March 29, 2020


Spirit Muslim. Kita sebagai umat Muslim tentu sudah tidak asing dengan Ka’bah di Baitullah Mekkah. Setiap tahun banyak umat Muslim mengunjungi tempat ini, baik untuk beribadah Haji maupun Umrah. Saat kita melihat Ka’bah, terlihat diatas Ka’bah terdapat sebuah kain berwarna hitam yang menjuntai hingga ke bawah Ka’bah, dimana pada sekeliling kain tersebut terdapat kaligrafi berwarna kuning emas, Kain tersebut disebut dengan Kiswah, yakni kain penutup Ka’bah. Tujuan pembuatan Kiswah adalah untuk melindungi dinding Ka’bah dari kotoran, debu, serta panas yang dapat membuatnya menjadi rusak. Selain itu, kiswah juga berfungsi sebagai hiasan Ka’bah.

Luasnya sendiri mencapai 658 meter persegi dan dibuat dari total 670 kg kain sutera serta 15 kg benang emas. Proses pembuatannya tidak sekaligus satu bagian melainkan dibagi-bagi ke dalam 47 bagian. Tiap bagiannya masing-masing memiliki panjang 47 meter serta lebar 101 meter. Kiswah dipasang mengitari Ka'bah dan direkatkan ke tanah menggunakan cincin tembaga. Konon, satu buah kain kiswah menghabiskan dana pembuatan hingga 17 juta riyal atau kira-kira 43 miliar rupiah.

Kiswah sendiri memiliki sejarah panjang sejak pertama kali dibuat dan diletakkan di atas Ka’bah. Kiswah sempat beberapa kali mengalami pergantian warna, mulai dari putih, merah,  kuning hingga hitam sampai saat ini, dan Kiswah ini selalu diganti dengan yang baru setiap tahun yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah tepat pada saat musim haji tiba.


1. PELETAKAN KISWAH PERTAMA KALI


Ka’bah pertama kali ditutupi dengan kain pada zaman nabi Ismail a.s. Ada pula yang berpendapat, bahwa orang yang pertama kali melakukannya adalah penguasa Yaman yakni Tuba` As`ad Al-Himyari (220 SM). disebutkan Muhammad bin Ishaq, beliau mengatakan:
Banyak ulama menceritakan kepadaku, bahwa orang yang pertama kali memberi kiswah pada ka`bah adalah Tuba` As`ad al-Himyari. Dia bermimpi memasang kiswah ka`bah. Kemudian dia menutupi ka`bah dengan al-antha` [permadani yang terbuat dari kulit]. Lalu dia bermimpi lagi, memberikan kiswah untuk ka`bah. Kemudian dia memasang al-Washayil sebagai kiswah ka`bah. Al-Washayil merupakan kain berwarna merah, bergaris, buatan Yaman. (Al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi’ Jami’ al-Hadis, 1/301).
Kemudian diikuti oleh generasi selanjutnya hingga sampai ke masa Jahiliyah. Di masa itu orang orang bergantian memasang Kiswah dan hal itu dianggap sebagai penghargaan dan kewajiban agama dan dibolehkan bagi setiap orang memasang Kiswah kapan dan dengan jenis kain apapun yang disukainya. Demikian seterusnya teradisi ini berlangsung sampai masa Qushaiy bin Kilab, salah seorang leluhur Rasulullah S.A.W yang terkemuka. Sejak masa Qushay inilah, pemasangan kKswah pada Ka’bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy. beliau mewajibkan bangsanya mengumpulkan sejumlah harta untuk mengganti Kiswah setiap tahun. Di antara mereka adalah Abu Rabi’ah Al-Mughirah, seorang yang kaya raya, menyanggupi untuk menganggung biaya pembuatannya. Kemudian bangsa Quraisy menanggung untuk tahun berikutnya. Hal ini dilakukan hingga wafatnya Qushay bin Qilab. Mereka mengganti kain Kiswah pada setiap bulan ‘Asyura.


2. KISWAH PADA ZAMAN RASULULLAH S.A.W DAN SESUDAHNYA.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri di awal masa dakwahnya di Mekkah tidak terlibat langsung dalam pemberian kain Kiswah ini. Orang-orang kafir Mekkah pada masa itu tidak mengizinkan beliau. Rasulullah baru mulai melibatkan diri secara langsung dalam hal pemasangan Kiswah saat kota Mekkah telah ditaklukkan.

Pasca Pembebasan kota Mekkah (Fathu Mekkah) Nabi Muhammad S.A.W tidak langsung serta merta mengganti kain kiswah yang menempel di ka`bah, hingga kiswah ini terbakar disebabkan seorang wanita yang ingin mengasapi kiswah dengan wewangian. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan Kiswah Ka’bah yang berasal dari negeri Yaman. Hal ini berlanjut hingga masa kekhalifahan Abu Bakar r.a. Di zaman Umar bin Khattab r.a dan Utsman bin Affan r.a, Kiswah diproduksi dari negeri Qibty Mesir, tepatnya Provinsi Fayyum, yang terkenal dengan khat-nya. Di masa tersebut, penggantian kain Kiswah Ka’bah terjadi pada bulan Ramadhan.

Pada masa Bani Umayyah, Kiswah Ka’bah diganti dua kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Asyura dan akhir Ramadhan. Kiswah ini pun juga sempat juga diganti berwarna putih, yakni pada zaman Fatimiyin. Kemudian pada zaman Bani Abbasiyayah, Kiswah Ka’bah diganti dua kali dalam setahun, yakni dengan Kiswah berwarna merah dan putih. Kemudian di zaman al-Ma’mun, Kiswah Ka’bah diganti tiga kali dalam setahun yakni pada Hari Tarwiyah menggunakan Kiswah berwarna merah, pada awal bulan Rajab diganti dengan Kiswah Mesir, dan saat Idul Fitri menggunakan Kiswah berwarna putih. 

Penggantian warna penutup Ka’bah ini berlanjut di zaman Muhammad Subuktain dengan Kiswah berwarna kuning, zaman An-Nasir Lidinillah al-Abbasy Kiswah berwarna hijau. Setelah itu Kiswah Ka’bah kembali ke warna Hitam hingga saat ini. Pada tahun 810 H, dibuat kain penutup yang bermotif ukiran, dipasang di bagian luar ka`bah, yang dinamakan al-Burq.


3. DIDIRIKANNYA PABRIK KHUSUS KISWAH.


Akibat terjadi perselisihan, pada tahun 1345 H, pemerintah Mesir melarang pengiriman Kiswah. Pada tahun 1927, Raja Abdul Aziz Ali Su’ud memerintahkan untuk membuat perusahaan tenun Kiswah. Lalu ditunjuklah Syekh Abdurahman Mudhir Husain Mudhir al-Anshary sebagai direktur pembuatan Kiswah.

Sejak itu, terbentuklah perusahaan tenun Kiswah di Mekkah. Para perajin Kiswah ini terdiri dari 60 orang, meliputi; 40 orang ahli dan 20 pembantu operasional. Dari 40 orang ahli tersebut, 12 orang diantaranya berasal dari India. Pada tahun 1381 H, kesepakatan antara pemerintah Mesir dengan Saudi kembali terjalin sehingga Mesir bersedia melanjutkan produksi dan pengiriman Kiswah Ka’bah.

Pada tahun 1392 H/ 1972 M, Raja Fahd bin Abdul Aziz meletakkan batu pertama pembangunan pabrik baru Kiswah di Mekkah. Ketika itu dia tengah menjabat sabagai Wakil Ketua Majelis Kabinet dan Menteri Dalam Negeri. Tatkala pabrik mulai siap beroperasi, dia pula yang membukanya secara resmi pada tahun 1397 H/ 1977 M. Sejak itulah pabrik ini terus memproduksi Kiswah untuk Ka’bah setiap tahunnya. Pabrik Kiswah ini memiliki luas 100 meter persegi dengan pekerja 240 orang. Pabrik tersebut sekarang berada di bawah Departemen Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.


4. KISWAH LAMA DIBAGI-BAGIKAN.


Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bn Khattab, kain Kiswah lama yang hendak diganti dibagikan kepada para jamaah untuk melindungi mereka dari panasnya suhu di kota Mekkah. Namun kini tiap tahunnya, kiswah yang lama akan diangkat lalu dipotong-potong ke dalam beberapa bagian kecil untuk kemudian dihadiahkan pada kalangan tertentu. Termasuk di antaranya adalah pejabat Muslim asing yang tengah berkunjung ke Arab Saudi ataupun organisasi asing.

0 comments:

Post a Comment