September 21, 2017



Spirit Muslim. Munculnya tanda hitam pada dahi atau kening seseorang dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satu faktor umum yang sering terjadi adalah ketika seseorang menekan terlalu keras dahinya saat sujud dalam shalat. Berbicara mengenai tanda hitam ini, sebagian ulama ada yang mengecam keras terhadap tanda ini, namun sebagian yang lain ada yang memperbolehkan tanda ini ada pada dahi seseorang. Alasan para ulama tidak menyukai adanya tanda hitam ini tidak lain dikhawatirkan akan menimbulkan rasa riya’ bagi pemilik tanda tersebut karena seseorang menisbatkan tanda tersebut sebagai ahli sujud yang menentukan terhadap tingkat kesalihan seseorang.
Memang.......

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun alangkah baiknya kita sebagai muslim menjaga diri dari bekas tanda sujud tersebut agar tidak menimbulkan su’udzan bagi orang lain yang melihat tanda tersebut. Bahkan Rasulullah yang Ma’shum dan terjaga sekalipun yang sangat mahsyur kedekatannya dengan Allah tidak memiliki tanda hitam tersebut.

Baca juga: Hati-hati dengan bekas sujud berwarna hitam pada dahi atau kening.

Untuk mengetahui kenapa tanda hitam tersebut bisa menempel pada dahi atau kening seseorang, berikut akan kami jabarkan penyebab-penyebabnya.

PENYEBAB MUNCULNYA TANDA HITAM PADA DAHI

A. SEBAB UMUM
  1. Kulit pada kening seseorang yang sensitif. Tingkat kesensitifitasan ini berbeda antara satu orang dengan orang yang lain sehingga tekanan yang rutin ketika ia bersujud akan meninggalkan bekas hitam ini.
  2. Rutinnya seseorang melakukan sholat 5 waktu setiap hari seumur hidup dari ia mulai dewasa (baligh) hingga akhir hayatnya bisa menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya tanda hitam pada dahi.

B. SEBAB KHUSUS
1. Rutin shalat wajib dan sunnah.
Orang yang sholat hanya 17 rakaat sehari, agak sulit untuk mendapatkan bekas tanda hitam di dahi ini. Bekas sholat di dahi biasanya diperoleh bagi orang yang banyak sekali melakukan sholat Sunnah (Tathowwu) diluar sholat wajib yang 17 rakaat itu. Katakanlah ia selalu sholat Tahiyatul Wudhu ketika selesai wudhu, sholat Qobliyah, sholat Ba’diyah, sholat Dhuha, sholat Qiyamul Lail/Tahajjud dan Witir, sholat Tahiyatul Masjid,  sholat Sunnat Fajar, sholat Sunnat Mutllak,  sholat 2 rakaat antara Adzan dan Iqomah. Dari semua shalat wajib dan sunnah tersebut maka tidak kurang dari 60 rakaat ia melaksanakan sholat dalam sehari semalam, maka tak mengherankan jika pada dahi atau keningnya timbul bekas sujud yang berwarna hitam tersebut.

2. Lama sujud 5 sampai 8 detik.
agak sulit untuk mendapatkan bekas tanda hitam di dahi atau kening dengan durasi waktu tersebut. Bekas sholat di dahi atau kening biasanya diperoleh orang yang lama dalam melakukan sujud (dalam sujud ia banyak berdoa), hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Artinya: "Orang Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika sujud". (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah)

3. Sujud dengan menekan dahi.
yang dimaksud disini bukan sujud asal-asalan dengan hanya menempelkan dahi atau kening ke lantai/sajadah, ini sesuai dengan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :


إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ

Artinya: “Jika engkau sujud maka berilah tekanan pada sujudmu”. (HR Abu Daud no 859 dari Rifa’ah bin Rafi’ dan dinilai hasan oleh al Albani).


ثُمَّ سَجَدَ فَأَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ

Artinya: Kemudian ia (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) sujud dengan menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…" (HR. Abu Daud 734 dan dishahihkan al-Albani).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidak sah shalat seseorang bila hidung dan dahinya tidak menekan ke tanah”. (H.R. Daraquthni, Thabarani dan Abu Nu’aim)

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata  :
“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Maksudnya apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya` seperti dia tidak mau shalat sunnah karena takut riya’, berarti dia sudah terjatuh pada riya` itu sendiri. Yang seharusnya dia lakukan adalah tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun di sekitarnya ada orang dengan tetap berusaha untuk ikhlas dalam amalnya tersebut. (Lihat: Tazkiyyatun Nufus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hal.17).

Oleh karena itu barang siapa sengaja rajin sholat dengan tujuan agar dahi atau keningnya terlihat hitam dan agar disegani oleh orang lain, agar dipuji orang lain, agar terlihat orang, agar dibilang Shaleh, maka sesungguhnya ia telah Riya’  yang  sudah mengarah kepada kesyirikan sebagaimana perkataan Fudhail bin iyadh diatas, dan boleh jadi sholatnya akan sia-sia.

Shalatlah karena Allah ta’ala semata dan lakukan dengan cara yang Ittiba' (mengikuti) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ibadah yang kita lakukan tidak sia-sia.

SOLUSI

Nabi pernah mengajari tata cara sujud yang benar kepada seseorang. Beliau bersabda


إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ

Artinya: “Jika engkau sujud maka berilah tekanan pada sujudmu". (HR Abu Daud no 859 dari Rifa’ah bin Rafi’ dan dinilai hasan oleh al Albani).


عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنَ الأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ

Artinya: "Dari Abu Humaid as Sa’idi: “Sesungguhnya Nabi jika bersujud beliau menekankan hidung dan dahi beliau di tempat sujud, menjauhkan kedua tangannya dari dua lambungnya dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan bahunya". (HR Tirmidzi no 270. Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan shahih oleh Tirmidzi dan dinilai shahih oleh al Albani)

Tentang makna dua hadits di atas lebih jauh Al-Albani menjelaskan:
“Hadits di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud meletakkan dahi ketika sujud tidak cukup dengan hanya menyentuhkan dahi di tempat sujud. Yang benar ada kewajiban untuk memberikan beban kepala dan leher pada tempat sujud sehingga dahi itu dalam posisi yang kokoh di tempat sujud. Artinya jika orang yang shalat tersebut bersujud di atas kapas, rumput atau benda yang diisi kapas atau rumput maka orang tersebut wajib menekankan kepalanya sehingga benda yang menjadi tempat sujud itu tertekan karenanya dan seandainya tangan orang tersebut diletakkan di bawah benda tadi maka akan ada bekas di tangan. Jika tata cara sujud semacam ini tidak dilakukan maka sujud tersebut adalah sujud yang tidak sah menurut pendapat yang paling kuat dalam pandangan para ulama bermazhab syafii".

Dalam hadits lain rasulullah juga memberi isyarat mengenai sujud yang benar, beliau bersabda.


أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

Artinya: “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…” (HR. Bukhari 779 & Muslim 1126).

Imam Haramain berkata, “Menurutku sujud itu cukup dengan menempelkan kepala dan tidak perlu ditekankan bagaimana pun bentuk tempat sujud.”

An Nawawi (3/423) berkata: “Yang sesuai dengan mazhab Syafii adalah pendapat pertama (yaitu kepala harus ditekankan ketika bersujud). Inilah pendapat yang dipilih oleh syeikh Abu Muhammad Al-Juwaini, penulis kitab Al-Tatimmah dan penulis kitab At-Tahdzib.”

"Kukatakan bahwa harus ditekan, itulah pendapat yang benar karena memilih pendapat Imam Haramain di atas berarti tidak mempraktekkan menekan yang terdapat dalam hadits. Tentu hal ini tidak diperkenankan sebagaimana bisa kita ketahui dengan jelas". (Ashlu Shifat Shalat Nabi 2732-733).



Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan menekankan dahi dan hidung ketika bersujud adalah kebalikan dari sekedar hanya menempelkan. Menekan dengan tekanan lebih dilakukan jika alas dari sujud tersebut terlihat tebal. Sedangkan jika alas yang tipis atau bahkan tidak terdapat alas pada saat sujud maka cukup menekan dahi sekedarnya saja. Oleh karena itu mempraktekkan hal ini tidaklah menyebabkan timbulnya noda hitam di dahi apalagi noda hitam di hidung.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khulafaur rasyidin adalah orang yang paling paham dalam menerapkan ketentuan ini dalam shalat yang mereka lakukan. Namun fakta membuktikan bahwa tidak ada sama sekali noda hitam di dahi-dahi mereka sebagaimana yang telah kita bahas tadi.

Selain tips diatas, terdapat beberapa tips lain berikut yang dapat kita jadikan referensi agar dahi kita terhindar dari tanda hitam tersebut.

  1. Gunakan sajadah yang empuk atau tidak keras sehingga ketika sujud dahi terasa lebih nyaman dan lembut, hal ini tentunya tidak akan membuat dahi menjadi hitam. 
  2. Ketika sujud hendaknya mencari posisi yang paling seimbang sehingga tumpuan tidak terlalu berat ke depan, jika berat badan terlalu kedepan maka dahi akan menahan berat badan kita hal ini akan menyebabkan dahi atau kening akan menimbulkan tanda hitam tersebut.
  3. Pada saat sujud usahakan muka yang menempel pada lantai adalah hidung, dahi, dan mulut. hal ini tentunya akan membagi serta mengurangi tekanan yang ada pada dahi atau kening tersebut.
  4. Bisa juga  menggunakan pelembut di dahi  atau kening kita sehingga bagian tersebut terasa lebih lunak.
  5. Gunakan juga tangan kanan dan kiri sebagai bantuan untuk menahan berat badan, hal ini akan mengurangi banyak beban berat yang tertumpu pada di dahi.

Jika saat ini anda sudah sujud secara benar sesuai hadits diatas, kemudian muncul tanda hitam di dahi, kita tidak perlu berkecil hati dan minder, hingga kemudian menutupnya dengan peci dan sebagainya. Karena semua itu kembali lagi pada kondisi niat seseorang, apakah dengan adanya tanda hitam itu kita akan merasa bangga kepada manusia karena kita memiliki tanda ahli ibadah atau justru malah menjadikan kita lebih tawadhu’ dan khusu’ dalam beribadah. Untuk itu apapun keadaan dahi yang kita miliki jagalah keikhlasan beribadah hanya untuk mengharap ridha Allah semata, dan jangan sekali-kali mengharapkan pujian atas manusia.

Semoga sedikit artikel ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk lebih mensyukuri apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Dan semoga dengan adanya tanda hitam yang terdapat pada dahi kita menjadikan motivasi bagi kita untuk lebih taat kepada Allah dan menjadikan kita lebih rendah hati terhadap sesama. Amiinn.

0 comments:

Post a Comment