September 09, 2020


Spirit Muslim. Bulan Asyura atau bulan Muharram menjadi salah satu bulan istimewa dalam penanggalan Hijriyah dimana cukup banyak fadhilah atau keutamaan-keutaman yang ada didalamnya. Maka tidak mengherankan jika cukup banyak umat Muslim yang memanfaatkan bulan ini untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah S.W.T dzat yang menciptakan dunia dan seisinya.

Salah satu wasilah atau perantara untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Khaliq adalah dengan melaksanakan ibadah puasa pada bulan Asyura atau Muharram. Puasa pada bulan Muharram pada dasarnya hampir memiliki kesamaan dengan puasa-puasa pada umumnya yakni menahan lapar dan haus, serta hawa nafsu selama satu hari penuh, yang membedakan hanyalah waktu serta niat dari puasa itu sendiri. lantas seperti apa puasa yang menjadi sunnah pada bulan Asyura atau bulan Muharram ini ?, berikut penjelasan selengkapnya.

1. PERINTAH PUASA SUNNAH HARI ASYURA


Asyura pada dasarnya berasal dari kata ‘Asyara yang memiliki makna “sepuluh”. Kemudian kata ini dikhususkan untuk hari kesepuluh dari bulan Muharram. Puasa Asyura pada dasarnya telah berlangsung sejak lama, yakni sejak zaman Jahiliyyah, bahkan Rasulullah S.A.W juga terbiasa melaksanakan puasa Asyura, akan tetapi setelah perintah puasa wajib turun yakni puasa Ramadhan, Rasulullah S.A.W kemudian mensunnahkan puasa Asyura ini.

Melihat keutamaan serta fadhilah dari bulan Muharram, Rasulullah S.A.W memerintahkan umatnya untuk melaksanakan puasa pada bulan Muharram dalam hadits berikut:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya:
“Sebaik-baik shaum setelah ramadhan adalah shaum di bulan Allah, Muharam.” (HR. Muslim, no. 1163)

Lebih khusus lagi Rasulullah S.A.W menganjurkan kita sebagai umatnya untuk melaksanakan puasa Asyura, yakni puasa pada hari kesepuluh dari bulan Muharram. Akan tetapi pada hari tersebut bersamaan dengan puasanya orang-orang yahudi, mereka berpuasa sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan yang mereka peroleh dengan ditenggelamkannya Firaun dan tentaranya di Laut Merah oleh Allah.

Maka dari itu Rasulullah S.A.W memerintahkan umat Islam agar tidak hanya berpuasa pada hari Asyura saja akan tetapi disunnahkan juga berpuasa satu hari sebelum atau sesudah hari Asyura untuk menyelisihi kaum yahudi serta agar puasa umat Muslim juga tidak menyerupai (Tasyabbuh) dengan puasanya umat yahudi.

Puasa satu hari sebelum hari Asyura dinamakan dengan Puasa Tasua, puasa  ini dilakukan pada tanggal 9 Muharram, sesuai dengan sabda Rasulullah S.A.W.

 التَّاسِعَ الْيَوْمَ صُمْنَا الله شَاءَ إِنْ الْمُقْبِلُ الْعَامُ كَانَ فَإِذَا 

Artinya:
“Kalau tahun depan, insyaallah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim: 1916)

Namun belum sampai tahun depan Rasulullah S.A.W wafat. Dengan adanya perintah sunnah dari Rasulullah S.A.W tersebut para ulama membagi tingkatan puasa Asyura dimana jika seseorang hanya puasa pada hari kesepuluh saja merupakan tingkatan paling rendah dari puasa bulan Muharram karena memiliki kesamaan dengan puasanya orang-orang yahudi. Untuk itu kita  dianjurkan untuk berpuasa juga pada hari kesembilan dari bulan Muharram atau hari-hari sebelumnya hingga sesudahnya yakni tanggal 1 hingga 11 Muharram. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: : قَلَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم, صُوْموْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ خَالِفُ فيْهِ الْيَهُوْدَ صُوْمُوْ قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَ يَوْمًا

Artinya:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasalah hari Asyura dan jangan menyamai model orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad)


2. KEUTAMAAN PUASA ASYURA


Puasa yang sejatinya dilaksanakan pada hari kesepuluh bulan Muharram ini memiliki keutamaan tersendiri serta keistimewaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lain. Diantaranya:

1. Melapangkan Rezeki.
Keberadaan Hari Asyura merupakan berkah tersendiri bagi umat Islam, bagaimana tidak, karena Allah S.W.T akan melapangkan rezeki sepanjang tahun bagi siapa saja yang melapangkan rezeki keluarganya pada hari Asyura. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW 

  من وسع على عياله في يوم عاشوراء وسع الله عليه في سنته كلها 

Artinya: “Orang yang melapangkan keluarganya pada hari Asyura’, maka Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun tersebut,” (HR At-Thabarani dan Al-Baihaqi).

2. Menghapus dosa satu tahun yang lalu
Keutamaan lain puasa hari Asyura adalah dapat menghapus dosa seseorang pada tahun yang lalu selama dosa tersebut bukanlah dosa besar seperti syirik. Ini merupakan kabar gembira bagi umat Islam, pasalnya manusia bukanlah makhluk yang sempurna yang mampu terhindar dari salah dan dosa. Allah S.W.T dengan rahmatnya memberikan kesempatan bagi hambanya pada hari Asyura ini untuk menebus dosa-dosanya dengan melaksanakan puasa Asyura. Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya:
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

0 comments:

Post a Comment