March 29, 2018

Spirit Muslim. Bagi sebagian kaum laki-laki, bulu janggut/jenggot dianggap mampu mendongkrak ketampanan serta kewibawaan seseorang, bahkan seorang laki-laki yang maskulin pun identik dengan bulu janggut/jenggot serta jambangnya yang terawat. Dalam Islam sendiri memelihara jenggot merupakan sebuah sunnah bagi seorang laki-laki. Kesunnahan ini bukanlah tanpa alasan, karena pada jenggot sendiri memang terdapat beberapa manfaat yang didapat saat seseorang memeliharanya. Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

Artinya:
“Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” (HR. Muslim no. 627).

Salah satu manfaat medis yang didapat seseorang ketika memelihara jeggot adalah untuk menangkal beberapa penyakit berbahaya. Ini dikarenakan didalam jenggot seorang pria terdapat sebuah antibakteri yang bermanfaat untuk menangkal beberapa penyakit tertentu.

DRUG RESISTANCE

Sebuah team dari University College London yang dipimpin oleh Dr. Adam Rogers mengemukakan bahwa dengan memelihara jenggot merupakan kunci untuk menemukan antibiotik baru. Saat ini, dunia sedang menghadapi banyak kasus "Drug Resistance" dimana beberapa obat kini menjadi tidak mempan untuk menghadapi penyakit tertentu, dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa penyakit tersebut kebal terhadap sebuah obat termasuk antibiotik/antibodi.

Sebuah fakta menyebutkan bahwa setiap tahunnya, lebih dari 2 juta penduduk Amerika Serikat mengalami drug resistance, dan lebih dari 23 ribu diantaranya meninggal. Pada tahun 2014, WHO mencatat bahwa kini dunia menghadapi “pasca-antibiotik” dimana infeksi biasa yang dapat ditanggulangi dengan antibiotik telah berevolusi menjadi penyakit yang lebih berbahaya yang dapat mengancam nyawa seseorang.

Begitu lambatnya perkembangan antibiotik dunia, sampai-sampai dari 89 obat baru yang disetujui oleh WHO pada 2002, tidak ada satupun yang tergolong antibiotik. Kurangnya antibiotik baru menunjukkan bukti bahwa selama bertahun-tahun kita memerangi infeksi yang disebabkan oleh bakteri dengan obat yang sama, dan hal ini memberikan waktu bagi bakteri untuk berevolusi dan tahan terhadap obat yang ada hingga kini.

MELAWAN DRUG RESISTANCE DENGAN JENGGOT

Salah satu solusi untuk mengurangi dampak drug resistance tersebut adalah dengan memelihara jenggot bagi seorang pria. Jenggot dianggap mampu melawan beberapa penyakit karena didalamnya terdapat unsur yang disebut sebagai Facial Hair. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Journal of Hospital Infection pada 2014 menyebutkan bahwa dari 408 orang pekerja medis pria yang menjadi subyek penelitian dengan menyeka wajah mereka, baik yang ditumbuhi rambut wajah maupun yang bersih dari rambut-rambut pada wajah. Hasil penelitian menyebutkan bahwa mereka yang berjenggot cenderung tidak terhinggapi oleh Methicilin Resistant Staph Aureus (MRSA) pada pipi mereka, dibandingkan rekan-rekan mereka yang masih membiarkan rambut-rambut atau bulu tumbuh pada wajahnya. Seseorang yang tidak berjenggot memiliki resiko 10 kali lipat terpapar koloni MRSA ini. 

Berdasarkan keterangan dari laman kantor Centers for Desease Control and Prevention yang berbasis di Atlanta, Amerika Serikat, Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus atau MRSA merupakan sebuah spesies bakteri yang tahan terhadap sebagian besar antibiotik dan salah satu penyebab utama infeksi-infeksi yang umum terjadi saat ini. Bahkan laman ini menyebutkan MRSA juga berpotensi menimbulkan infeksi jalan darah, radang paru-paru dan infeksi pada saat dilakukan pembedahan.

Para peneliti memperkirakan, infeksi tadi diakibatkan oleh abrasi mikro yang terjadi saat bercukur. Situasi ini memungkinkan terjadinya kolonisasi dan penyebaran bakteri lewat lubang mikro pada kulit akibat abrasi tadi. Pada hasil studi yang dipublikasikan di Jurnal Hospital Infection tersebut, tertulis bahwa secara umum kolonisasi (bakteri) sama terjadi baik pada pekerja dengan bulu pada wajah maupun pada pria dengan wajah yang tercukur bersih. Namun demikian spesies bakteri tampak lebih banyak terdapat pada wajah pria tanpa bulu atau jenggot.

Dr. Roberts melakukan penelitiannya sebagai bagian dari acara TV BBC berjudul Trust Me, I’m a Doctor (Percayalah, Saya Dokternya). Bersama timnya, Dr. Roberts meneliti 20 pria berjenggot di jalanan kota London dengan tes usapan pada wajah. Dari sample tersebut, para peneliti ini berhasil mengkulturkan 100 rangkaian bakteri selama 4 minggu, dan sebagian besar adalah spesies yang tumbuh di kulit wajah.

Kemudian Dr. Roberts mengisolasi mikroba tadi dan menguji kemampuannya atas bakteri E.Coli yang dikenal bisa menyebabkan infeksi saluran kencing. Detilnya, tim tersebut menemukan bahwa terdapat bakteri  yang tumbuh dari sample janggut bernama Staphylococcus Epidermis yang secara efektif mampu menyerang dan membunuh sebuah bentuk E.coli yang tahan terhadap obat. Para peneliti menyimpulkan, bahwa jika sebagian bakteri berevolusi menjadi tahan terhadap obat, maka bakteri yang lain berevolusi untuk menghasilkan racun yang dapat membunuh spesies yang tahan terhadap obat.

Penemuan ini tentunya memberikan rasa tenang bagi para pria berjenggot terkait higienitas serta kesehatan tubuhnya. Namun, untuk membuat antibiotik khusus yang berasal dari jenggot sepertinya masih belum dapat terealisasi saat ini, masalahnya untuk membuat sebuah antibiotik baru diperlukan proses yang amat panjang dan kompleks, selain itu diperlukan biaya yang cukup mahal serta waktu yang cukup lama untuk menghasilkan antibiotik baru tersebut.

Menurut Dr. Brad Spellburg, asisten professor kedokteran di UCLA dikutip laman medicalnewstoday.com menyebutkan bahwa hal tersebut tidak menarik secara ekonomis bagi perusahaan farmasi.

“Antibiotik adalah obat untuk jangka pendek, dan perusahaan farmasi tahu bahwa mereka menghasilkan lebih banyak uang dengan menghasilkan obat yang harus anda minum setiap hari sampai akhir hayat anda", ujar Dr. Spellberg dalam sebuah newsletter yang diterbitkan oleh Alliance for the Prudent Use of Antibiotiks (APUA).

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa jika antibiotik baru yang berasal dari jenggot yang notabene mampu menghasilkan antibiotik yang cukup kuat berhasil diciptakan maka perusahaan farmasi otomatis akan mengalami penurunan produksi yang berimbas pada bngkrutnya perusahaan tersebut karena antibiotiknya sudah tidak digunakan lagi.

Mengingat begitu besarnya manfaat jenggot yang merupakan sunnah Nabi S.A.W maka sudah selayaknya kita merawat jenggot yang tumbuh pada dagu kita. Inilah indahnya Islam, dimana sebuah sunnah tidak hanya bermanfaat untuk menambah pundi-pundi amal kebajikan namun juga bermanfaat bagi kemaslahatan seseorang saat berada di dunia. Semoga bermanfaat. Amiinn.

0 comments:

Post a Comment