August 08, 2017




Spirit Muslim. Nabi Khidir (الحضر) adalah seorang nabi misterius yang telah diceritakan dalam Al-Quran Surat Al-Kahfi ayat 60-82. Asal-usul nabi Khidir juga tidak banyak disebutkan dalam kitab-kitab. Kabar mengenai keberadaan nabi Khidir pun juga terbilang masih simpang siur. Ada yang menyebutkan bahwa beliau masih hidup sampai sekarang. Ada pula yang menyebutkan bahwa beliau sudah meninggal.

Namun dibalik kesimpang siuran berita tersebut, terdapat sebuah kisah teladan yang menceritakan pertemuan antara Nabi Khidir dengan Nabi Musa. Dikisahkan bahwa Nabi Khidir memperkenalkan ilmu hikmah yang belum pernah diketahui oleh Nabi Musa. Berbagai peristiwa aneh pun ditemui Nabi Musa semenjak beliau mengenal Nabi Khidir, mulai dari membunuh anak kecil hingga membangunkan sebuah tembok rumah salah seorang yang mana penduduknya terkenal akan kebakhilannya.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa nabi Khidir memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda dari orang-orang pada umumnya, yakni: jempol tangan kanan tidak memiliki tulang, senantiasa membawa tongkat, perawakannya pun juga lebih tinggi dari kebanyakan pada umumnya.

Nabi Khidir a.s merupakan hamba Allah S.W.T yang sangat khusus. Beliau diutus untuk memberi pelajaran ilmu makrifat kepada para wali, sufi, hingga orang-orang yang tekun dan taat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Beliau juga seseorang yang telah mengajarkan tentang ilmu kebijaksanaan kepada nabi Musa a.s.

Baca juga: kisah uwais al-qarni dan baktinya kepada sang ibu

PERTEMUAN NABI MUSA A.S DENGAN NABI KHIDIR A.S.
Salah satu kisah Al-Quran yang sangat mengagumkan dan penuh misteri adalah kisah pertemuan nabi Musa dan nabi Khidir yang terdapat dalam surat Al-Kahfi. Kisah ini dimulai dengan cerita nabi Musa yang tertuang dalam ayat 60 pada surat Al-Kahfi.


وَ إِذْ قَالَ مُوْسَى لِفَتَهُ لَآ اَبْرَحُ حَتَّى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا

Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata pada muridnya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun". (Q.S. Al-Kahfi: 60).

Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama hingga mencapai suatu tempat yang disebutkan pada ayat diatas yakni مَجْمَعْ الْبَحْرَيْنِ (Pertemuan dua lautan). Disana terdapat perjanjian bahwa Musa akan mendapati seorang guru yang dikenal dengan nabi Khidir.

Tidak ada yang tahu pasti mengenai keberadaan مَجْمَعْ الْبَحْرَيْنِ  ini. Ada yang mengatakan berada diantara laut Persia dan Romawi, laut Yordania, Thanjah, hingga Afrika. Tetapi mereka tidak dapat menunjukkan bukti yang kuat dari tempat-tempat tersebut.

Kisah pertemuan ini bermula saat Nabi Musa mengajak Bani Israel untuk beriman kepada Allah. Menurut Ibn Abbas, Ubay bin Ka'ab menceritakan bahwa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: "Nabi Musa a.s berbicara ditengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk menyembah Allah S.W.T dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran. Setelah beliau (Musa) menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israel bertanya:

"Apakah ada di muka bumi seorang yang lebih alim darimu wahai nabi Allah ".

Musa menjawab: "Tidak ada".

Mengetahui hal tersebut Allah tidak berkenan dengan jawaban nabi Musa, lantas Allah mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya: "Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui dimana Allah S.W.T meletakkan ilmu-Nya ?, sesungguhnya Allah S.W.T mempunyai seorang hamba yang berada di مَجْمَعْ الْبَحْرَيْنِ  yang ia lebih alim daripada kamu".

Mendengar hal itu, jiwa nabi Musa yang mulia tergugah untuk menambah ilmu, lalu timbullah keinginan dalam dirinya untuk pergi dan menemui hamba yang alim ini. Musa bertanya tentang bagaimana ia dapat menemui orang tersebut. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi ke sebuah tempat membawa ikan yang ada di keranjang, jika di tengah perjalanan ikan itu hidup kemudian melompat ke lautan maka di tempat itu lah Musa akan menemui hamba yang alim tersebut.



Nabi Musa akhirnya pergi ditemani dengan murid sekaligus pembantunya bernama Yusya bin Nun. Pemuda itu bertugas membawa ikan yang ada di keranjang tersebut. Mereka berdua pergi mencari hamba yang alim tersebut.

Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak memberimu tugas apapun kecuali engkau memberitahuku dimana ikan itu akan berpisah denganmu".

Murid tersebut berkata: "Sungguh engkau hanya memberi aku tugas yang tidak terlalu berat".



Mereka berdua lantas pergi mencari tempat yang dimaksud, namun tempat yang mereka cari adalah sebuah tempat yang samar yang tidak semua orang mengetahuinya. Tempat itu berkaitan dengan hidupnya ikan yang ada di keranjang tersebut yang akan melompat menuju laut. Keinginan kuat nabi Musa ini tidak pernah menyurutkan tekadnya untuk menemui hamba yang alim ini meski harus berjalan sangat jauh dan menempuh waktu yang cukup lama.

Hingga suatu ketika, sampailah keduanya di sebuah batu di sisi laut. Musa memutuskan untuk istirahat ditempat itu karena tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya, sedangkan muridnya masih terjaga. Disela-sela mereka beristirahat, angin bergerak ke tepi lautan dan ikan itu bergerak hidup dan melompat ke laut. Muridnya mengetahui hal itu namun lupa memberitahukan kepada Musa bahwa ikan tersebut telah melompat keluar dari keranjangnya.

Melompatnya ikan itu ke laut merupakan sebuah tanda yang diberitahukan Allah S.W.T kepada Musa tentang tempat pertemuannya dengan seorang alim yang ingin ditemui Musa.


فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوْتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيْلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

Artinya:
"Maka tatkala mereka sampai dipertemuan dua laut itu mereka lupa akan ikannya, lalu ikan itu mengambil jalannya ke laut melalui saluran". (Q.S. Al-Kahfi: 61).

Musa bersama muridnya tersebut kembali melanjutkan perjalanan sampai mereka berdua lupa akan ikan yang dibawanya tersebut. Kemudian Musa merasa keletihan lagi setelah perjalanan tersebut dan berkata kepada muridnya: "Coba bawalah kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan keletihan akibat perjalanan ini".

Seketika itu juga muridnya mulai teringat bahwa ikan itu telah melompat menuju lautan di tempat mereka istirahat pertama kali. Ia pun segera menceritakan hal itu kepada Musa. Ia meminta maaf kepada Musa karena lupa menceritakan peristiwa itu. Syetan telah membuatnya lupa. Nabi Musa merasa gembira mengetahui bahwa ikan itu hidup dan kembali di lautan, Musa berkata: "Demikianlah yang kita inginkan".

Inilah isyarat tempat yang dimaksud Allah, saat ikan itu hidup dan melompat, maka sesungguhnya mereka telah menemukan tempat keberadaan hamba yang alim ini. Nabi Musa dan muridnya kembali menelusuri tempat yang dilaluiya tadi sampai tempat pertama kali mereka beristirahat dimana ikan tersebut bergerak menuju laut.

Mereka sampai disebuah batu dimana keduanya beristirahat disitu. Tak disangka-sangka, mereka mendapati seorang laki-laki berada disana. Dalam sebuah riwayat Bukhari, disebutkan bahwa Musa dan muridnya tersebut menemukan sosok laki-laki yang disebut sebagai nabi Khidir berada diatas sajadah hijau ditengah-tengah lautan.

Ketika Musa melihatnya, ia menyampaikan salam kepadanya.

Khidir berkata: "Apakah di bumimu ada salam ?, siapa kamu ?".

Musa menjawab: "Aku adalah Musa".

Khidir kembali berkata: "Bukankah engkau Musa dari Bani Israel. Bagimu salam wahai nabi dari Bani Israel.

"Dari mana kamu mengenalku ?". Tanya Musa heran.

Khidir menjawab: "Sesungguhnya yang mengenalkan kamu kepadaku adalah juga yang memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa ?".

Musa kembali bertanya: "Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya ?".

"Tidakkah cukup ditanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu ?. Sungguh engkau ingin mengikuti ?, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku". Jawab Khidir.

Musa mendapatkan suatu pernyataan yang tegas dari Khidir, namun beliau tetap bersikeras untuk mengikuti Khidir. Musa kembali mengharapnya untuk mengizinkan menyertainya belajar ilmu darinya. Musa kembali meyakinkan kepada Khidir bahwa ia akan bersabar dan tidak akan menentang sedikitpun apapun yang akan terjadi.

Akhirnya Khidir mengabulkan permohonannya dengan sebuah syarat bahwa Musa tidak diperbolehkan bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya. Musa sepakat atas syarat yang ditawarkan tersebut kemudian mereka pun pergi bersama.


KHIDIR MELUBANGI PERAHU ORANG LAIN.

Perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidir dimulai saat mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar dan mereka berbicara dengan orang-orang yang ada disana agar bersedia mengangkut mereka.

Para pemilik perahu tersebut mengenal Khidir dan membawanya bersama Musa. Sampai suatu ketika perahu tersebut berlabuh dan pemilik perahu tersebut meninggalkan perahunya. Musa dibuat terkejut ketika Khidir melubangi perahu itu.

Melihat tindakan Khidir tesebut, Musa heran dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Apa yang aku lakukan disini ?, mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini ?, mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israel dan membacakan kitab Allah sehingga mereka taat kepadaku ?. Sungguh para pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa upah. Mereka pun memuliakan kami, tetapi guruku justru merusak perahu itu dan melubanginya".

Tindakan Khidir dimata Musa tersebut merupakan tindakan tercela. Kemudian bangkitlah emosi Musa sebagai bentuk kecemburuannya kepada kebenaran. Ia terdorong untuk bertanya kepada Khidir dan lupa akan syarat yang disetujui agar tidak bertanya apapun yang terjadi.

Musa berkata: "Apakah engkau melubanginya agar para penumpang tenggelam ?, Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang tercela".

Mendengar pernyataan lugas Musa, Khidir berkata bahwa usaha untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa tidak mampu untuk bersabar.

Musa meminta maaf kepada Khidir karena lupa dan mengharap agar Khidir tidak menghukumnya.


KHIDIR MEMBUNUH ANAK KECIL.

Perjalanan kembali mereka lakukan, melewati suatu kebun yang dijadikan tempat bermain anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil tersebut letih bermain, salah seorang anak tampak bersandar di suatu pohon dan beristirahat disana. Namun siapa sangka, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Musa kembali dibuat terkejut melihat Khidir membunuh anak kecil itu.

Mengetahui perlakuan Khidir yang terlihat kejam, Musa dengan lantang bertanya kepada Khidir tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya. Namun apa yang didapat ?, Khidir kembali meyakinkan Musa bahwa Musa tidak akan mampu bersabar bersamanya.

Musa kembali tersadar akan janjinya, kemudian Musa kembali meminta maaf karena lagi-lagi ia lupa akan syarat yang telah disetujuinya tersebut. Kali ini Musa berjanji tidak akan bertanya lagi. Musa berkata bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menemani Khidir. Perjalanan kembali mereka lanjutkan.

KHIDIR MEMBANGUN TEMBOK RUMAH SESEORANG.

Khidir dan Musa kembali melakukan perjalanannya, hingga suatu ketika sampailah disebuah desa terkenal akan kebakhilannya (Pelit). Musa tidak mengetahui mengapa Khidir membawanya ke desa tersebut dan bermalam disana. Makanan yang mereka bawa pun akhirnya habis, lalu mereka meminta makanan kepada penduduk desa itu, namun apa yang didapat ?, penduduk itu tidak mau menjamu mereka.

Tibalah waku sore, Khidir dan Musa memutuskan untuk beristirahat didesa tersebut, lebih tepatnya disebelah rumah yang dindingnya hampir roboh. Sekali lagi Musa dibuat terkejut atas tindakan Khidir tersebut, Musa melihat Khidir berusaha membangun dinding rumah yang nyaris roboh tersebut. Bahkan Khidir menghabiskan waktu malamnya untuk memperbaiki dinding itu dan membangunnya seperti baru. Musa sangat heran melihat tindakan Khidir tersebut. Bagaimana mungkin Khidir mau memperbaiki sebuah rumah didesa yang terkenal bakhil, bahkan untuk menjamu mereka berdua pun penduduk desa tersebut sangat acuh.

Bagi Musa, desa yang bakhil itu tidak selayaknya mendapatkan jasa Khidir tersebut. Bingug atas tindakan Khidir tersebut, akhirnya Musa berkata kepada Khidir: "Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu".

Mendengar perkataan Musa, Khidir berkata kepadanya: "Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku".

Khidir mengingatkan Musa tentang syarat saat ia mengikutinya, bahwa Musa tidak diperkenankan bertanya perihal apapun yang dilakukan oleh Khidir. Khidir mengingatkan bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir pertemuannya sesuai janji yang diucapkan Musa pada peristiwa kedua tadi bahwa ini merupakan kesempatan terakhir baginya untuk bertanya kepada Musa. Kemudian Khidir menceritakan kepada Musa dan membongkar kesamaran dan kebingungan yang dialami Musa. Setiap tindakan Khidir membuat Musa menjadi bingung dan bertanya-tanya. Namun semua tindakan-tindakan yang dilakukan Khidir bukanlah tanpa sebab, mungkin secara lahiriah semua tindakan Khidir itu terlihat keras namun pada hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang yang sungguh besar dibelakangnya. Hal inilah yang tidak tampak oleh Musa.

KHIDIR MENGUNGKAP HIKMAH ATAS KEJADIAN YANG DIALAMI BERSAMA MUSA.

Sebelum menjelaskan secara rinci atas semua peristiwa tersebut, Khidir menyingkapkan dua hal pada Musa, ia memberitahunya bahwa ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahu Musa bahwa banyak musibah yang terjadi di bumi justru dibaliknya terdapat rahmat yang besar.

Pertama, perihal Khidir melubangi perahu, pemilik perahu tersebut akan menganggap bahwa usaha melubangi perahu mereka merupakan suatu bencana, namun dibalik semua itu terdapat hikmah yang besar, yakni sebuah hikmah yang dapat diketahui setelah terjadinya peperangan dimana raja akan memerintahkan untuk merampas perahu-perahu yang ada. Jadi dengan dilubanginya perahu tersebut oleh Khidir akan membuat sang Raja enggan merampas perahu tersebut karena sudah berlubang.

Kedua, anak kecil yang dibunuh Khidir. Disana terdapat hikmah yang cukup besar pula. Orang tua anak kecil yang terbunuh itu akan menganggapnya sebagai musibah. Namun kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka, karena Allah akan memberi mereka anak yang baik sebagai ganti anak yang terbunuh tersebut. Kelak anak yang baik tersebut akan menjaga orang tuanya dan tidak akan berbuat kedzaliman dan kekufuran. Sedangkan jika anak yang terbunuh tersebut tidak dibunuh oleh Khidir, maka kelak dewasa ia akan berbuat dzalim dan kufur kepada orang tuanya.

Ketiga, Khidir membangun tembok rumah seseorang. Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dindingnya ia bangun tersebut adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di desa tersebut. Didalamnya tersimpan harta benda yang ditujukan untuk kakak beradik tersebut. Ayah mereka adalah seorang yang sholeh. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan akan diketahui orang-orang yang ada didesa tersebut. Sedangkan kedua yatim tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya.

Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa suatu bencana, dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa sebuah kenikmatan dan rahmat. Banyak hal yang lahirnya baik ternyata justru dibalik itu terdapat suatu keburukan.

Selanjutnya Musa kembali menemui muridnya dan menemaninya untuk kembali ke Bani Israel. Musa telah mendapatkan keyakinan yang luar biasa dan belajar banyak hal darinya. Diantaranya, ia tidak merasa bangga dengan ilmunya dalam syariat, karena masih ada ilmu hakikat yang mana Musa tidak mempersoalkan musibah-musibah yang dialami manusia karena dibalik itu semua terdapat rahmat Allah S.W.T yang tersembunyi yang berupa kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya.

Dengan pelajaran ini, Musa menjadi sadar bahwa terdapat ilmu lain selain ilmu syariat, ia telah berhadapan dengan sebuah ilmu hakikat yang tidak dapat dijangkau dengan akal manusia biasa.

NABI KHIDIR MASIH HIDUP ATAU SUDAH MENINGGAL ?.

Banyak rumor yang mengatakan bahwa Khidir masih hidup hingga saat ini. Khidir dianggap sebagai salah satu nabi dari empat nabi yang masih hidup hingga kini. Tiga lainnya adalah nabi Idris a.s, nabi Ilyas a.s, dan nabi Isa a.s.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa nabi Khidir dapat hidup hingga saat ini karena telah meminum air kehidupan.

Disisi lain beberapa ulama mengatakan bahwa nabi Khidir telah meninggal dunia dengan beberapa dalil sebagai berikut:

Pertama. Jika nabi Khidir masih hidup, sudah seharusnya beliau muncul dihadapan nabi Muhammad S.A.W dan menjadi sahabat beliau serta turut menyebarkan Islam. Allah berfirman:


وَ اِذْ أَخَذَ اللّهُ مِيْثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَآ اَتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتَبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَآءَكُمْ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَ اَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ اِصْرِيْ قَالُوْا ءَاَقْرَرْنَا قَالَ فَشْهَدُوْا وَ اَنَا مَعَكُمْ مِّنَ الشَّاهِدِيْنَ

Artinya:
"Dan (Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?". Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". (Q.S. Ali-Imran: 81).

Nabi Shallalllahu 'alaihi wa sallam juga mengabarkan, bahwa andai nabi Musa masih hidup, tentu beliau akan mengikuti nabi Muhammad S.A.W. Beliau bersabda: "Sesungguhnya andaikan Musa masih hidup ditengah-tengah kalian, tidak halal bagi beliau selain harus mengikutiku". (H.R. Ahmad: 14631).

Ibrahim Al-Harbi juga pernah bertanya kepada Imam Ahmad, apakah nabi Khidir dan nabi Ilyas masih hidup ? dan keduanya masih ada serta melihat kita dan bisakah mendapatkan riwayat dari mereka berdua ?".

Kemudian Imam Ahmad menjawab: "Siapa menekuni masalah ghaib (klenik), dia tidak akan bisa bersikap proporsional dalam masalah ini. Tidak ada yang membisikkan berita ini kecuali setan".

Imam Bukhari juga pernah ditanya hal yang serupa dan beliau menjawab: "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, padahal nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Tidak akan tersisa seorang pun di muka bumi ini pada seratus tahun yang akan datang". (Majmu' Fata wa syaikhul Islam, 4: 337).

Selain itu Allah juga menegaskan dalam firman-Nya:


وَ مَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ اَفَإِنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخَلِدُوْنَ

Artinya:
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum kamu (Muhammad) maka jikalau kamu mati apakah mereka akan kekal". (Al-Anbiya': 34).

Tidak ada yang tahu secara pasti mengenai keadaan dan keberadaan nabi Khidir hingga saat ini. Entah beliau masih hidup atau sudah meninggal itu semua adalah rahasia sang Ilahi. Yang harus kita lakukan bagaimana cara kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah S.W.T dengan mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah ini. Banyak rahasia hikmah dimuka bumi ini yang terlihat samar, seolah-olah benar padahal belum tentu benar begitu sebaliknya, seolah-olah salah padahal belum tentu benar. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus sehingga apa yang kita perbuat di muka bumi ini dapat menjadi maslahat dan bermanfaat bagi semua. Amiinn.

0 comments:

Post a Comment