October 12, 2017



Spirit Muslim. Bulan Shafar merupakan bulan yang jatuh pada urutan kedua setelah bulan Muharram. Dinamakan demikian karena pada bulan tersebut dulu Makkah ditinggalkan oleh penduduknya untuk pergi berperang dan merampas barang hasil peperangan hingga tak tersisa. (Lisanul Arab, karangan Ibnu Munzir juz/4 hal/462-463).

Pada bulan ini banyak masyarakat terutama masyarakat Indonesia yang berkeyakinan bahwa bulan Shafar merupakan bulan diturunkannya semua bala', sial, dan musibah. Tidak lain karena bulan tersebut merupakan bulan dimana Allah sering menurunkan bala’ kepada umat manusia. Sangat disayangkan memang keyakinan seperti ini, bahkan mereka mempercayai dengan adanya bulan ini masyarakat dilarang untuk melangsungkan acara-acara penting seperti penikahan, Aqiqah, mengadakan perjalanan jauh dan lain sebagainya. Tidak lain dan tidak bukan karena mereka ingin menghindari musibah yang terjadi pada bulan Shafar ini.

Inilah yang harus kita luruskan, bahwa musibah atau cobaan itu diturunkan oleh Allah bukan karena adanya bulan Shafar, melainkan semua itu terjadi atas kehendak Allah S.W.T. Tidak ada nash yang cukup kuat untuk membuktikan kesialan bulan Shafar ini. Semua bulan pada dasarnya adalah bulan istimewa karena semua bulan memiliki keutamaannya masing-masing. Padahal jika mau introspeksi diri sebenarnya banyak sekali keutamaan dan kelebihan yang terdapat pada bulan ini.

Baca juga: Yuk intip amalan apa saja di bulan shafar.

Namun sayangnya kebanyakan masyarakat kita lebih mengutamakan untuk melangsungkan ritual-ritual untuk menolak bala’ tersebut daripada merenungkan keutamaan dan kelebihan bulan ini. Sudah selayaknya pada bulan ini kita isi dengan memperbanyak  dzikir dan mengingat Allah agar keimanan dan ketaqwaan kita semakin kuat, bukan malah memperlemah keimanan dengan mempercayai tahayul semacam itu. 

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut telah tertanam dalam benak kalangan masyarakat Muslim yang menganggap bahwa bulan shafar adalah bulan penuh musibah dan kesialan. Namun sebisa mungkin kita harus menghilangkan persepsi tersebut karena pada dasarnya semua bulan dalam penanggalan Hijriyah memiliki banyak sekali keutamaan. Dan segala sesuatu yang terjadi baik bala’ musibah maupun kenikmatan merupakan Qadha’ dan Qadhar yang telah Allah tetapkan untuk umat-Nya


Dalam sebuah hadist disebutkan bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال : " لا عدوى و لا هامة و لا صفر "  فقال أعرابي : يا رسول الله فما بال الإبل تكون في الرمل كأنها الظباء فيخالطها البعير الأجرب فيجربها ؟ فقال رسول الله صلى اللهعليه و سلم : فمن أعدى الأول ؟ "  رواه البخاري ومسلم 

Artinya:
"Dari Abi Hurarah r.a dari Rasulullah S.A.W bahwa sesungguhnya beliau bersabda: "Tiada kejangkitan, dan juga tiada mati penasaran, dan tiada juga Shafar", kemudian seorang badui Arab berkata: "Wahai Rasulullah S.A.W, onta-onta yang ada di padang pasir yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh Seekor onta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor onta betina yang berkudis tersebut ?". Kemudian Rasulullah S.A.W menjawab: "Lalu siapakah yang membuat onta yang pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya?". (H.R Buhari dan Muslim).

Maksud dari kalimat (العدوى )  Al-'Adwa dalam Hadist diatas adalah penyakit yang menular kepada orang lain. Bangsa Arab di zaman dahulu menggunakan kalimat tersebut untuk menunjukkan pada penyakit yang menular seperti kudis. 

Hingga ada seorang badui Arab bertanya kepada Rasulullah SAW: "Kenapa sekelompok onta yang asalnya sehat, di kumpuli oleh seekor onta yang berpenyakit kudis, onta tersebut menjadi berkudis juga? 

Kemudian Rasulullah SAW menjawab: "Lalu siapa yang membuat onta pertama berkudis?" 

Maksudnya: onta yang pertama tidak akan berkudis kecuali karena Qadha' dan Qadar Allah S.W.T bukan karena penyakit tersebut. maka menularnya penyakit tersebut tidak lain semua itu karena Qadha dan Qadar dari Allah juga.

Dari hadits diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa seorang muslim tidak boleh meyakini suatu penyakit yang menjangkit orang sehat bahwa yang menularkan adalah penyakit itu sendiri akan tetapi Qadha' dan Qadar Allah lah yang membuat orang tersebut tertular oleh penyakit. Pun begitu dengan keyakinan kita akan bulan Shafar ini, semua yang terjadi baik berupa sebuah musibah dan kenikmatan sudah selayaknya kita sandarkan kepada Allah karena hanya Allah lah yang mengatur semua kejadian di muka bumi ini termasuk Qadha' dan Qadar yang terjadi pada bulan Shafar.

RABU WEKASAN (BALA’ HARI RABU TERAKHIR BULAN SHAFAR)

Menurut `ulama besar, Imam Abdul Hamid Quds, mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20an dalam bukunya “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhaar” mengatakan bahwa banyak musibah pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Beliau juga mengatakan bahwa banyak auliya’ yang memiliki pengalaman spiritual menyebutkan bahwa seluruh bala’ dan musibah pada satu tahun dikumpulkan pada bulan shafar dan ada sekitar kurang lebih  320.000 bala’ dan musibah yang akan diturunkan semua pada hari rabu terakhir pada bulan Shafar tersebut. Mungkin karena inilah masyarakat Indonesia terutama masyarakat jawa menyebutnya rabu wekasan atau Yaumi Nahsin Musta’mir (hari yang paling sulit di setiap tahun).

Anggapan yang seperti ini sudah seharusnya disikapi dengan positif, ketika Allah menurunkan bala’ dan musibah pada bulan ini sesungguhnya Allah tengah menguji keimanan dan ketaqwaan seseorang, apakah ia mampu melewati ujian ini atau tidak. Memperbanyak amal ibadah agar dihindarkan dari mara bahaya adalah salah satu cara menghadapi ujian tersebut.

قُلْ لَّنْ يُصِيْبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلٰنَا ۚ  وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya:
"Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal".  (Q.S. At-Taubah: 51)

Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa tidak ada kesialan dalam bulan shafar ini

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya:
"Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular dan Thiyarah (merasa sial dengan burung dan sejenisnya), dan Hamah (burung gagak) dan Shafar". (H.R. Bukhari: 5757, Muslim: 2220).

KEUTAMAAN BULAN SHAFAR

Islam tidak mengenal adanya hari atau bulan naas, celaka, sial, malang atau sejenisnya. Islam menganggap setiap hari dan bulan itu baik, bahkan dalam Islam lebih dikenal dengan hari-hari yang mulia seperti hari Jum’at dan bulan mulia seperti bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah.

Sebagai muslim yang beriman kepada Allah S.W.T, kita meyakini bahwsanya Qada’ dan Qadar-Nya Allah SWT ialah penentu dari segala yang terjadi. Kita percaya bahwa sebanyak apapun musibah yang diturunkan Allah SWT pada bulan Shafar, tidak serta merta bahwa bulan shafar adalah bulan sial, justru sebaliknya karena kasih sayang Allah S.W.T kepada umat-Nya sehingga segala musibah itu diturunkan untuk menyeru manusia agar mereka senantiasa mengingat Allah dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menghilangkan anggapan bahwa bulan Shafar sebagai bulan sial, karena pada dasarnya kesialan itu adalah sebuah keyakinan yang tumbuh dalam sanubari manusia yang menginginkan dirinya sial

قَالُوا طَآئِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

Artinya:
"Mereka (para Rasul) berkata: keburukan yang menimpa kalian adalah disebabkan (perbuatan dosa) kalian sendiri. Apakah (pantas kalian bersikap demikian) saat kalian diberi peringatan. Bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas". (Q.S. Yasin: 19).

Mari kita ubah cara pandang kita mengenai bulan Shafar ini, bulan Shafar bukanlah bulan yang penuh kesialan, sebaliknya didalamnya justru mengandung berbagai macam keutamaan dan kelebihan, berikut beberapa keutamaan tersebut:

1. Bulan yang baik untuk memperkuat keimanan

Inilah salah satu keutamaan dari bulan bulan Shafar. Sebagian masyarakat mungkin telah menganggap bahwa pada bulan ini adalah bulan sial dan musibah, namun bagi orang yang memiliki keimanan yang kuat, mereka akan menganggap bahwa bulan Shafar adalah momentum yang baik untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan seseorang kepada Allah S.W.T dengan memperbanyak ibadah dan merenungkan kekuasaan Allah S.W.T.

Sebagaimana firman-Nya 

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهٖ  مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهٖ  ۚ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ

Artinya:
"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S. Yunus: 107)

2. Memperkuat keyakinan akan ketetapan Allah SWT

Segala sesuatu yang terjadi tidak lain dan tidak bukan bahwa semua itu atas kehendak Allah yang telah ditetapkan Allah untuk para makhluknya. Inilah yang harus kita tanamkan pada diri kita bahwa segala bentuk kenikmatan dan musibah yang datang dari Allah pada bulan Shafar adalah sebuah kehendak yang ditetapkan Allah untuk semua ciptaan-Nya. Manusia sebagai makhluk Allah sudah sepatutnya bersabar dan tawakkal atas apa saja yang Allah berikan kepada hamba-Nya.

مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:
"Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kedalam hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (Q.S. At-Taghabun:11)

3. Mengingatkan kita untuk menghidarkan diri dari hal yang bertentangan dengan syariat

Mengingat begitu besarnya pengaruh yang menganggap bahwa bulan Shafar adalah bulan sial, tentunya jika kita mempercayai hal semacam ini akan menjadikan kita semakin mendekatkan diri kepada Allah S.W.T dengan menghindarkan diri dari segala kemungkaran agar bala’ dan musibah tersebut tidak diturunkan kepada kita.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang keperluannya tidak dilaksanakan disebabkan berbuat thiyarah, sungguh ia telah berbuat kesyirikan. Para sahabat bertanya, ’Bagaimanakah cara menghilangkan anggapan (thiyarah) seperti itu?’ Beliau bersabda; ’Hendaklah engkau mengucapkan (doa), Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali itu datang dari Engkau, tidak ada kejelekan kecuali itu adalah ketetapan dari Engkau, dan tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau’.” (H.R. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Subhanallah, sudah tahu kan sahabat dari penjelasan diatas bahwa bulan Shafar tidak selalu identik dengan bulan kesialan atau bulan bala', malah terdapat beberapa keutamaan didalamnya yang dapat kita manfaatkan untuk melakukan amalan-amalan yang dianjurkan oleh syari'at. Inilah momentum yang baik bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikir dan merenungkan semua kuasa Allah di alam semesta ini. Semoga dapat bermanfaat dan menjadikan kita sebagai pribadi yang senantiasa taat terhadap Allah dan para rasulnya. Aamiin.

0 comments:

Post a Comment