April 12, 2020


Spirit Muslim. Puasa pada dasarnya tidak hanya menahan lapar dan haus semata, puasa juga merupakan sarana bagi umat Muslim untuk senantiasa menahan segala jenis hawa nafsu yang ada pada diri manusia termasuk nafsu amarah. Bagi seseorang yang berpuasa pada tingkatan khusus dan paling khusus, amarah merupakan salah satu hal yang dapat membatalkan puasa, untuk itulah sebisa mungkin mereka akan meredam amarah ketika sedang berpuasa.

Kendati amarah secara umum tidak membatalkan puasa, akan tetapi amarah akan mengurangi nilai serta keberkahan puasa itu sendiri, pasalnya amarah yang menguasai diri seseorang membuatnya tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Bahkan amarah menjadi salah satu cara syetan untuk menguasai manusia, pasalnya ketika seseorang marah, maka syetan dengan mudah masuk pada tubuh seseorang dan melakukan apa saja yang ia mau, mulai dari berkata kotor, mengamuk, hingga menghancurkan segala sesuatu yang ada disekitarnya.

Salah satu cara ampuh untuk mengatasi itu semua adalah dengan meredam amarah itu sendiri. Untuk meredam nafsu amarah, kita dapat mengamalkan beberapa kiat-kiat serta tips-tips berikut yang bermanfaat untuk meredam nafsu amarah agar puasa menjadi lebih berkah.

1. MEMPERBANYAK DZIKIR.
Dzikir menjadi salah satu cara ampuh untuk meredam amarah kita, karena dengan dzikir maka pikiran dan hati kita akan fokus hanya kepada Allah S.W.T. Dzikir akan membuat kita lebih dekat kepada Allah S.W.T sehingga dengan pertolongan-Nya lah kita akan mampu mengendalikan nafsu amarah kita. Allah S.W.T berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya:
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram". (Q.S. Ar-Ra’d: 28).

2. MENJAGA LISAN SERTA UCAPAN.
Lisan atau ucapan ibarat pedang yang mampu menghunus seseorang secara tidak langsung. Pasalnya dengan ucapan kita mudah mengatakan apapun yang ingin kita katakan sekalipun hal tersebut tidak terpikirkan oleh kita. Lisan yang tidak dijaga dengan semestinya akan membuat orang lain tersakiti hingga bisa jadi ia membalasnya yang kemudian memicu nafsu amarah kita. Lisan inilah yang harus senantiasa kita jaga, terlebih saat kita puasa, karena saat seseorang puasa perut yang lapar serta tenggorokan yang dahaga lebih mudah memicu nafsu amarah seseorang. Allah S.W.T berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar". (Q.S. Al-Ahzab: 70).

Jika kita tidak bisa menjaga lisan kita, lebih baik kita diam. Diam akan menjadi solusi terbaik saat diliputi rasa marah karena akan mencegah diri dari berbagai kerusakan yang akan ditimbulkan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Artinya:
“Jika kalian marah, diamlah.” (H.R. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

3. MEMBACA TA'AWUDZ.
Syetan akan senantiasa menggoda manusia dengan berbagai cara salah satunya dengan menanamkan amarah dalam diri seseorang hingga ia akan lupa pada Rabbnya dan akan fokus untuk melampiaskan rasa amarahnya. Ta’awudz adalah salah satu cara untuk meredam amarah bagi seseorang, karena sejatinya Ta’awudz merupakan permohonan untuk mendapatkan perlindungan Allah S.W.T dari berbagai macam godaan syetan yang terkutuk.

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ

Artinya:
“Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.(H.R. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376).

4. WUDHU.
Saat puasa nafsu amarah seseorang akan mudah tersulut bahkan hanya karena masalah sepele sekalipun. Rasulullah S.A.W memberikan contoh bagaimana cara untuk meredam emosi atau amarah seseorang, salah satunya adalah dengan wudhu. Nafsu amarah sejatinya bersumber dari bisikan syetan, dimana syetan tercipta dari api. Maka kita dapat memadamkannya dengan basuhan air wudhu, karena seseungguhnya air wudhu dapat meredam panasnya api emosi serta amarah yang bergejolak pada tubuh kita.

عَنْ جَدِّي عَطِيَّةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya:
"Dari ‘Athiyyah berkata bahwasannya Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu". (H.R. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

5. MEMBACA AL-QUR'AN.
Al-Qur’’an merupakan Mu’jizat terbesar Rasulullah S.A.W yang masih dapat kita nikmati hingga saat ini. Salah satu manfaat Al-Qur’an adalah sebagai obat bagi hati yang kering dan tandus akibat penyakit dengki, iri, hasut, serta penyakit hati lainnya. Al-Qur’an akan membasahi hati seseorang yang tengah terpicu nafsu amarah, hatinya akan menjadi lembut dan tenang tatkala Al-Quran senantiasa ia baca.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya:
"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian". (Q.S. Al-Isra’: 82).

6. BERPINDAH POSISI.
Seseorang yang tengah tersulut api amarah, hendaknya ia mengubah posisi mereka ke posisi yang lebih rendah. Misalnya ia marah saat berdiri, maka dianjurkan duduk untuk meredam amarahnya. Bila ia marah dalam posisi duduk, maka dianjurkan berbaring untuk meredam amarahnya. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

Artinya:
“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.(H.R. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

0 comments:

Post a Comment