September 24, 2017



Spirit Muslim. Hari kiamat, sebuah masa yang mana semua amal perbuatan seseorang akan dilimpahkan dan dipertanggung jawabkan semasa ia hidup didunia. Tidak ada amal perbuatan lagi yang dapat dilakukan saat hari penghakiman ini tiba. Sebuah masa perhitungan amal perbuatan untuk menentukan kehidupan kekal kita diakhirat nanti, sebuah pilihan antara surga atau neraka.
Berharap rahmat dari Allah dan syafaat dari Rasulullah lah yang kelak akan menjadi penolong kita saat hari akhir ini tiba. Beruntunglah orang-orang yang semasa hidupnya banyak melakukan amal perbuatan baik, menjalankan perintah syariat, menghindari larangan dalam syariat, hingga menjauhkan diri dari berbagai maksiat dunia. Karena kelak orang-orang seperti inilah yang dijanjikan Allah untuk menempati surga yang telah Allah sediakan untuk hamba-Nya yang taat terhadap-Nya.

Bahkan Allah akan menjanjikan sebuah naungan pada hari kiamat kelak kepada 7 golongan yang diridhai oleh Allah.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa akan ada 7 golongan yang kelak akan mendapat naungan dan pertolongan langsung oleh Allah S.W.T.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’. Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya”. (H.R. Bukhari Muslim, ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Baihaqi).

PENJELASAN HADITS

Beberapa ulama menafsirkan bahwa penyebutan jumlah “tujuh orang” di dalam hadits diatas bukanlah merupakan sebuah pembatas bagi 7 orang yang disebutkan, sehingga tidak dapat diartikan bahwa golongan yang akan dinaungi Allah Ta’ala pada hari Kiamat hanya terbatas pada tujuh golongan ini saja.

Kedudukan hadits ini sangat penting agar kaum Muslimin dapat melaksanakan amalan-amalan yang terkandung di dalamnya, sehingga kita dapat memperoleh perlindungan dan naungan Allah S.W.T pada hari Kiamat. Dalam hadits diatas disebutkan

يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ..

Artnya:
"Mereka dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya..."

Beberapa pendapat bathil menyatakan bahwa tujuh golongan yang dimaksud kelak di hari akhir nanti akan dilindungi dari matahari, sehingga ada anggapan bahwa antara ketujuh orang tersebut dan matahari terdapat Allah yang akan melindunginya. Ini adalah pendapat yang keliru, karena Allah di atas segala sesuatu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ketujuh golongan tersebut akan dilindungi oleh Allah di bawah ‘Arsy-Nya, bukan Allah yang berada langsung di bawah matahari karena Allah Maha Kuasa di atas segala sesuatu dan berpisah dengan makhluk-Nya.

Selain itu terdapat lafadz فِي ظِلِّهِ, yang mana jika ditafsirkan secara gamblang berarti "Bayangan Allah". Namun lafadz tersebut tidak diartikan demikian, karena mustahil Alah memiliki bayangan layaknya makhluk, oleh karena itu lafadz tersebut bermakna "Naungan Allah" yang mana lafadz tersebut berupa idhafah (penyandaran) bayangan kepada Allah Azza wa Jalla . Para Ulama mengatakan.

إِضَافَتُهُ إِلَى اللهِ إِضَافَةُ تَشْرِيْفٍ

Artinya: "Penyandarannya kepada Allah, yaitu penyandaran yang bertujuan untuk memuliakan"

Yaitu menunjukkan kemuliaan, seperti masjidullaah, baitullaah, dan selainnya. Dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa naungan yang dimaksud adalah naungan ‘Arsy Allâh Azza wa Jalla.

Pada hari akhir kelak, manusia sangat membutuhkan perlindungan Allah dan syafaat Rasulullah. Pada hari itu mereka dikumpulkan di tempat lapang yang sangat luas, tidak ada naungan apapun juga. Mereka dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak memakai alas kaki, tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya, laki-laki dan perempuan sama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ إِلَى اللهِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dihimpun (pada hari Kiamat) menuju Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan".

Kemudian matahari didekatkan di atas kepala-kepala manusia, hingga peluh keringat bercucuran membasahi tubuh mereka. Sebagian manusia, ada yang terendam sebatas mata kakinya, ada yang terendam sebatas lututnya, ada pula yang sampai pinggangnya, ada yang sampai pundaknya, bahkan ada yang sampai ke mulutnya. Keadaan semacam ini sesuai dengan amalan-amalan mereka.

Rasulullah S.A.W bersabda:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ

Artinya: "(Pada hari Kiamat) matahari akan didekatkan (oleh Allah) kepada seluruh makhluk hingga hanya sejarak satu miil". (H.R. Muslim)

Berikut 7 orang yang akan mendapatkan naungan Allah S.W.T kelak saat hari penghakiman tiba.

(1).PEMIMPIN YANG ADIL

Dalam Islam pemimpin disebut juga dengan Al-Imam, yang dimaksud dengan Al-Imam yakni seorang yang mempunyai kekuasaan besar seperti raja, presiden, para pejabat hingga orang-orang yang memimpin urusan kaum Muslimin seperti seorang kyai dan lain sebagainya

Imam yang adil disini memiliki artian bahwa seorang pemimpin yang tunduk dan patuh dalam mengikuti perintah Syariat Islam yang mana ia juga mampu meletakkan sebuah perkara secara proporsional (yang semestinya), tanpa melanggar atau melampaui batas dan tanpa berbuat sia-sia. Keadilannya tidak beralih pada harta dan tidak beralih pada kesenangan dunia. Itulah pemimpin yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat.

Keadilan seorang imam terletak pada caranya menegakkan kalimat Tauhid di muka bumi dengan menyingkirkan segala perbuatan yang melanggar aturan agama, dan melaksanakan hukum-hukum Allah S.W.T. Seorang pemimpin juga dituntut untuk mampu menyingkirkan berbagai bentuk kesyirikan yang ada dalam wilayahnya.

Allah S.W.T berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: “… Sesungguhnya syirik (menyekutukan Allâh) adalah benar-benar kezhaliman yang paling besar”. (Q.S. Luqman:13).

Telah kita ketahui bersama bahwa banyak fenomena zaman sekarang, yang mana saat ada seorang pemimpin yang melakukan kesalahan maka orang-orang berusaha untuk menjatuhkannya dan berebut untuk dapat menggantikan kedudukannya. Hal ini bertolak belakang dengan dengan yang diajarkan oleh Rasulullah, yang mana beliau melarang para sahabatnya untuk berkeinginan menjadi penguasa. Bukan tanpa sebab, karena seperti yang kita tahu bahwa seorang pemimpin memimpin bawahannya yang mana kelak akan dimintai pertanggung jawabannya kelak didunia dan di akhirat. Menjadi seorang pemimpin bukanlah perkara mudah, ia memiliki tanggung jawab yang besar terhadap apa yang dipimpinnya. Saat seorang pemimpin tergiur akan nafsu dan iming-iming dunia, bukan tidak mungkin ia akan melakukan banyak sekali kesalahan yang dapat menyengsarakan bawahannya.

Oleh sebab itu sudah sepatutnya saat seorang pemimpin melakukan sebuah kesalahan, hendaknya kita mengingatkan dan memberikan nasihat kepada pemimpin yang lalai tersebut untuk kembali menjalankan tugasnya sejalan dengan syariat Islam.

Terbesit dalam benak sebuah pertanyaan, “Apakah boleh seorang wanita menjadi pemimpin ?

Jawabannya, “Tidak boleh.”

Di dalam hadits di atas pun disebutkan bahwa imam yang dimaksud adalah seorang laki-laki. Tidak ada wanita dalam hal kepemimpinan. Islam melarang wanita menjadi pemimpin dan melarang suatu kaum menjadikan wanita sebagai pemimpin mereka. Saat sebuah umat dipimpin oleh seorang wanita, maka binasalah umat tersebut

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُفْلِحُ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ

Artinya: “Tidak berbahagia suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita”. (H.R. Ahmad).

Imam al-Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah menjelaskan bahwa seorang wanita haram hukumnya menjadi pemimpin.

Bahkan. . . . .

Diriwayatkan dalam hadits Shahih oleh Imam Al-Bukhari bahwa ketika para sahabat menyampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang-orang Persia dipimpin oleh seorang wanita, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَةً

Artinya: “. . .Tidak akan berbahagia suatu kaum jika yang memimpin urusan mereka adalah seorang wanita. . .” (H.R. Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi)

Lafazh lan (لَنْ) disini menunjukkan “lan lit tab’id”, yaitu bermakna selama-lamanya. Dengan kata lain jika ada kaum yang dipimpin oleh seorang wanita maka kaum tersebut tidak akan bahagia selama-lamanya.

Imam Al-Baghawi rahimahullah berkata, “Para Ulama sepakat bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi imam (penguasaatau pemimpin), juga tidak boleh menjadi qadhi (hakim).”

Pemimpin ini bersikap adil. Dalam hal amanat ia benar-benar mengembannya dengan baik, tidak melampaui batas dan tidak meremehkan. Maka jika ada pemimpin yang adil memimpin bawahannya sesuai dengan syariat Islam, maka Allah janjikan naungan-Nya di hari akhir kelak.

(2).PEMUDA YANG TUMBUH DALAM KETAATANNYA PADA ALLAH

Pada dasarnya seorang pemuda memiliki nafsu dan hasrat yang begitu tinggi pada kehidupan dunia dan kebanyakan dari mereka lalai dari akhirat. Inilah salah satu hikmah yang dapat dipetik dari penyebutan seorang pemuda ini, bahwa jika ada pemuda yang rajin menghidupkan agama dengan berjamaah di masjid, memiliki akhlak yang mulia terhadap orang tuanya, serta mengekang berbagai maksiat yang ada, maka pemuda inilah yang akan memiliki harapan untuk mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat kelak.

Bertolak belakang dari para pemuda diatas, melihat zaman seperti sekarang ini yang mendekati hari akhir, sepertinya pemuda seperti yang disebutkan diatas sudah jarang kita temui, kebanyakan dari mereka lalai untuk menghidupkan agama, lebih parah lagi di antara mereka lebih suka bersenang-senang dan berfoya-foya menikmati masa muda mereka.

Bahkan dari mereka memanfaatkan waktu luang mereka untuk hal-hal yang tidak berguna, seperti bermain game, kebut-kebutan motor di sore hari, hingga bermain band. Waktu mereka habis untuk hal-hal yang sia-sia semacam itu, bahkan maksiat pun menjadi hal yang lumrah bagi mereka.

Maka pantas saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan pemuda yang rajin ibadah ini dalam golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat mengingat sulitnya memerangi hawa nafsu yang ada pada diri seorang pemuda. Inilah balasan yang setimpal bagi para pemuda yang taat terhadap Allah dan Rasulnya.

(3).ORANG YANG HATINYA SELALU TERIKAT DENGAN MASJID

Orang yang terikat dengan Masjid dikhususkan bagi laki-laki. Sedangkan seorang wanita lebih layak ia berada di rumah. Bahkan untuk shalat lima waktu sekalipun, seorang wanita lebih utama mengerjakannya di rumah. dalam hadits shahih riwayat Ahmad dan Abu daud dari Umar r.a.

وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Artinya: "Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka". (H.R. Ahmamd dan Abu daud).

Inilah maksud dari hadits diatas bahwa lebih banyak keutamaan yang didapatkan seorang wanita jika ia berada dalam rumah. Lebih baik mereka shalat dirumah jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah ketika ia ke Masjid. Akan tetapi apabila mereka meminta izin kepada sang suami untuk shalat di masjid, maka suami hendaknya mengizinkannya dengan ketentuan tidak menimbulkan fitnah.

Dalam riwayat hadits shahih yang lain, Rasulullah bersabda:

لَا تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلَاتٌ

Artinya: "Janganlah kalian melarang para wanita (shalat) di masjid Allah, akan tetapi hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak memakai parfum". (H.R. Ahmad dan Abu Dawud).

Kembali berbicara mengenai seorang laki-laki yang hatinya terkait dengan masjid, adalah ia yang biasa menunggu shalat setelah shalat, sebagai contoh saat ia menunggu waktu antara Maghrib dan Isya dengan berada dalam majelis ilmu dengan mendengar kajian Quran maupun hadits.

Selain itu orang yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid, ia akan senantiasa mengingat shalat berjamaah walau dalam keadaan sibuk sekalipun. 

Mereka juga tak segan untuk menghidupkan Masjid dengan berbagai kegiatan yang dapat mempererat ukhuwah Isamiyyah. Orang yang hatinya terikat dengan masjid akan selalu berusaha bagaimana caranya untuk memanfaatkan “Rumah Allah” sebagai media syiar Islam. Merekalah yang pada akhirnya akan beruntung pada hari penghakiman kelak, saat Allah menaungi mereka dari hiruk-pikuknya hari akhir kelak.

Dalam hadits shahih riwayat at-Tirmidzi disebutkan,

وَرَجُلٌ كَانَ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِالْـمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ إِلَيْهِ 

Artinya: “. . . .Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, apabila ia keluar dari masjid hingga kembali kepadanya”. (H.R. Tirmidzi).

Hadits diatas menjelaskan betapa besarnya rasa cintanya seorang laki-laki terhadap Masjid, bahkan dapat kita umpamakan hatinya bagaikan lampu pelita yang terpasang di atapnya, di mana dia tidaklah keluar darinya melainkan dia akan kembali.

(4).DUA ORANG YANG SALING MENCINTAI DI JALAN ALLAH

Kategori keempat ini tidak hanya berlaku bagi sepasang kekasih, namun juga bagi seseorang memiliki teman yang mana semata untuk mencari ridha Allah.  Keduanya ini tertarik karena keshalihannya, bukan tertarik pada dunia maupun harta. Dan keduanya bersama-sama untuk berjuang menegakkan syariat Islam dimuka bumi ini. Pertemanan tersebut dibangun atas landasan iman dan taqwa sampai maut menjemput.

Imam an-Nawawi rahimahullah memasukkan hadits ini dalam kitabnya, Riyadhush Shalihin pada bab “Keutamaan Cinta karena Allah”.

Mencinta seseorang hanya karena Allah S.W.T adalah cinta yang tidak dapat dinodai oleh unsur-unsur keduniaan, ketampanan, harta, kedudukan, fasilitas, suku, bangsa dan yang lainnya. Akan tetapi dia melihat dan mencintai seseorang karena ketaatannya dalam melaksanakan perintah Allah dan kekuatannya dalam meninggalkan larangan-Nya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Disebut dengan dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, di mana ia berpisah dan berkumpul karena-Nya, yaitu apabila keduanya saling mencintai karena agama, bukan karena yang lainnya. Dan cinta agama ini tidak putus karena dunia, baik dia berkumpul secara hakiki atau tidak, sampai kematian memisahkan keduanya”.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam kitab Fathul Bari’ disebutkan bahwa yang dimaksud adalah berkumpul di atas kebaikan.

Dalam Bahjatun Nadzirin disebutkan bahwa keduanya berkumpul dan berpisah hanya karena Allah, raganya mungkin terpisah karena safar (bepergian) atau kematian tetapi ruhnya tetap berkumpul di atas manhaj Allah S.W.T.

Sebagaimana yang disebutkan pada sebuah hadits shahih dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا اِئْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اِخْتَلَفَ.

Artinya: “Ruh-ruh itu selalu terkumpul dan terhimpun, siapa yang kenal ia akan berkumpul dan siapa yang tidak saling mengenal, maka ia berpisah”. (H.R. Bukhari Muslim dan Abu Dawud).

Hal ini juga berlaku bagi dua orang wanita Muslimah yang saling mencintai karena Allah S.W.T, yaitu cinta dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah S.W.T. Oleh sebab itu, apabila kita mencintai seseorang karena ketaatannya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan kesungguhannya dalam menjauhi larangan-Nya, maka dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita memberitahukan kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, yaitu:

إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللهِ

Artinya: “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah. . . .”
Kemudian jawabannya adalah:

أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ

Artinya: “Mudah-mudahan Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya”. (H.R. Abu Dawud dan Al-Hakim: Hadits ini Hasan)

Inilah janji Allah bagi keduanya, bagi dua orang yang saling memiliki rasa cinta hanya untuk Allah, bagi dua orang yang selalu berjuang bersama-sama menegakkan kalimat tauhid, bagi dua orang yang saling mendukung dalam hal kebaikan, Allah janjikan naungan bagi keduanya pada hari akhir kelak berupa mimbar-mimbar dari cahaya sebagai balasan atas perjuangan keduanya dalam menegakkan Agama Islam hingga akhir hayatnya.

Sebagaimana hadits shahih dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman:

اَلْـمُتَحَابُّوْنَ فِي جَلاَلِي، لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّوْنَ وَالشُّهَدَاءُ

Artinya: “Orang yang saling mencintai berada dalam lindungan-Ku, diberikan bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya yang dicita-citakan oleh para Nabi dan syuhada‘ (orang-orang yang mati syahid)”. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

(5).SEORANG LAKI-LAKI YANG DIAJAK BERZINA NAMUN IA MENOLAKNYA

Allah S.W.T berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”. (Al-Isra :32).

Adalah seorang laki-laki yang tidak tergiur akan hasrat nafsu dunia meskipun ia diajak berzina oleh seorang wanita yang kaya raya, terhormat nan cantik. Sebaliknya, mereka akan menolak ajakan tersebut dan teringat akan adzab Allah jika ia menuruti hasrat nafsunya tersebut.

Terdapat salah satu kisah dari Nabi Yusuf ‘alaihis salam dengan permaisuri Raja Mesir yang menggodanya. Jika saja tidak dengan pertolongan dan perlindungan Allah tentu Nabi Yusuf bisa saja terjerumus dalam zina yang hina tersebut.

Untuk itu hindarilah sebuah maksiat yang mengarah kepada zina dengan mengingat kalimat “Laa hawla wa laa quwwata illa billah”.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ

Artinya: “Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindungan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

Artinya: “Dan seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu laki-laki tersebut berkata: ‘Sungguh aku takut kepada Allah".

(6).ORANG YANG BERSHADAQAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI

Golongan keenam yang akan dijanjikan akan mendapat naungan Allah kelak adalah seorang yang bershadaqah secara sembunyi-sembunyi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

Artinya: “Seseorang yang bershadaqah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya”.

Lihatlah ibarat yang dinyatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits diatas, yakni “sedekah dengan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya”. Ini menunjukkan bahwa sangat dianjurkannya seseorang untuk bershadaqah secara sembunyi-sembunyi yang mana orang lain tidak mengetahui shadaqah yang kita infaqkan hingga tangan kiri yang paling dekat saja tidak mengetahui kalau kita bershadaqah.


Pada kondisi tertentu dianjurkan memberikan sedekah secara terang-terangan, misalkan di suatu tempat didapati orang-orang yang sangat sulit untuk bersedekah, maka dianjurkan untuk memulainya secara terang-terangan agar menjadi contoh bagi mereka untuk bershadaqah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ


Artinya: “Barangsiapa yang memulai sunnah dalam Islam dengan sunnah yang baik, maka diberikan pahala baginya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka…” (H.R. Muslim dan Nasa’i).

Bahkan Allah S.W.T sangat menganjurkan para hamba-Nya untuk bershadaqah. Hal ini termaktub dalam firman Allah dalam Surat Al-Baqarah.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 271).

Beberapa keutamaan menyembunyikan sedekah dalam Islam diantaranya dapat menjauhkan diri dari sifat riya’. Maka benarlah janji Allah jika kelak orang-orang seperti ini akan mendapat naungan dari Allah, karena betapa sulitnya seseorang untuk menghindarkan diri dari sifat riya’ saat bershadaqah.

Pada akhirnya mereka akan mendapat keberuntungan pada hari akhir kelak, sebuah naungan yang dijanjikan Allah akan hadir kepada orang yang rajin bershadaqah secara sembunyi-sembunyi tersebut.

(7).ORANG YANG BERDZIKIR KEPADA ALLAH DALAM SEPI DENGAN KEADAAN MENETESKAN AIR MATA

Salah satu umat yang akan menadapatkan naungan dari Allah kelak adalah seorang yang senantiasa berdzikir dalam keadaan sepi dengan meneteskan air mata, ia adalah seorang yang ikhlas berdzikir pada Allah dengan benar-benar menghayati, hingga terkadang air matanya tak terasa menetes ketika menyendiri karena takutnya pada Allah, karena kelemahannya dihadapan Allah, karena ia merasa memiliki dosa selama ia hidupnya.

Sabda Rasulullah S.A.W:

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya: “Dan seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sepi lalu air matanya mengalir”.

Dapat dipahami bahwa hadits diatas memiliki penafsiran seorang laki-laki yang mengingat Allah atau berdzikir kepada-Nya, berdzikir dengan hati dan lisannya, dan dalam keadaan sepi kemudian air matanya mengalir.

Dalam Hadits shahih yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

Artinya: “Ada dua mata yang tidak disentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allâh dan mata yang bergadang karena menjaga peperangan di jalan Allah”. (H.R. Tirmidzi).

Tentunya amalan seperti haruslah mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah, baik Berdzikir (mengingat) Allah dengan membaca dzikir, do’a maupun bangun untuk shalat di tengah malam.

Demikian juga apabila seorang suami yang bangun di tengah malam lalu melaksanakan shalat Tahajjud, kemudian dia membangunkan isterinya untuk melakukan shalat Tahajjud atau sebaliknya, maka beruntunglah keduanya, karena keduanya termasuk golongan orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, dan kelak mereka lah yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat hari penghakiman tiba.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ

Artinya: “Seorang suami yang bangun ditengah malam dan membangunkan isterinya lalu keduanya shalat malam, maka keduanya termasuk laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah”. (H.R. Ibnu Majjah, Abu Dawud, dan Al-Hakim).

Itulah tadi ketujuh orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat kelak. Mari kita sebagai Muslim berlomba-lomba untuk menjadi ketujuh orang kandidat umat Muslim yang telah disebutkan diatas yang mana akan mendapatkan keberuntungan naungan dari Allah kelak saat hiruk pikuk hari akhir tiba. Tidak ada daya dan upaya yang mampu kita lakukan saat catatan amal perbuatan kita dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya, hanya pertolongan dari Allah, syafaat dari Rasulullah, dan syafaat dari orang-orang shalih lah yang mampu menolong kita kelak saat amal perbuatan kita dipertanggung jawabkan pada hari kiamat. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiinn.

0 comments:

Post a Comment