October 10, 2020


Spirit MuslimSejarah terbentuknya air Zam-zam tentu tidak bisa dilepaskan dengan sosok Siti Hajar dan puteranya yakni Nabi Ismail saat ditinggalkan oleh nabi Ibrahim di sebuah padang pasir dekat Ka’bah atas perintah Allah S.W.T. Padang pasir tersebut sama sekali tidak ada penduduk atau bahkan kehidupan, hanya terdapat sebuah pohon yang mereka gunakan untuk berteduh, mereka berdua bertahan hidup dengan bekal seadanya. Hingga suatu saat bekal mereka habis dan nabi Ismail yang masih bayi tersebut menangis karena kehausan, siti Hajar kebingunan hingga nabi Ismail menendang-nendang kakinya ke tanah, malikat kemudian menancapkan sayapnya ditanah didekat kaki nabi Ismail dan muncullah mata air yang kini disebut dengan air Zam-zam. Berikut kami sajikan sejarah lengkap awal mula terbentuknya mata air Zam-zam ini serta kejadian-kejadian yang menyertainya.

PERINTAH ALLAH S.W.T KEPADA NABI IBRAHIM.


Nabi Ibrahim sebelumnya memiliki istri bernama Sarah, namun sayangnya setelah mereka bertahun-tahun menikah mereka tidak dikaruniai seorang putera pun sedangkan nabi Ibrahim menginginkan seorang putera sebagai penerus generasinya. Mengetahui keinginan nabi Ibrahim tersebut kemudian Sarah memberikan budaknya bernama Hajar kepada nabi Ibrahim untuk dinikahi.

Pernikahan nabi Ibrahim dan Hajar pun berbuah manis, mereka dikaruniai seorang putera yang diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim kemudian mendapatkan perintah Allah S.W.T untuk membawa mereka berdua yakni Hajar dan Ismail ke sebuah padang pasir tandus di Makkah dimana didekatnya kelak akan dibangun Ka’bah.


NABI IBRAHIM MENINGGALKAN SITI HAJAR DAN NABI ISMAIL KECIL


Setelah mendapatkan perintah tersebut, nabi Ibrahim pun bergegas membawa siti Hajar dan nabi Ismail yang masih bayi ke padang pasir tersebut. Sesampainya disana Nabi Ibrahim memberikan bekal kurma dan air kepada siti Hajar dan kemudian nabi Ibrahim pun meninggalkan mereka berdua di bawah sebuah pohon lalu beliau kembali ke Syam. Siti Hajar pun segera mengejarnya dan bertanya:

“Wahai Ibrahim, engkau mau pergi kemana ? Apakah engkau (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada sesuatu apapun juga ?”

Hajar mengulang pertanyaan tersebut beberapa kali namun nabi Ibrahim tidak menoleh sedikitpun kepada mereka berdua, hingga kemudian siti Hajar bertanya:

“Apakah Allah S.W.T yang memerintahkan ini semua ?”

Nabi Ibrahim menjawab: “Ya”

Siti Hajar pun berkata:
إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا
Artinya:
“Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.

Nabi Ibrahim meneruskan perjalanannya dan sampai pada sebuah bukit dimana nabi Ibrahim tidak dapat melihat mereka berdua lagi, kemudian nabi Ibrahim menghadap ke arah Ka’bah dan berdoa

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya:
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim: 37).


SITI HAJAR BERLARI-LARI KECIL ANTARA BUKIT SHAFA DAN BUKIT MARWAH


Siti Hajar melewati hari-harinya di padang pasir tersebut hingga akhirnya perbekalan pun habis sementara nabi Ismail yang masih bayi terus menangis karena lapar dan kehausan. Siti Hajar tidak kuasa melihat puteranya tersebut terus menangis hingga kemudian ia mendatangi bukit Shafa dimana bukit tersebut merupakan bukit terdekat darinya, siti Hajar berharap dapat menemukan seseorang dari ketinggian bukit tersebut untuk menolong dirinya dan puteranya. Namun sesampainya disana ia tidak menemukan seorang pun.

Kemudian ia menuju sisi bukit lainnya yakni bukit Marwah berharap menemukan seseorang yang dapat menolongnya juga, namun tidak ada seseorang juga disana. Ia melakukan hal tersebut sebanyak 7 kali, yakni berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah yang kini dalam ibadah Haji dan umrah disebut dengan Sa’i (lari-lari kecil). Dalam ayat disebutkan,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Artinya:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah: 158).


MUNCULNYA MATA AIR ZAM-ZAM


Setelah siti Hajar berlarian antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali dan tidak mendapatkan bantuan, kemudian ia mendengarkan suara Malaikat “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud memberikan bantuan.” Seketika itu juga Malaikat menghentakkan sayapnya (versi lain: Tumitnya) ke tanah didekat kaki nabi Ismail yang sedang menangis tersebut, biidznillah kemudian memancarlah air yang berlimpah dari dalam tanah tersebut.

Mengetahui hal tersebut siti Hajar pun langsung mendekat dan membendung air tersebut dengan tanah disekitarnya sambil berkata “Zammi.....zammii.....zammii....” yang artinya “berlimpah.....berlimpah....berlimpah”. Berawal dari perkataan siti Hajar inilah, kemudian mata air tersebut dikenal dengan mata air Zam-zam.

Akhirnya Hajar dapat meminum air tersebut dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat berkata kepadanya,

لَا تَخَافُوا الضَّيْعَةَ فَإِنَّ هَا هُنَا بَيْتَ اللَّهِ يَبْنِي هَذَا الْغُلَامُ وَأَبُوهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَهْلَهُ

Artinya:
“Janganlah kamu takut diterlantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”


DIMINUM JUGA OLEH ROMBONGAN YANG MELEWATI WILAYAH TERSEBUT.



Kian hari kian berlalu, siti Hajar dan nabi Ismail hidup dengan berkah air tersebut, hingga kemudian datanglah rombongan dari Kabilah Jurhum yang melihat ada seekor burung yang berputar-putar disekeliling mereka. Mereka menyangka kemungkinan ada sumber air di wilayah tersebut karena ada burung yang terbang disekeliling mereka.

Lalu mereka mengutus salah seorang diantara mereka untuk mencari tahu letak sumber mata air tersebut, kemudian utusan tersebut menemukan mata air Zam-zam tersebut. Mereka pun menemui siti Hajar dan berkata kepada Hajar,

“Apakah kamu mengizinkan kami untuk singgah bergabung denganmu di sini?”

Siti Hajar berkata, “Ya boleh, tapi kalian tidak berhak (menguasai) memiliki air.”

Mereka berkata, “Baiklah.”

Kabilah Jurhum itu kemudian menghubungi keluarga mereka dan mengajak mereka tinggal disana bersama. Siti Hajar senang dengan kehadiran mereka karena ada orang-orang yang dapat menemaninya. Dari Kabilah Jurhum ini juga nabi Ismail belajar bahasa Arab dan mendapatkan didikan yang baik dari siti Hajar. Waktu terus berlalu hingga kemudian nabi Ibrahim menemui mereka berdua untuk melepas rasa rindunya.

0 comments:

Post a Comment