September 27, 2017


Spirit Muslim. Telah disebutkan oleh Rasulullah dalam haditsnya bahwa umat Islam pada akhirnya akan terpecah menjadi 73 golongan. Namun hanya 1 dari 73 golongan tersebut yang akan selamat pada hari akhir kelak. Seperti yang kita ketahui bersama, hingga saat ini banyak sekali aliran-aliran serta golongan-golongan Islam yang bertebaran di muka bumi. Sayangnya dengan banyaknya golongan tersebut, mereka seakan ingin menjatuhkan antara satu golongan dengan golongan yang lain. Mereka menganggap bahwa golongan yang  mereka anut adalah golongan yang paling benar. Lebih parahnya lagi beberapa dari mereka berusaha untuk menyesatkan umat manusia, khususnya kaum Muslimin, sebut saja kelompok syiah, khawarij, hingga Mu’tazilah, yang mana aqidah mereka bisa terbilang sangat jauh melenceng dari apa-apa yang telah Rasulullah ajarkan kepada umatnya.

Pecahnya Islam menjadi beberapa golongan mulai tampak sejak saat perang Shiffin (37 H), perang ini melibatkan khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah. Kejadian terjadi saat tentara Ali berhasil mendesak tentara Mu'awiyah untuk mundur, melihat kondisi tersebut lantas Mu'awiyah meminta diadakan perdamaian. Sebagian tentara Ali menyetujui perdamaian ini, dan sebagian lagi menolaknya.

Baca juga: Hak dan kewajiban terhadap sesama muslim yang harus kita penuhi.

Kelompok yang tidak setuju ini akhirnya memisahkan diri dari Ali dengan membentuk kelompok sendiri yang akhirnya dikenal dengan nama Khawarij. Mereka menganggap bahwa orang-orang yang menerima perdamaian ini telah berbuat dosa besar karena menyetujui perdamaian tersebut, hingga akhirnya kaum Khawarij menganggap bahwa orang-orang yang menyetujui perdamaian tersebut dianggap bukan mukmin lagi dan boleh dibunuh. Masalah dosa besar ini kemudian menimbulkan 3 aliran teologi dalam Islam yaitu : Khawarij, Murji'ah dan Mu'tazilah. 

Selain itu akibat pengaruh agama lain dan filsasat pada umat Islam maka muncullah kelompok yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkendak dan perbuatannya, mereka lebih dikenal dengan kaum Qadariyyah dan kelompok yang berpendapat sebaliknya mereka dikenal dengan sebutan kaum Jabariyyah. Setelah kejadian itu mulailah banyak bermunculan aliran-aliran dan golongan-golongan baru dalam agama Islam yang ironisnya mereka seakan saling menjatuhkan satu sama lain. Inilah salah satu penyebab mundurnya perkembangan umat Islam yang mana mereka lebih mengutamakan golongan daripada agama mereka.

ISLAM TERCERAI BERAI

Sejak sepeninggal Rasulullah umat Islam terlihat mulai rentan untuk terpecah menjadi beberapa golongan, terlebih saat kepemimpinan sayyidina Ali r.a, dimana saat itu menjadi titik awal kali munculnya beberapa golongan Islam ini. Sebenarnya Rasulullah telah memperingatkan akan kejadian ini jauh sebelum beliau wafat sebagai peringatan bagi umat Muslim untuk tetap bersatu dalam manhaj Rasulullah, dalam sebuah hadits Rasulullah S.A.W bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ , حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فىِ أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ , وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فىِ النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ ياَرَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Artinya :
"Rasulullah SAW bersabda – Niscaya akan datang kepada ummatku suatu perbuatan yang dilakukan juga kaum Israil, nyaris laksana langkah sepasang sandal, sehingga jika salah seorang kaum Israil berzina dengan ibunya dengan terang-terangan maka hal itu juga akan terjadi di ummatku. Sesungguhnya kaum Israil akan bercerai-berai menjadi 72 aliran, dan ummatku pecah menjadi 73 aliran, semua masuk neraka kecuali satu, Sahabat bertanya, siapa yang satu itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab, ialah mereka yang berpegang teguh pada aqidah yang sama dengan aku dan sahabatku". (H.R. Al-Hakim)

Dalam riwayat lain disebutkan tentang golongan yang selamat yakni orang yang mengikuti ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Yang mana mereka selalu berpegang teguh pada Al-Qur'an, As-Sunnah, hingga Ijma'. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

Artinya:
“…Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya".

Allah telah memberikan karunia-Nya yang begitu besar dengan hadirnya Islam ditengah-tengah umat manusia. Islam hadir bukan tanpa sebab, melainkan Islam hadir ditengah-tengah umat manusia untuk memberikan rahmat yang telah Allah limpahkan dalam agama ini. Sebuah agama yang berlandaskan pada Al-Quran sebagai sumber pijakan dalam berkehidupan dan As-sunnah serta Ijma’ sebagai penyokong pondasi syariah Islamiyah. Aqidah serta manhaj Rasulullah dan para sahabat adalah satu-satunya keyakinan yang hak. Sesungguhnya jalan kebenaran menuju kepada Allah hanya satu, sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadits di atas.

Umat yang selamat adalah umat yang beriman kepada Allah, dan mengikuti utusan-Nya sebagai panutannya. Sebagai contoh satu golongan dari umat Yahudi yang masuk Surga adalah mereka yang beriman kepada Allah dan kepada Nabi Musa Alaihissallam serta mati dalam keadaan beriman. Dan begitu juga satu golongan Nasrani yang masuk surga adalah mereka yang beriman kepada Allah dan kepada Nabi ‘Isa Alaihissallam sebagai Nabi, Rasul dan hamba Allah serta mati dalam keadaan beriman. Dan adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka semua umat manusia, baik Yahudi dan Nasrani mereka wajib mengikuti semua hal yang diajarkan oleh Rasulullah, karena Rasulullah merupakan utusan terakhir di muka bumi ini, tidak ada utusan lain setelah Rasulullah. Rasulullah S.A.W bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Artinya:
"Demi (Rabb) yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar tentangku (Muhammad), kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, niscaya ia termasuk penghuni Neraka". (HR. Muslim no. 153)

Disebutkan oleh ‘Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya beliau berkata :

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًـا، وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَـالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ ]مُتَفَـِرّقَةٌ[ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَـى: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali disana ada setan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Dan sungguh, inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” [al-An’am:153] (H.R. Ahmad).

PEMBAGIAN GOLONGAN DALAM ISLAM
Setelah wafatnya nabi S.A.W, Islam lambat laun terpecah menjadi beberapa golongan, lebih tepatnya 73 golongan, diantaranya:

Jarudiyyah, Sulaimaniyyah (Jaririyah), Butriyah (Hurariyah), Yaqubiyyah, Hanafiyyah, Karibiyah, Kamiliyah, Mughairiyah, Baqiriyyah, Nadisiyah, Sya’iyah, Ammaliyah, Ismailiyah, Musawiyah (Mamturah), Mubarikiyah, Katsiyah, Hasyimiyah, Zarariyah, Yunusiyah, Syaitaniyah, Azraqiyah, Najadat, Sufriyah, Ajaridah, Khazimiyah, Shuaibiyah, Khalafiyah, Ma’lumiyah, Saltiyah, Hamziyah, Tsa’libiyah, Ma’badiyah, Akhnasiyah, Syaibaniyah, Rasyidiyah, Mukarramiyah, Ibadiyah, Hafsiyah, Haritsiyah, Ashab Ta’ah, Syabibiyah (Salihiyah), Wasiliyah, ‘Amriyah, Hudhailiyah (Faniyah), Nazzamiyah, Mu’ammariyah, Basyriyah, Hisyamiyah, Murdariyah, Ja’friyah, Iskafiyah, Tsamamiyah, Jahiziyah, Syahhamiyyah (Sifatiyah), Khaiyatiyah (Makhluqiyyah), Ka’biyah, Jubbaiyyah, Bahsyamiyah, Ibriyah, Muhkamiyah, Qabariyah, Hujjatiyah, Fikriyah, ‘Aliwiyah (Ajariyah), Tanasikhiya, Raji’iyah, Ahadiyah, Radidiyah, Satbiriyah, Lafziyah, Asyariyah, Bada’iyah, Ahlusunnah wal jamaah.

Namun kesemua golongan diatas terhimpun dalam beberapa golongan utama, antara lain.

1. Mu’tazilah

Mu'tazilah berasal dari kata "إِعْتَزَلَ" yang berarti “Menjauhkan Diri”. Asal mula kata ini digunakan ketika Hasan Al-Basri sedang mengajar di masjid Basrah, selang beberapa waktu datanglah seorang laki-laki bertanya tentang orang yang memiliki berdosa besar. Maka ketika ia sedang berpikir, menjawablah salah satu muridnya, yakni Wasil bin Atha': "Saya berpendapat bahwa ia bukan mukmin dan bukan kafir, tetapi ia berada dalam posisi diantara keduanya". Kemudian ia menjauhkan diri dari majelis Hasan Al-Basri dan pergi ketempat lain lalu mengulang pendapatnya tersebut di majelis yang lain. Hingga akhirnya Hasan Al-Basri mengatakan : "إِعْتَزَلْ عَنَّا" yang berarti “Dia (Washil) menjauhkan diri dari kita”.

Kelompok ini memiliki keyakinan dan beri'tiqad bahwa manusia sendiri yang mampu menciptakan perbuatannya, mereka tidak menyertakan kehendak Allah S.W.T dalam setiap tindakan yang manusia lakukan, dengan kata lain segala tindakan dan perbuatan manusia mutlak manusia itu sendiri yang melakukannya dan Allah tidak ikut campur dalam masalah perbuatan manusia ini. Mereka juga berkeyakinan bahwa Allah wajib memberi pahala bagi yang berbuat baik dan wajib menjatuhkan siksa bagi yang berbuat kerusakan.

Diantara pendapat-pendapat mereka yang mahsyur antara lain :
  • Orang Islam yang berdosa besar bukan kafir dan bukan mukmin namun berada di antara keduanya, hal semacam ini lazim dikenal dengan istilah Al-Manzilah Bainal Manzilatain.
  • Tuhan bersifat bijaksana dan adil, tidak dapat berbuat jahat dan dzalim. Manusia sendirilah yang memiliki kekuatan untuk mewujudkan perbuatannya, yang baik dan jahat, iman dan kufurnya, ta'at dan tidaknya.
  • Mereka juga menghilangkan sifat-sifat Tuhan, artinya sifat Tuhan tidak mempunyai wujud sendiri di luar zat Tuhan.
  • Baik dan buruknya perilaku dan perbuatan manusia ditentukan dengan akal.
  • Mereka beranggapan bahwa Al-Quran tidak qadim (kekal) tetapi huduts (baru).
  • Juga memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat nanti
  • Mereka hanya mengakui Isra' Rasulullah ke Baitul Maqdis saja tetapi tidak mengakui Mi'rajnya ke Sidratul Muntaha.
  • Selain itu mereka juga tidak mempercayai adanya Arsy dan “Kursi Allah”, Malaikat pencatat amal (Kiraman Katibin), dan siksa kubur.
  • Tidak mempercayai adanya Mizan (timbangan amal), Hisab (perhitungan amal), Shiratal Mustaqim (Titian), Haud (kolam nabi) dan Syafa'at Nabi di hari Kiamat.
  • Mereka juga beranggapan bahwa siksaan di neraka dan kenikmatan di surga tidak bersifat kekal.


2. Syi’ah 

Syi'ah merupakan salah satu golongan dalam Islam yang mana golongan ini mencintai baginda Ali dengan sangat berlebihan sehingga lambat laun mereka memiliki keyakinan yang menyesatkan dan bertolak belakang dengan ajaran Rasulullah.

Sy'iah secara bahasa berarti “Pengikut dan Penolong”, kalimat ini lazim diucapkan untuk sekelompok manusia yang bersatu/berkumpul dalam satu masalah serta setiap orang yang bersedia membantu dan menolong dalam kelompok tersebut.

Lambat laun kata ini mengalami pergeseran yang dipergunakan untuk menyebut salah satu kelompok yang menolong dan membantu khalifah Ali beserta keluarganya, hingga istilah ini dikhususkan bagi kelompok tersebut.

Menurut Asy-Syihristaniy, Syi'ah adalah kelompok yang mengikuti Khalifah Ali dan menyatakan bahwa kepemimpinan sayyidina Ali r.a telah tercatat secara nash serta kepemimpinannya merupakan wasiat dari Nabi bahwa sayyidina Ali adalah khalifah pertama dan menganggap bahwa ketiga khalifah yang lainnya sebagai penghalang atas majunya sayyidina Ali sebagai khalifah. Bahkan kelompok ini tidak mengakui adanya 3 Khalifah sebelumnya yakni Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar, serta Utsman.

Menurut beberapa ahli sejarah, madzhab ini disebarkan pertama kali oleh Abdullah bin Saba atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Saudah yaitu seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam pada zaman khalifah 'utsman dengan tujuan untuk menghancurkan dan menggerogoti Aqidah umat Islam dari dalam. Bahkan dengan kecerdikannya ia berhasil menghasut sebagian umat Muslim untuk memusuhi pemerintahan umat Islam, lebih-lebih pada masa Khalifah Utsman Bin Affan.

Pengikut Syiah yang paling banyak tersebar di negara Iran, Irak, Lebanon, India, Pakistan dan bahkan Arab Saudi hingga negara-negara Teluk. Diperkirakan pengikutnya mencapai 120 juta orang.

Golongan ini pun pecah menjadi beberapa golongan utama, diantaranya:
Syi'ah Sabaiyah, Syiah Kaisaniyyah, Syiah Mukhtariyyah, Syiah Hasyimiyyah, Syiah Bayaniyyah, Syiah Rizamiyyah.

Berikut beberapa keyakinan utama mayoritas kaum Syi'ah:
  • Mengkafirkan sahabat Nabi yang tidak mendukung Ali.
  • Kepemimpinan (Imamah) merupakan satu dari beberapa pokok keimanan.
  • Memandang Imam Itu ma'shum (orang suci)
  • Al-Quran yang sekarang mengalami perubahan dan pengurangan, sedangkan yang asli berada di tangan Al-Imam Al-Mastur.
  • Memperbolehkan Taqiyah (mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan realita atau melakukan sesuatu yang berseberangan dengan aturan syari'ah guna menyelamatkan nyawa, kehormatan atau kekayaannya).
  • Tidak menerima Ijma dan Qiyas.
  • Wajib sujud di atas tanah atau batu.
  • Memperbolehkan nikah Mut'ah (nikah kontrak).
  • Boleh tidak melakukan shalat Jumat karena Imam yang asli tidak ada.
  • Tidak mengamalkan hadits kecuali dari jalur keluarga Nabi Muhammad (Ahli Bait).

3. Khawarij

Mereka adalah salah satu golongan Islam yang beraqidah menyimpang dengan mengkufurkan baginda Ali dan mengkufurkan orang-orang yang berbuat dosa besar.

Khawarij menurut bahasa merupakan jamak dari kata "kharijiy", yang berarti “orang-orang yang keluar, mengungsi atau mengasingkan diri”.

Asy-Syihristani mendefinisikan bahwa Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari Imam yang berhak yang telah disepakati oleh masyarakat.

Kelompok Khawarij yang pertama adalah Al-Muhakkimah (Syuroh/Haruriyyah) yaitu pengikut Ali yang memisahkan diri karena tidak setuju adanya perdamaian antara beliau dengan Muawiyah saat perang Shiffin terjadi. Mereka ini menganggap Ali dan orang-orang yang menyetujui perdamaian tadi sebagai orang-orang kafir.

Khawarij sendiri terpecah menjadi beberapa aliran dan golongan, yang paling besar adalah Al-Azariqoh, An-Najdah, Al-'Ajaridah, Ash-Shufriyyah, dan Al-Ibadiyyah. Aliran terakhir ini merupakan aliran yang paling moderat diantara aliran Khawarij dan masih terdapat di Zanzibar, Afrika Utara, Umman dan Arabia Selatan.

Pendapat-pendapat mereka antara lain :
  • Pelaku dosa besar adalah kafir.
  • Imam boleh dipilih dari suku apa saja asal ia sanggup menjalankannya.
  • Keluar dari Imam adalah wajib apabila Imam tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
  • Orang yang tidak sepaham dengan mereka bahkan anak istrinya boleh ditawan, dijadikan budak atau dibunuh (Khawarij Al-Azariqoh) sedang menurut Khawarij Al-Ibadiyah mereka bukan mukmin dan bukan kafir, karena itu boleh bermuamalat dengan mereka, dan membunuh mereka adalah haram.
  • Anak-anak orang kafir berada di neraka (Khawarij Al-Azariqoh)
  • Membatalkan hukum rajam karena tidak ada dalam Al-Quran (Khawarij Al-Azariqoh)
  • Surat Yusuf bukan termasuk al-Quran karena mengandung cerita cinta (Khawarij Al-'Ajaridah).


4. Murji'ah

Murji'ah berasal dari kata "إِرْجَى" yang berarti menangguhkan. Kaum Murjiah muncul pada abad I Hijriyyah sebagai reaksi akibat adanya perbedaan pendapat antara kelompok Syiah dan Khawarij.

Pada mulanya kelompok yang dipimpin oleh Hasan bin Bilal ini hanyalah kelompok yang membenci soal-soal politik, tetapi lambat laun kemudian kelompok ini sering membicarakan tentang Iman, tauhid dan lain-lain hingga terbentuklah golongan Murji’ah ini.

Kaum Murji'ah dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
 a. Golongan moderat, mereka berpendapat:
  •  Orang berdosa tidak sampai menyebabkan kafir dan mereka tidak kekal dalam neraka

 b. Golongan Ekstrim berpendapat :
  • Orang Islam yang percaya pada Allah kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidak menjadi kafir karena iman itu letaknya di dalam hati, meskipun melakukan ritual agama-agama lain.
  • Yang dimaksud ibadah adalah iman, sedangkan shalat, puasa, zakat dan haji hanya menggambarkan kepatuhan saja.
  • Maksiat atau pekerjaan-pekerjaan jahat tidak merusak iman.
  • Menangguhkan hukuman orang yang berdosa di akhirat.


5. Jabariyyah

Beraqidah bahwa manusia tidak memiliki ikhtiar, hanya Allah yang menentukan atas segala perbuatan manusia itu sendiri, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk.

Kata Jabariyah berasal dari kata "جَبَرَ" yang berarti "Memaksa". Lebih lanjut Asy-Syahratsan menegaskan bahwa paham Al-Jabar berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkan kepada Allah sepenuhnya. Dengan kata lain manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan dipaksa oleh Allah S.W.T.

Aliran ini diperkenalkan oleh Ja’d Bin Dirham kemudian disebarkan oleh seorang dari Khurasan yakni Jahm bin Safwan (131 H), ia adalah sekretaris Harits bin Suraih yang memberontak pada Bani Umayyah di Khurasan. Namun dalam perkembangannya paham al Jabar juga dikembangkan oleh tokoh lainnya diantaranya Al-Husain Bin Muhammad An-Najjar dan Ja’d Bin Dirrar.

Pendapat-pendapat mereka :
  • Manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya tetapi dipaksa oleh Allah.
  • Iman cukup dalam hati saja walau tidak diikrarkan dengan lisan.

Keyakinan Jabariyah ini bertolak belakang dengan keyakinan Qadariyah , Keduanya berbeda dengan apa yang terdapat dalam Ahlussunnah, yang mana Ahlussunnah meyakini bahwa setiap manusia memiliki pilihan dan kebebasan dalam menentukan kehendak, manusia diperintahkan untuk berusaha yakni diperintah berbuat baik dan dilarang berbuat kejahatan, sementara apapun yang akan dilakukan oleh manusia sudah ditetapkan (telah tertulis) dalam suratan takdir yang telah Allah gariskan untuknya.

6. Qadariyyah

Qodariyyah berasal dari kata "قَدَرَ" yang artinya "Mampu atau Berkuasa". Paham Qadariyah muncul sekitar tahun 70H (680M) memiliki ajaran yang hampir sama dengan Mu’tazilah., yaitu manusia mampu mewujudkan tindakan atau perbuatannya sendiri. Tuhan tidak ikut campur dalam perbuatan manusia itu, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena Qada' dan Qadar. 

Pemimpin aliran ini yang pertama adalah Ma'bad Al-Juhani dan Ghailan Ad-Dimasyqiy. Keduanya dihukum mati oleh penguasa karena dianggap menganut paham yang salah.

Mereka berpendapat bahwa:
  • Manusia sendirilah yang melakukan pebuatannya sendiri dan Tuhan tidak ada hubungan sama sekali dengan perbuatannya itu.
  • Iman adalah pengetahuan dan pemahaman, sedang amal perbuatan tidak mempengaruhi iman. Artinya, orang berbuat dosa besar tidak mempengaruhi keimanannya.
  • Orang yang sudah beriman tidak perlu tergesa-gesa menjalankan ibadah dan amal-amal kebijakan lainnya.


7. Hululiyyah

Kelompok ini disebut juga Ahlussunnah wal Jama'ah karena pandapat mereka berpijak pada pendapat-pendapat para sahabat yang mereka terima dari Rasulullah. Inilah golongan yang dimaksud oleh Rasulullah dalam haditsnya, satu golongan dari beberapa golongan yang akan mendapat keberuntungan pad hari akhir kelak.

Kelompok ini disebut juga kelompok ahli hadits dan ahli fiqih karena merekalah pendukung-pendukung dari aliran ini. Istilah Ahlussunnah wal Jama'ah mulai dikenal pada saat pemerintahan bani Abbasiyah dimana kelompok Mu'tazilah berkembang pesat, sehingga nama Ahlussunnah dirasa harus dipakai untuk setiap manusia yang berpegang pada Al-Quran dan Sunnah. Dan nama Mu'tazilah dipakai bagi kelompok yang berpegang pada ilmu kalam, logika dan rasio.

Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlussunnah wal Jama'ah adalah orang-orang yang mengikuti rumusan yang digagas oleh Imam Asy'ari dan Imam Maturidi.

Pendapat-pendapat mereka antara lain :
  • Hukum Islam di dasarkan atas Al-Quran dan al-Hadits.
  • Mengakui Ijmak dan Qiyas sebagai salah satu sumber hukum Islam.
  • Mengakui adanya sifat-sifat Allah.
  • Al-Quran adalah Qodim bukan hadits.
  • Orang Islam yang berdosa besar tidaklah kafir.

Alhasil dapat ditarik kesimpulan bahwa dari semua aliran yang telah disebutkan diatas, dari 72 golongan yang ada semua masuk dalam kategori golongan yang menyesatkan dalam Islam kecuali satu golongan yang disebutkan oleh Rasulullah yaitu  mereka yang beraqidah sesuai ajaran Rasulullah S.A.W, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in, mereka adalah Ahlusunnah waljamaah. Allah S.W.T berfirman

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Artinya:
"Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali". (An-Nisa’:115)

Subhanallah, begitu banyaknya golongan Islam ini yang terlahir dari berbagai latar belakang, namun sangat disayangkan, mayoritas golongan ini lebih mengarah kedalam kesesatan. Bahkan jauh sebelum Rasulullah wafat, beliau sudah memperkirakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi beberapa golongan. Inilah yang harus kita waspadai, menghadapi kelompok-kelmpok yang bermaksud untuk menjerumuskan kita kedalam kesesatan, sudah selayaknya kita sebagai umat Rasulullah mampu untuk membentengi diri dan keluarga dari berbagai paham yang tidak sesuai dengan syariat ini. Semoga Allah senantiasa memberikan jalan kemudahan bagi kita untuk menghindari berbagai kesulitan yang ada. Aamiin.

0 comments:

Post a Comment