October 21, 2017



Spirit Muslim. Ini adalah kisah dari seorang pemuda yang sangat taat dan berbakti kepada orang tuanya, lebih-lebih kepada ibunya. Dia selalu mengabulkan apa saja yang menjadi permintaan ibunya, pemuda itu adalah Uwais Al-Qarni, dia memiliki nama lengkap Abu Amar bin Amir bin Jaz'i bin Malik Al-Qorni Al-Muradi Al-Yamani. 

MENGGENDONG IBUNYA SEWAKTU HAJI

Uwais adalah seorang pemuda yang hidup berdua bersama ibunya di rumah sangat sederhana. Ia tidak memiliki saudara satupun sedangkan ayahnya telah wafat meninggalkan Uwais dan ibunya. Yang ia miliki hanyalah seorang ibu yang sudah tua renta, buta dan lemah. Bahkan Uwais sendiri tak lepas dari penyakit yang dideritanya, penyakit sopak yang membuat tubuhnya menjadi belang-belang. Meskipun keadaannya demikian, ia tetap tumbuh menjadi pemuda yang shalih dan sangat berbakti kepada ibunya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memujinya dengan berbagai pujian di depan para sahabat. 

Bakti kepada ibunya tersebut ia tunjukkan dengan merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Namun sayangnya hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan, yakni keinginan ibunya untuk berhaji. Ia tidak dapat mengabulkan permintaan ibunya tersebut lantaran keadaan keluarganya yang hidup dalam kemiskinan.

Suatu ketika ibu Uwais mengatakan permintaannya tersebut:
“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji", pinta sang ibu.

Mendengar permintaan sang ibu, Uwais pun termenung. Ia berfikir bahwa Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, belum lagi ia dan ibunya membutuhkan perbekalan selama perjalanan, selain itu ia juga harus melewati padang yang tandus dan panas. Lantas bagaimana hal itu bisa dilakukan mengingat Uwais sangat miskin dan tidak mampu membeli kendaraan untuk perjalanan menuju Makkah ?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar untuk mengabulkan permintaan sang ibu. Hingga terbesit dalam pikirannya untuk membeli seekor anak lembu, dibelilah seekor anak lembu itu.

Ia membeli lembu tersebut tidak digunakan sebagai kendaraannya untuk berhaji, melainkan ia menggunakan lembu tersebut sebagai latihan. Ia berencana mengendong ibunya dari Yaman ke Makkah untuk berhaji, untuk itu ia membutuhkan otot dan tenaga yang lebih untuk melakukan perjalanan tersebut, salah satunya dengan latihan menggunakan anak Lembu ini. 

Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit.

Banyak orang menganggap bahwa Uwais melakukan tindakan yang aneh, mereka pun tidak segan untuk mengolok Uwais, “Uwais gila... Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais tersebut.

Setiap hari ia menggendong lembu tersebut naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais untuk menggendongnya. Namun karena latihan yang ia lakukan setiap hari, membuat ia tidak merasakan kesulitan untuk menggendong anak lembu tersebut naik turun bukit.

Tak terasa lembu Uwais pun telah mencapai berat 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang kian hari makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Hingga tibalah saat musim haji.

Uwais pun menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah.

Dengan tegapnya Uwais berjalan menggendong sang ibu wukuf di Arafah. Melihat pengorbanan Uwais yang begitu besar membuat Ibunya terharu dan bercucuran air mata dihadapan Baitullah. Di hadapan Ka’bah pula sang ibu dan anak pun berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu", kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga".

Keinginan yang tulus tersebut membuat Allah memberikan karunianya dengan mengangkat penyakit sopak dari tubuhnya. Yang tertinggal hanya bulatan putih di telapak tangannya.

Tahukah sahabat apa hikmah dari bulatan yang disisakan di telapak tangan Uwais tersebut?

Tak lain Itu sebagai tanda bagi Umar bin Khatthab dan Ali bin Abi Thalib untuk mengenali Uwais kelak.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman".

PERTEMUAN UWAIS DAN KHALIFAH UMAR DAN ALI

Suatu ketika karena kecintaannya kepada Rasulullah yang begitu besar, Uwais pun nekat melakukan perjalanan kembali, namun kali ini ia menuju Madinah dengan niatan untuk bertemu sosok Rasulullah yang ia rindukan tersebut. Ia pun melakukan perjalanan yang sangat jauh demi bertemu dengan baginda nabi Muhammad S.A.W. Ia pun tiba di Madinah dan Segera mencari rumah Nabi Muhammad S.A.W.

Sesampainya di rumah Nabi, ia segera mengetuk pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah Sayyidah Aisyah istri Nabi seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun keinginannya tersebut harus tertunda ketik sayyidah Aisyah menjelaskan bahwa Rasulullah sedang berada di medan pertempuran. Uwais pun merasa kecewa, jauh-jauh ia meninggalkan kampung halamannya demi bertemu sosok yang ia rindukan namun tidak dapat ditemuinya.

Keinginan Uwais yang begitu kuat untuk bertemu dengan nabi membuatnya ingin menunggu hingga kepulangan nabi dari medan peperangan. Namun ia tidak mengetahui hingga kapan Rasulullah berada dalam medan pertempuran tersebut, belum lagi pesan sang ibu kepada Uwais agar ia tidak berlama-lama disana karena sang ibu yang sudah tua dan sering sakit-sakitan.

Akhirnya, karena ketaatan dan kekahawairannya kepada sang ibu membuat Uwais memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Yaman dan menitipkan salamnya kepada sayyidah Aisyah untuk baginda Nabi. Uwais pun segera pulang mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan pun telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Sayyidah Aisyah tentang orang yang mencarinya. Sayyidah Aisyah membenarkan memang ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi". Dalam riwayat lain disebutkan:

قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ». فَاسْتَغْفِرْ لِى. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ. قَالَ أَلاَ أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ

Artinya:
Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Waktu silih berganti hingga tiba saatnya nabi wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khattab. Hingga suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al-Qarni sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib.


Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al-Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari.

Banyak Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Sampai suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama dengan salah satu dari robongan Yaman. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah.

Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Saat itu Uwais sedang shalat. Setelah selesai shalat, Uwais dengan segera menjawab salam kedua khalifah tersebut sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar, tampak tanda putih di telapak tangan Uwais sebagai tanda bahwa ia memang Uwais yang diceritakan oleh Nabi.

Wajah Uwais yang nampak bercahaya menandakan bahwa ia adalah penghuni langit seperti yang dikatakan oleh Nabi. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera menanyakan namanya, dan ia menjawab: “Abdullah (Hamba Allah)”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan karena ia merasa bahwa Uwais lah yang harus meminta doa kepada kedua khalifh tersebut dan dia berkata, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, Khalifah Umar dan Ali menjawabnya: “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya”. Karena desakan kedua Khalifah ini, Uwais akhirnya mengangkat tangannya dengan berdoa dan membacakan istighfar sesuai permintaan sang khalifah.

Kemudian Umar Bin Khattab kembali bertanya: "Kemana engkau akan pergi ?"

Uwais menjawab, "Aku akan pergi ke Kufah".

Umar berkata, "Bolehkah aku menuliskan surat untukmu kepada penguasa di sana?"

Uwais menjawab, "Aku lebih senang jika berada di antara orang-orang awam yang tidak terkenal di sana".

Lalu Umar melanjutkan perkataannya kepada Uwais, "Siapakah orang yang engkau tinggalkan di Yaman?"

Uwais menjawab, "Aku meninggalkan ibuku."

Umar pun berkata kepada Uwais, "Sejak hari ini engkau adalah saudaraku maka janganlah engkau meninggalkan aku."

Pada saat itu Uwais melepaskan diri dari tangan Umar dan pergi ke Kufah untuk mencari rezeki serta mendekatkan diri kepada majelis para ulama dan orang-orang zuhud di negeri Irak tersebut.

Ketika Uwais hendak meninggalkan Umar untuk pergi ke Kufah, Umar berkata kepadanya, "Tetaplah di tempatmu, semoga Allah merahmatimu. Sampai aku masuk ke Makkah lalu memberimu tunjangan hidup dari harta pemberian pribadiku dan beberapa helai pakaian dari pakaian milikku".

Kemudian Umar menyakinkan lagi seraya berkata, "Tunggulah di sini wahai Uwais, tempat ini tempat perjanjian antara aku dan engkau".

Maka Uwais berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tidak ada tempat perjanjian antara aku dan engkau, aku tidak yakin engkau akan mengenali aku lagi setelah hari ini, apa yang dapat aku lakukan dengan tunjangan itu wahai Amirul Mukminin dan apa yang dapat aku lakukan dengan pakaian itu? Bukankah engkau melihat saat ini aku mengenakan pakaian dari mantel kain wol? Pada saat engkau bertemu aku lagi, bisa jadi aku telah merobeknya, bukankah engkau melihat kedua sandalku ini ditambal? Pada saat engkau bertemu aku lagi, bisa jadi keduanya telah usang.

"Wahai Amirul Mukminin di antara aku dan engkau ada rintangan yang menghalangi dan tidak dapat dilampaui kecuali orang yang kurus dan memiliki sedikit harta, maka jadikanlah aku orang yang sedikit hartanya. Semoga Allah merahmatimu wahai Amirul Mukminin, engkau dan aku akan berpisah di tempat ini."

Lalu Umar pun pergi ke Mekkah seraya mengucapkan salam perpisahan kepada Uwais yang berlalu pergi sambil menggiring untanya.

UWAIS WAFAT

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya, di sana juga sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke tempat kuburnya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.    

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman kala itu. Banyak terjadi fenomena yang cukup mencengangkan. Diantaranya banyak orang yang tidak dikenal di daerah tersebut berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak pernah dihiraukan orang saat hidupnya. Sejak ia dimandikan hingga ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam liang lahat, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais dan kejadian aneh yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk kota Yaman mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib untuk merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

UWAIS AL-QARNI DIMATA RASULULLAH

Rasulullah S.A.W menggambarkan tentang Uwais Al-Qarni dalam sabdanya, "Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah mencintai di antara makhluk-Nya para sahabat yang tersembunyi (tidak terkenal) dan taat, rambut mereka kusut, wajah mereka penuh debu, dan perut mereka kosong kecuali dari harta yang halal.

Mereka adalah orang-orang yang apabila meminta izin kepada para penguasa tidak akan diizinkan, apabila melamar wanita-wanita kaya tidak akan dinikahkan, apabila tidak hadir tidak akan dicari-cari, apabila hadir tidak akan dipanggil, apabila mereka muncul maka kemunculannya itu tidak akan membuat senang, apabila sakit tidak dijenguk dan apabila meninggal dunia tidak disaksikan."

Para sahabat bertanya, "wahai Rasulullah, bagaimana hubungan kami dengan salah seorang dari mereka?"

Rasulullah S.A.W menjawab, "Dia adalah Uwais Al-Qarni."

Mereka bertanya lagi, "Siapakah Uwais Al-Qarni?

Rasulullah bersabda, "Dia adalah seorang laki laki yang bermata biru, berambut pirang, dadanya bidang, perawakannya sedang, dan kulitnya sawo matang. Dia senantiasa menundukkan pandangannya, menaruh dagunya di tempat sujud, meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya sambil membaca Al Quran lalu menangisi dirinya sendiri.

Dia mengenakan pakaian dan mantel dari kain wol, tidak dikenal di kalangan penduduk bumi, namun sangat terkenal di kalangan penghuni langit. Apabila dia bersumpah dengan nama Allah maka dia pasti melaksanakannya dengan benar. Di bawah bahu sebelah kirinya ada bintik putih.

Pada hari kiamat kelak akan dikatakan kepada hamba hamba Allah, 'Masuklah kalian ke dalam surga.' Namun dikatakan kepada Uwais, 'Berhentilah dan berikanlah syafaat.' Lalu dia meminta syafaat kepada Allah untuk orang orang yang jumlahnya sama dengan suku Rabiah dan Mudhar.

Wahai Umar, wahai Ali, jika kalian berdua bertemu dengannya maka mintalah dia supaya memohonkan ampunan bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua." (Al-Hilyah, Abu Nu'man (II/81-82).

Subhanallah, itulah tadi pelajaran berharga dari Uwais Al-Qarni, ketulusan dan keikhlasannya merawat dan melayani sang ibu menjadikannya salah satu orang yang terkenal dikalangan penduduk langit. Meskipun ia tidak memiliki banyak harta, tidak begitu dikenal dikalangan masyarakat, akan tetapi dengan ketaatannya terhadap ibunya mampu menghantarkan ia menjadi salah satu penduduk langit yang paling beruntung. Inilah salah satu kisah yang patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari, bahwa bakti terhadap seorang ibu akan membawa seseorang kepada kemuliaan yang hakiki. Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan kita lebih taat lagi terhadap orang tua kita. Aamiinn.

0 comments:

Post a Comment