February 08, 2019


Spirit Muslim. Keberadaan sebuah kendaraan tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan masyarakat, pasalnya kemajuan teknologi dan perkembangan zaman menuntut setiap orang untuk bergerak cepat memobilisasi aktivitas mereka, salah satunya dengan kendaraan. Kendaraan bisa berupa apa saja selama hal tersebut mampu membawa manusia atau benda dari satu tempat ke tempat lain, sebut saja motor ataupun mobil yang kini umum digunakan manusia.


Namun tahukah sahabat, bahwa saat baru saja kita memiliki kendaraan, entah dalam kondisi baru atau bekas syari’at Islam menganjurkan beberapa amalan dan doa sebagai bentuk rasa syukur dan nikmat atas hadirnya kendaraan tersebut. Allah S.W.T berfirman:

وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ ( ) وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

Artinya:
"Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur ?" (Q.S. Yasin: 72 – 73).

Banyak sekali amalan dan doa yang dapat kita lakukan saat kita baru saja memperoleh kendaraan. Lantas apa saja amalan serta doa tersebut  ? berikut penjelasan selengkapnya.

1. Berdoa ketika baru memiliki kendaraan.

Saat baru saja mendapatkan kendaraan, Rasulullah S.A.W menganjurkan umatnya untuk berdoa. Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اشْتَرَى أَحَدُكُمُ الْجَارِيَةَ أَوِ الْغُلامَ أَوِ الدَّابَّةَ فَلْيَأْخُذْ نَاصِيَتَهُ وَلْيَقُلِ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيَّرَهُ وَخَيْرَ مَا جُبِلَ عَلَيْهِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا جُبِلَ عَلَيْهِ

Artinya:
"Apabila kalian membeli budak perempuan atau budak lelaki atau hewan tunggangan, pegang ubun-ubunnya, dan baca doa: 'Allahumma innii asaluka khoirohu wa khoiro maa jubila 'alaih, wa a'uudzubika min syarrihii wa syarri maa jubila 'alaih (Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa)". (H.R. Nasai dalam Al-Kubro 10069).

Dalam hadits tersebut Rasulullahh S.A.W menganjurkan kepada umatnya untuk memegang ubun-ubun hewan tunggangan, akan tetapi pada masa sekarang kendaraan bukan hanya berupa hewan akan tetapi lebih didominasi kendaraan bermotor, maka untuk menggantikan ubun-ubun tersebut cukup memegang bagian depan kendaraan sambil membaca doa tersebut.

2. Sedekah kepada tetangga.

Memiliki sebuah kendaraan merupakan salah satu nikmat dan rezeki yang telah Allah S.W.T limpahkan kepada hambanya. Bahkan Rasulullah sendiri menganjurkan umatnya untuk senantiasa bersedekah agar rezeki yang kita peroleh menjadi berkah.  Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku,

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

Artinya:
“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.(H.R. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88).

Bersedekah tidak terkhusus hanya kepada fakir miskin, sedekah juga dapat diberikan kepada tetangga sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah. Tetangga adalah orang yang terdekat kita setelah kerabat, maka sudah selayaknya kita memuliakan mereka dengan cara bersedekah, lebih-lebih saat kita baru saja mendapatkan nikmat, seperti memiliki kendaraan yang baru dibeli. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Artinya: “Hendaknya kalian saling memberi hadiah agar kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam kitab Adab Mufrad, no. 463).

Ingatlah janji Allah:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya:
"Ingatlah, tatkala Tuhanmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu". (Q.S. Ibrahim: 7).

3. Niat memanfaatkan kendaraan untuk ketaatan dan mencari Ridha Allah.

Salah satu tujuan manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah mencari Ridha Allah agar Allah berkenan memasukkan kita ke surga. Banyak sekali ibadah yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan Ridha Allah, mulai dari ibadah yang bersifat wajib hingga sunnah. Firman Allah SWT:

وَمَا تُنفِقُونَ إِلاَّ ابْتِغَاء وَجْهِ اللّهِ وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

Artinya:
"Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)."  (Q.S Al-Baqarah: 272).

Selain ibadah-ibadah tersebut, kita juga dapat mencari ridha Allah dalam keseharian kita dengan niatan ibadah, seperti saat kita makan, bekerja, dan lain sebagainya. Tidak terkecuali pada saat kita memperoleh nikmat memiliki sebuah kendaraan.

Sudah selayaknya saat mendapatkan kendaraan baru kita niatkan semata-mata hanya untuk mempermudah kita dalam beribadah kepada Allah, agar Allah berkenan meridhai atas kendaraan yang kita miliki dan setiap aktivitas yang kita lakukan dengan kendaraan tersebut.

4. Membaca doa setiap kali hendak menggunakan kendaraan.

Kendaraan sejatinya akan mengantarkan pemiliknya menuju satu tempat ke tempat lain. Dalam perjalanan yang ditempuh, bisa saja ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, untuk mengantisipasi hal tersebut Syari’at telah memberikan solusinya agar Allah senantiasa menjaga kita dalam perjalanan, yakni dengan doa. Doa ini tidak hanya dibaca pada saat memperoleh kendaraan baru, akan tetapi pada saat setiap kali  akan mengendarai kendaraan tersebut. Doa tersebut yakni:

سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

Artinya:

Artinya: Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.


0 comments:

Post a Comment