March 31, 2020


Spirit Muslim. Mati adalah sebuah kepastian yang akan dialami setiap makhluk di muka bumi ini, tidak terkecuali manusia. Allah S.W.T memerintahkan umat manusia untuk senantiasa berbuat kemaslahatan dan memperbanyak amal baik atas setiap perbuatan yang dilakukannya. Tidak lain semua itu bertujuan untuk menambah pundi-pundi pahala yang kelak akan dapat menolong kita saat hari akhir (kiamat) tiba.

Namun sayangnya terlampau sering kita berbuat dosa kepada Rabb kita, sampai-sampai saat kita ingin menebus kesalahan dan menambah pundi-pundi pahala, nyawa kita telah diujung tanduk, Allah S.W.T mencabut ruh (nyawa) kita saat kita ingin memperbanyak amal kebaikan tersebut. Saat seseorang mati maka terputuslah semua amal nya,  namun Allah S.W.T dengan rahmat yang begitu luas memberikan kemudahan dan keringanan meskipun kita sudah meninggal dunia.

Allah S.W.T memberikan 3 amalan yang mana dengan 3 amalan tersebut amal kebaikan kita akan tetap terus mengalir dan tidak akan pernah putus meskipun kita sudah mati (meninggal dunia). Dalam sebuah hadits Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”. (H.R. Muslim no. 1631).

1. SHADAQAH JARIYAH.


Shadaqah jariyah atau biasa kita menyebut amal jariyah menjadi salah satu amal yang akan terus mengalir kepada pelakunya meskipun dia sudah meninggal dunia. Shadaqah Jariyah merupakan shadaqah dimana harta atau benda tersebut masih terus dimanfaatkan keberadaannya untuk tujuan kemaslahatan agama Islam. Misalnya waqaf tanah untuk pembangunan Masjid, mendermakan sebagian harta untuk pembangunan yayasan anak yatim, menanam pohon, mencetak mushaf Al-Qur’an dan membagikannya, dan masih banyak lagi shadaqah jariyah yang dapat kita lakukan yang bermanfaat untuk kemaslahatan agama. Allah S.W.T berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui". (Q.S. Al-Baqarah: 261).


2. ILMU YANG BERMANFAAT.


Semua hal tanpa didasari ilmu merupakan sebuah kemustahilan, bahkan begitu pentingnya ilmu sampai-sampai Imam Ghazali rahimahullah mengatakan: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan”.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya:
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim". (Q.S. Al-Jumu’ah: 5).

Semua ada ilmunya, baik untuk meraih hal-hal yang berhubungan dengan dunia atau pun akhirat. Untuk itulah kita diwajibkan menuntut ilmu terutama ilmu agama, karena ilmu agama merupakan pokok dari berbagai disiplin ilmu yang ada.

Karena kelak saat kita ajarkan ilmu agama tersebut kepada orang lain maka ilmu tersebut akan memberikan manfaat, baik orang lain maupun bagi diri kita sendiri. Meskipun kita sudah mati, jika ilmu yang kita dapat terus diajarkan oleh orang-orang sesudah kita, maka itu akan menjadi ladang pahala yang akan terus mengalir meskipun kita sudah tiada. Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menjelaskan secara rinci ciri-ciri ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat.

والعلم النافع هو ما يزيد في خوفك من الله تعالى، ويزيد في بصيرتك بعيوب نفسك، ويزيد في معرفتك بعبادة ربك، ويقلل من رغبتك في الدنيا، ويزيد في رغبتك في الآخرة، ويفتح بصيرتك بآفات أعمالك حتى تحترز منها، ويطلعك على مكايد الشيطان وغروره، 

Artinya:
“Ilmu yang bermanfaat adalah menambah rasa takutmu kepada Allah, menambah kebijaksanaanmu dengan aib-aib dirimu, menambah rasa makrifat dengan beribadah kepada Tuhanmu, serta meminimalisasi kecintaanmu terhadap dunia, dan menambah kecintaanmu kepada akhirat, membuka pandanganmu atas perbuatan jelekmu, hingga kaudapat menjaga diri dari hal itu, serta membebaskanmu dari tipu daya setan,” (Lihat Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah". (Kairo: Maktabah Madbuli, 1993 M], halaman 38).


3. ANAK YANG SHOLEH.


Anak sholeh adalah modal jangka panjang yang tak pernah terputus sampai akhir dari kehidupan ini. Ia akan menjadi jaminan berharga karena ia adalah simpanan yang tak ada bandingannya. Anak yang sholeh akan senantiasa memiliki perangai dan akhlak yang sesuai dengan syari’at Islam, mulai dari cara bertutur kata hingga bagaimana ia berperilaku.

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّىٰهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِۦ ۖ فَلَمَّآ أَثْقَلَت دَّعَوَا ٱللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ ءَاتَيْتَنَا صَٰلِحًا لَّنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ

Artinya:
"Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (Q.S. Al-A’raf: 189).

Kasih sayang anak yang sholeh terhadap kedua orang tuanya tidak hanya sebatas didunia saja, akan tetapi ia akan senantiasa menyayangi kedua orang tuanya meskipun mereka sudah tidak ada di dunia lagi. Salah satu kebiasaan baik anak sholeh saat orang tuanya sudah meninggal adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi kedua orang tuanya di akhirat.

Inilah keutamaan anak sholeh, meskipun orang tuanya sudah meninggal dunia akan tetapi mereka tetap mendapatkan pahala yang akan terus mengalir  atas doa yang dipanjatkan anak-anaknya untuk kedua orang tuanya. 

0 comments:

Post a Comment