah mempersiapkan diri untuk berperang melawan pasukan Muslim yang dipimpin oleh Abu Ubaid bin Mas'ud. Akhirnya kedua pasukan ini saling berhadapan satu sama lain yang dipisahkan oleh sungai Furat.

Abu Ubaid kemudian menemukan sebuah jembatan yang mana jembatan tersebut biasa digunakan oleh penduduk Hiyarat untuk menyeberangi sungai tersebut. Abu Ubaid pun memutuskan untuk melewati jembatan tersebut guna memerangi pasukan Persi (Iran) tersebut.

Sebagian pasukan Muslim mencegah keputusan Abu Ubaid tersebut namun Abu Ubaid tidak menyetujui pendapat tersebut hingga akhirnya Abu Ubaid beserta pasukan Islam melewati jembatan tersebut dan peperangan pun terjadi.

Namun diluar dugaan.

Keputusan Abu Ubaid tersebut membuatnya terbunuh dalam peperangan tersebut sehingga pasukan Muslim tidak berdaya melawan pasukan Persi (Iran) tersebut dan akhirnya pasukan Muslim bersepakat untuk mundur dari pertempuran tersebut. Sebagian pasukan Muslim berupaya untuk memutus jembatan tersebut sambil berteriak kepada sebagian pasukan Muslim lainnya: 


أُعْبُرُوْا الْجِسْرَ وَ لاَ تُفَرِّقُوْا اَنْفُسَكُمْ وَ بَقِيَ حَتَّى عَبَرُوْا

Artinya:
"Lewatlah kalian semua (pasukan Muslim) pada jembatan tersebut dan jangan pernah sekali-sekali kalian memisahkan diri dan tetaplah bersama hingga semua pasukan Muslim telah melewati jembatan tersebut".

Dalam peperangan ini, pasukan muslim yang terbunuh kurang lebih sebanyak 4.000 pasukan, dan dari pasukan Persi (Iran) sebanyak 6.000 pasukan meninggal dunia.

Penyebab dari kekalahan pasukan muslim ini adalah karena Abu Ubaid berbeda pendapat dengan sebagian pasukan Muslim yang mencegah Abu Ubaid untuk melewati jembatan tersebut. Dan sebagian pasukan Muslim terburu-buru untuk memutus jembatan tersebut hingga banyak korban berjatuhan dari pihak pasukan Muslim dan peperangan pun tidak dapat dilanjutkan.

PERANG JASR (JEMBATAN) Bag. 2
Pada saat Umar bin Khattab mengetahui pasukan Muslim yang terpecah dalam perang Jasr yang pertama, tidak menjadikan Umar bin Khattab putus asa, beliau justru kembali menyusun kekuatan dengan mempersiapkan pasukan Muslim dibawah pimpinan Mutsanna bin Haritsah.

Pasukan Muslim pun tiba di medan pertempuran dan pasukan Persi sudah bersiap menyambut kedatangan pasukan Muslim hingga kedua pasukan ini kembali berhadapan kembali di sebuah tempat yang dinamakan 'Udzaib, dan lagi-lagi diatas sebuah jembatan.

Mutsanna bin Haritsah kemudian mengatur pasukan Islam sembari memberikan semangat dan nasihat yang dapat digunakan saat peperangan berlangsung. Mutsanna kemudian meminta pasukan Persi untuk melewati jembatan tersebut terlebh dahulu.

Pasukan Persi pun akhirnya melewati jembatan tersebut dan peperangan kembali terjadi. Peperangan terjadi dengan sengitnya, Mutsanna pun tidak ketinggalan juga melakukan penyerangan terhadap pasukan Persi.

Hingga sampai pada satu waktu dimana Mutsanna bersama dengan pasukan Muslim memutus jembatan tersebut sehingga menjadikan banyak korban berjatuhan dari pihak pasukan Persi.

Mutsanna kemudian mengutus pasukan Muslim untuk segera menuju Irak dan menaklukkan negara tersebut.

KELOMPOK UMUM
Pada saat pasukan Persi mengetahui berbagai kemenangan pasukan Muslim dan telah menguasai atas apa yang dimiliki kaum Persi, pasukan Persi akhirnya kembali menyusun kekuatan dengan mempersiapkan pasukannya guna untuk mengembalikan apa saja yang telah dirampas dari negara mereka (Persi).

Mengetahui rencana tersebut, Mutsanna kemudian mengirimkan sepucuk surat kepada Umar bin Khattab bermaksud untuk mencari bala bantuan.

Dengan segera Umar bin Khattab kemudian mempersiapkan pasukannya sebanyak 4000 pasukan dengan memilih Sa'ad bin Abi Waqqash untuk memimpin pasukan tersebut.

Sa'ad pun akhirnya berangkat bersama pasukan tersebut dan Umar bin Khattab menyusul mengikuti Sa'ad dibelakangnya bersama sebagian pasukan yang lain.

Ditengah perjalanan, Sa'ad menemukan jasad Mutsanna bin Haritsah yang telah meninggal dunia akibat perang Jasr yang kedua. Pada jasad Mutsanna bin Haritsah ditemukan bekas luka akibat peperangan tersebut.

Sa'ad akhirnya mengumpulkan sisa pasukan Mutsanna dan berangkat bersama pasukan Sa'ad menuju Qadisiyyah untuk menaklukkan daerah tersebut.

PENAKLUKAN QADISIYYAH

Penaklukan yang terjadi pada tahu 14 H bermula sewaktu Sa'ad bin Abi Waqqash mengutus seorang utusan untuk menemui raja Persi bermaksud mengajaknya untuk memeluk Islam. Ini merupakan salah satu strategi jitu dengan mengajak sang raja masuk Islam, jika raja Persi masuk Islam maka rakyatnya pun juga akan mengikutinya. Raja pun kemudian diberi 2 pilihan oleh Sa'ad antara masuk Islam secara damai atau membayar pajak terhadap umat Muslim jika enggan masuk Islam.

Mendengar hal ini Raja pun marah besar dan memerintahkan panglima Rustum untuk memerangi kaum Muslimin. Rustum kemudian berangkat bersama dengan pasukannya hingga pasukannya tersebut berhadapan dengan pasukan Muslim diantara sungai Furat.

Dalam peperangan tersebut Rustum mempersiapkan pasukan sebanyak 20.000 pasukan yang telah dilengkapi dengan pasukan gajah sebanyak 30 gajah. Peperangan pun tak terelakkan dan terjadi selama 3 malam. Kerja keras selama 3 malam tersebut rupanya membuahkan hasil. Pasukan Muslim berhasil memukul mundur pasukan Persi. Bahkan Rustum juga berhasil dibunuh dalam peperangan tersebut. Banyak korban berjatuhan dari pihak Persi, sebagian dari mereka ada yang terbunuh dalam medan pertempuran, sebagian lagi ada yang tenggelam terbawa arus sungai Furat.

PENAKLUKAN MADAIN DI PERSI (IRAN)

Penaklukan Qadisiyyah membuat Sa'ad bin Abi Waqqash dan Umar bin Khattab merasa bergembira. Setelah peperangan tersebut, Sa'ad menunggu perintah dari Umar bin Khattab untuk menaklukan kota Madain di Persi. Beliau menunggu perintah tersebut selama 2 bulan.

2 bulan telah berlalu, 

Akhirnya Sa'ad menerima perintah untuk menaklukan kota tersebut. Dengan sigap Sa'ad beserta pasukan Islam mengepung daerah tersebut selama kurang lebih 2 bulan. Namun sangat disayangkan, pengepungan tersebut tidak sampai membuat raja Persi yakni Yazda Jirda terbunuh, ia berhasil melarikan diri dari pertempuran tersebut dan kemenangan pun tak pelak berada di tangan pasukan Muslim.

Setelah pasukan Muslim berhasil menduduki daerah Madain, Sa'ad akhirnya menempati sebuah bangunan berwarna putih yang disebut "Iwan Kisra" (Gedung pemerintahan) yang sebelumnya menjadi gedung pemerintahan raja Persi. Kemudian Sa'ad keluar dari bangunan tersebut dengan mengucapkan:


كَمْ تَرَكُوْا مِنْ جَنَّاتٍ وَ عُيُوْنٍ وَ زُرُوْعٍ وَ مَقَامٍ كَرِيْمٍ وِ نِعْمَةٍ كَانُوْا فِيْهَا فَاكِهِيْنَ. كَذَالِكَ وَ أَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا اَخَرِيْنَ. فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَ الْأَرْضُ وَ مَا كَانُوْا مُنْظَرِيْنَ

Artinya:
"Berapa banyak orang-orang yang telah meninggalkan kebun-kebun mereka, sumber mata air mereka, tanaman yang mereka tinggalkan, tempat yang mulia, dan kenikmatan yang telah mereka nikmati. Seperti halnya mereka meninggalkan semuanya itu, kami memberikan sebuah warisan terhadap sebuah kaum yang lainnya. Maka langit dan bumi pun tidak akan menangis dan kaum tersebut tidak akan diperlihatkan semua".

Kemudian Sa'ad menjadikan Madain sebagai markas bagi pasukan Muslim dan menjadikan Iwan Kisra sebagai Masjid.

Setelah penaklukan tersebut, Sa'ad mengirim sebuah surat kepada Umar bin Khattab yang berisi bahwa Madain telah berhasil dikuasai pasukan Muslim. Umar pun kemudian memberikan kekuasaan terhadap Sa'ad untuk memerintah daerah tersebut.

Kepemimpinan telah dipasrahkan kepada Sa'ad dan ia segera mengatur berbagai macam administrasi yang diperlukan di Madain, beliau juga mengatur pasukan untuk mengamankan daerah tersebut. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 16 H.

Di negara itu juga Sa'ad dibawah perintah Umar bin Khattab membangun sebuah kota yang dikenal dengan nama Kufah dan Basrah. Sa'ad juga menjadikan dua kota tersebut sebagai markas dari pasukan-pasukan Muslim. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 18 H.

AKHIR PEMERINTAHAN RAJA PERSI (IRAN)
Pada suatu ketika, datanglah raja Persi bersama pasukannya yakni Yazda Jirda kepada Ahnaf bin Qais bermaksud merebut kembali kerajaan yang telah berhasil dikuasai umat Muslim. Ahnaf pun memberitahukan hal tersebut kepada sayyidina Umar r.a. untuk mengusir mereka dari tanah Persi.

Kemudian Ahnaf berbicara kepada sayyidina Umar r.a : "Sesungguhnya para penduduk Persi tidak akan pernah berhenti memusuhi kita selama raja Persi masih memerintahkan penduduknya untuk memusuhi kita, untuk itu maka haruslah bagi kita untuk mengusir raja tersebut dari negara Persi hingga kita menggulingkan pemerintahan raja Persi dan memutus harapan penduduk Persi untuk bergantung kepada raja Persi". Sayyidina Umar menjawab: "Benarlah apa yang kau katakan".

Kemudian sayyidina Umar mempersiapkan para pasukannya untuk mengusir raja dari negara Persi dan menghapus tipu daya sang raja.

Dari sekian pasukan yang dikerahkan, Ahnaf bin Qais turut menjadi salah satu pemimpin pasukan yang tersebut dan berangkat bersama menuju tanah Khurasan untuk berperang melawan raja Persi yakni Yazda Jirda.

Pada saat raja Persi mengetahui pasukan Muslim sudah dekat, sang raja pun berniat untuk melarikan diri dengan membawa hartanya. Namun penduduk Khurasan mencegah sang raja untuk melarikan diri dan mereka berkata kepada raja Persi: "Wahai raja, berdamailah kamu dengan umat Muslim, sesungguhnya umat Muslim adalah ahli agama".

Namun sayang sang raja tidak mendengarkan nasihat penduduknya tersebut dan bersikukuh untuk melarikan diri menuju tanah Farghonah dibawah perlindungan raja Turki.

Akhirnya penduduk Khurasan pun memilih untuk berdamai dengan Ahnaf bin Qais beserta umat Muslim lain dan penduduk Khurasan memberikan semua harta raja Persi yang tidak sempat dibawanya kabur.

0 comments:

Post a Comment