September 14, 2017


Spirit Muslim. Bulan Muharram merupakan bulan yang terdapat pada awal tahun dalam penanggalan Hijriyah. Banyak sekali Fadhilah dan keutamaan yang terkandung didalam bulan Muharram ini. Untuk itu sudah selayaknya kita mengisinya dengan amalan-amalan pada bulan Muharram yang bermanfaat sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad S.A.W. Misalnya saja puasa Asyura, memanjatkan doa awal tahun dan akhir tahun, serta masih banyak amalan-amalan bermanfaat yang dapat kita lakukan pada bulan Muharram ini.

Namun sayangnya hingga kini masih sering kita temukan amalan-amalan ditengah-tengah masyarakat yang dilakukan namun tidak ada dalil dan nash yang jelas yang sesuai dengan syariat, misalnya saja mencuci keris maupun pusaka-pusaka peninggalan nenek moyang keluarga, atau bahkan menyediakan sesajian untuk menolak bala. Inilah yang dikhawatirkan, jika seseorang melakukan amalan-amalan yang tidak ada dalil tertentu yang mana tidak ada tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dikhawatirkan seseorang akan tererumus kedalam kesyirikan.


Oleh karena itu sebagai seorang Muslim yang memegang teguh ajaran yang dibawa Rasulullah, maka sudah seharusnya kita mampu meluruskan hal ini. Yakni dengan memberikan contoh-contoh amalan yang sesuai dengan syariat dan tuntunan Rasulullah S.A.W.

Bulan Muharram sejatinya merupakan bulan mulia yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada umat-Nya. Allah telah memberikan tuntunan berbagai macam amalan yang dapat dikerjakan oleh umat-Nya pada bulan ini. Tentu sangat disayangkan jika kita melewatkan bulan Muharram ini dengan berbagai perbuatan yang sia-sia, untuk itu berikut kami sajikan beberapa amalan bulan Muharram sesuai dengan tuntunan Rasulillah.

MEMPERBANYAK AMAL SHALEH DAN MENJAUHI BERBAGAI MACAM MAKSIAT




Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang tafsir firman Allah Ta’ala dalam Surat At Taubah ayat 36: “…maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian…”; Allah telah mengkhususkan empat bulan dari kedua belas bulan tersebut. Dan Allah menjadikannya sebagai bulan yang suci, mengagungkan kemulian-kemuliannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar (dari bulan-bulan lainnya) serta memberikan pahala (yang lebih besar) dengan amalan-amalan shalih.” (Tafsir Ibnu Katsir).



Mengingat besarnya pahala yang diberikan oleh Allah melebihi bulan selainnya, hendaknya kita perbanyak amalan-amalan ketaatan kepada Allah pada bulan Muharram ini dengan membaca Al Qur’an, berdzikir, shadaqah, puasa, dan lainnya.


Selain memperbanyak amalan ketaatan, sudah sepatutnya juga kita berusaha menjauhi berbagai macam maksiat kepada Allah, karena tidak hanya pahala-pahala saja yang diipatgandakan pada bulan ini, namun dosa pada bulan-bulan Muharam ini juga lebih besar dibanding dengan dosa-dosa selain bulan-bulan haram.

Qotadah rahimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya kedzaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kedzaliman yang dilakukan diluar bulan-bulan haram tersebut. Meskipun kedzaliman pada setiap kondisi adalah perkara yang besar, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikan sebagian dari perkara menjadi agung sesuai dengan kehendaknya.”

MEMANJATKAN DOA AWAL TAHUN DAN AKHIR TAHUN

Sering kali pada saat awal tahun tiba, tepatnya malam awal bulan Muharram, terdapat kebiasan pada masyarakat membaca doa awal tahun dan akhir tahun, bahkan doa memohon keselamatan,

Namun apakah hal tersebut dibenarkan dalam Islam ?

Adakah dalil yang menganjurkannya ?

Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan seperti ini juga tidak terdapat dalam hadits maupun keterangan lain yang menganjurkan amalan tersebut. Amalan ini juga tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga tidak kita temui pada kitab-kitab hadits maupun musnad.

Namun disisi lain, meskipun tidak ada anjuran dari Rasulullah akan tetapi mengingat begitu mulianya bulan Muharram  maka amalan tersebut dapat kita lakukan untuk mengharap kebaikan dan ridha Allah S.W.T pada bulan Muharram ini. Selain itu tidak pula terdapat hadits maupun keterangan lain yang mengharamkan seseorang untuk berdoa pada bulan muharram ini. Bahkan kita dianjurkan untuk memperbanyak doa dan amal baik dalam bulan ini. Wallahu a’lam.

Baca juga: Inilah keutamaan keistimewaan manfaat serta hikmah shalat tahajud yang sangat fenomenal.

MEMBAHAGIAKAN KELUARGA DI HARI ASYURA'

Dalam kitab Fathul ‘Alam dissebutkan bahwa sebagian ulama menganjurkan untuk melakukan berbagai hal yang dapat membahagiakan keluarga pada hari Asyura, Rasulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءِ وَسَّعَ اللّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

Artinya:
“Siapa yang melapangkan bagi keluarganya pada hari Asyura niscaya Alllah akan melapangkan baginya sepajng tahunnya”. (H.R. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/366 dan Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin 3/97).

Ibnu Uyainah berkata, “kami telah mencobanya sejak 50 tahun atau 60 tahun yang lalu, tidak kami dapatkan melaikan kebaikan padanya”. (Kasyfu Al-Qina’ 2/339).

Keluarga merupakan salah satu anugerah paling berharga yang pernah dimiliki oleh seseorang, maka tak pelak seseorang akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan keluarganya. Mungkin benar adanya jika ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, mutiara paling indah adalah keluarga.

Islam menganjurkan untuk membahagiakan keluarga bukan tanpa sebab, melainkan kita dianjurkan untuk membahagiakan keluarga kita karena keluarga merupakan salah satu nikmat terbesar yang telah Allah titipkan kepada kita. Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk memelihara nikmat dan anugerah tersebut dengan cara membahagiakan mereka. Berbagai cara dapat kita lakukan untuk membahagiakan keluarga kita saat bulan Muharram tiba, bahkan pada bulan-bulan lainnya, salah satunya dengan bercengkerama bersama untuk mempererat ikatan keluarga, mengajak keluarga berjalan-jalan untuk menghilangkan kepenatan, dan masih banyak lagi cara yang dapat kita lakukan untuk membahagiakan keluarga kita. Tentunya dalam membahagiakan mereka terdapat batasan-batasan yang harus dijaga agar cara kita membahagiakan keluarga kita sesuai dengan ajaran dan anjuran syariat.

Baca juga: Seperti inilah keutamaan dan kelebihan bulan shafar yang mulia.

MEMERIAHKAN PERGANTIAN TAHUN BARU

Merayakan pergantian tahun baru Hijriyah dengan hura-hura seperti pesta kembang api, menyalakan lilin, atau membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya, bahkan kegiatan semacam ini merupakan salah satu kegiatan yang menyerupai kebiasaan umat Nashrani yang merayakan pergantian tahun dengan berbagai pesta dan hura-hura. Seperti yang kita tahu bahwa seorang Muslim pantang untuk menyerupai kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Artinya:
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya. Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”. (H.R. Muslim no. 2669).

Penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan para sahabat lainnya. Seseorang yang memeriahkan tahun baru hijriyah semacam ini sebenarnya ia hanya ingin menandingi tahun baru Masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai perbuatan orang-orang kafir. Kendati tidak ada tuntunan mengenai cara memeriahkan tahun baru Islam secara jelas, kita sebagai umat muslim sudah selayaknya merayakan tahun baru ini dengan sewajarnya, mengisinya dengan berbagai kegiatan bermanfaat yang tentunya sesuai dengan tuntunan Islam sebagai bentuk perwujudan rasa hormat kita atas datangnya tahun baru Islam ini.

PUASA 3 HARI BULAN MUHARRAM
1. PUASA ASYURA'

Adapun ibadah yang dianjurkan secara khusus pada bulan ini adalah memperbanyak puasa sunnah sebagaimana yang  telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ  بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama setelah puasa wajib adalah sholat lail". (H.R. Muslim: 11630).

Lebih jauh lagi Rasulullah mengkhususkan puasa bulan Muharram ini pada hari yang lebih dikenal dengan sebutan "Yaumul ‘Asyura" yakni hari yang jatuh pada tanggal sepuluh pada bulan Muharram. Berbicara mengenai Asyura, ‘Asyura sendiri berasal dari kata ‘Asyarah yang berarti "Sepuluh". Pada hari ‘Asyura ini, Rasulullah shallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk melaksanakan salah satu bentuk ibadah dan ketaatan seorang hamba kepada Allah S.W.T dengan berpuasa pada hari tersebut.

Disunnahkan berpuasa sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود صياماً يوم عاشوراء، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما هذا اليوم الذي تصومونه؟) فقالوا: هذا يوم عظيم أنجى الله فيه موسى وقومه، و أغرق فرعون وقومه، فصامه موسى شكراً، فنحن نصومه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (فنحن أحق وأولى بموسى منكم) فصامه رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمر بصيامه

Artinya:
“Dari Ibnu Abbas r.a bahwa ketika Rasulullah Saw di Madinah berjumpa kepada orang Yahudi sedang berpuasa ‘Asura. Rasulullah Saw berkata kepada mereka: Hari ini hari apa, kenapa kalian berpuasa pada hari ini? Mereka (orang Yahudi) berkata: Hari ini adalah hari agung, dimana Allah S.W.T telah menyelamatkan Musa dan umatnya, dan Allah tenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya, pada hari ini Musa berpuasa karena kesyukurannya tersebut, oleh karena itulah kami juga (orang Yahudi) melakukan puasa pada hari ini (hari ‘Asyura). Berkata Rasulullah S.A.W: Maka kamilah yang lebih berhak terhadap Musa daripada kamu sekalian (orang Yahudi), maka Rasulullah S.A.W berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa (pada hari ‘Asyura)". (H.R. Bukhari Muslim)

Berikut keutamaan lain puasa ‘Asyura. . . .

Bahwa Allah S.W.T menghapuskan dosa-dosa hambanya setahun yang lalu. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:

عن أبي قتادة أن رجلاً سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن صيام يوم عاشوراء، فقال: إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

Artinya:
“Dari Abu Qatadah, ada seseorang bertanya kepada Nabi Saw tentang puasa ‘Asyura (10 Muharram) Sesungguhnya (kelebihan bagi orang tang berpuasa ‘Asyura) adalah Allah S.W.T menghapuskan dosanya satu tahun yang lalu". (H.R. Muslim)

Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: “Yang dimaksud dengan Kafarat (penebus) dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.”

2. PUASA TASU'A

Rasulullah sangat suka dan selalu melakukan puasa ‘Asyura untuk mencari pahala dan ridha Allah S.W.T, sebagaimana sabda beliau:

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: ما رأيتُ النبي صلى الله عليه وسلم يتحرّى صيام يوم فضله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء

Artinya:
“Dari Ibnu Abbas r.a berkata: tidaklah aku melihat Rasulullah Saw bermaksud untuk berpuasa mengharapkan pahala dan kelebihannya selai puasa Ramadhan yaitu beliau puasa ‘Asyura (10 Muharram)". (H.R. Bukhari).

Namun tidak hanya pada tanggal 10 itu saja Rasulullah menganjurkan berpuasa, melainkan Rasulullah menganjurkan kepada umatnya untuk berpuasa selama tiga hari pada bulam Muharram tepatnya pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Hal ini diajarkan oleh Rasulullah tidak lain untuk membedakan antara puasa kaum Muslimin dan puasanya orang-orang Yahudi.

Puasa Tanggal 9 Muharram ini disebut juga puasa Tasu’a dan  termasuk dalam golongan sunnah Hammiyah (sunnah yang berupa keinginan/cita2 Nabi tetapi beliau sendiri belum sempat melakukannya). Nabi S.A.W bersabda:

صَامَ رَسُولُ اللّهِ صلى اللّه عليه و سلم يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللّه صلى اللّه عليه و سلم فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللّه صلى اللّه عليه و سلم

Artinya:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” (H.R Muslim dan Abu Daud).

Keutamaan tanggal 9 Muharram sendiri telah lama diakui dan selalu dijaga oleh bangsa Arab pada masa Jahiliyyah. Selain itu, pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa dan bani Israel dari kejaran Firaun dan tentaranya. Peristiwa ini diperingati oleh kaum yahudi dengan melaksanakan puasa dan bahkan mereka menjadikannya sebagai hari raya bagi umat Yahudi. Inilah yang menyebabkan Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram untuk membedakan puasa yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Umat Islam.

Rasulullah bersabda:

عن ابن عباس رضي الله عنهما، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (خالفوا اليهود صوموا يوماً قبله أو يوماً بعده

Artinya:
“Dari Ibnu Abbas r.a Rasulullah Saw bersabda: Kamu bedakanlah (puasa pada bulan Muharram) dengan kebiasaan orang Yahudi, berpuasalah kamu sehari sebelumnya (10 Muharram) dan sehari sesudahnya (sesudah 10 Muharram) yaitu 9, 10 dan 11 pada bulan Muharram”. (H.R. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah).

Dari segi sanad, hadits diatas sanadnya lemah, hal ini dinyatakan oleh Asy Syaikh Al-Albani rahimahullah, beliau menyatakan: “Hadits ini sanadnya lemah karena salah seorang perawinya yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila  jelek hafalannya, selain itu riwayatnya menyelisihi riwayat ‘Atho bin Abi Rabah dan selainnya yang juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa ini adalah perkataan  Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma sebagaimana yang disebutkan oleh Thahawi dan Baihaqi".

3. PUASA TANGGAL 11 MUHARRAM

Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan juga untuk melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’

صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما

Artinya:
“Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan gaya orang Yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya". (H.R. Ahmad, Al Bazzar).

Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir.

Namun terlepas dari kelemahan sanad yang terdapat pada beberapa hadits diatas, melakukan puasa pada tanggal 9 dan 11 Muharram merupakan suatu bentuk kehati-hatian kita agar puasa yang kita lakukan pada tanggal 10 Muharram tidak menyerupai dengan kebiasaan puasa yang dilakukan oleh orang Yahudi. Selain itu mengamalkan hadits dengan sanad yang lemah menurut sebagian ulama berpendapat tidak menjadi masalah sebagai salah satu bentuk untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita. Namun jika berhubungan dengan syariat maka hadits dengan sanad yang lemah tidak bisa dijadikan hujjah untuk melakukan sebuah amalan.

Rasulullah S.A.W juga membedakan kelebihan puasa puasa putih (Shaum Yaum Albidh), puasa Ramadhan, puasa ‘Arafah dan puasa ‘Asyura, sebagaimana sabda beliau,

عن أبي قتادة رضي الله عنه : عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ثلاث من كل شهر، ورمضان إلى رمضان، فهذا صيام الدهر كله، صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله، والسنة التي بعده ، وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفِّر السنة التي قبله

Artinya:
“Dari Abu Qatadah r.a. Rasulullah Saw bersabda: 3 hari perpuasa setiap bulanya, berpuasa Ramadhan setiap tahunnya, maka ini sama seperti berpuasa sepanjang tahun. Puasa pada hari ‘Arafah kelebihannya bahwa Allah Swt menghapuskan dosanya satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) keutamaannya bahwa Allah Swt menghapuskan dosanya satu tahun yang lalu”. (H.R. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Atturmudzi, dan Ibnu Khuzaimah).

Berdasarkan hhadits diatas, menurut Imam Nawawi dosa yang diampuni saat kita melakukan puasa Asyura adalah dosa-dosa yang kecil bukan dosa-dosa besar .

Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk melakukan puasa, sekalipun hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), tentu sudah sepatutnya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah diajarkan Rasulullah kepada kita sebagai umatnya.

AMALAN-AMALAN LAIN
Selain amalan-amalan diatas terdapat juga amalan-amalan lain yang dapat kita lakukan untuk memperbanyak pahala kita dibulan muharram ini, sebagaimana kebiasaan yang sering kita jumpai pada saat bulan Muharram tiba. Namun sayangnya amalan-amalan ini merupakan amalan yang tercantum dalam sebuah hadits yang dhaif (lemah), kendati status haditsnya dhaif namun kita dapat mengamalkannya sebagai bentuk taqarrub kita kepada Allah S.W.T. Amalan tersebut antara lain:
  1. Mengusap kepalanya anak yatim dan membahagiakannya dengan memberi sebuah hadiah kepadanya. Pahalanya seperti mengusap anak yatim sedunia dan akan diangkat derajatnya menurut jumlah rambut anak yatim tersebut nanti di surga.
  2. Memakai sibak / celak pada hari Asyura, maka tidak akan terhindar dari sakit mata.
  3. Melebihkan nafkah kepada keluarga dari hari biasanya, maka akan diberikan rizqi yang mudah, dilapangkan rizqinya selama satu tahun tersebut dan juga akan diberi kenikmatan.
Baca juga: Niat mandi pada hari asyura lengkap

Kesimpulannya.............

Untuk mendapatkan keutamaan serta fadhillah dari Tahun baru Islam ini maka kita disunnahkan untuk melakukan puasa ‘Asyura dan amalan-amalan sunnah lainnya. Inilah berbagai macam amalan yang dapat kita amalkan sebagai bentuk perwujudan iman dan taqwa kita kepada Allah, sekaligus sebagai salah satu sarana untuk menghidupkan sunnah-sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada kita. Karena hanya orang yang beriman dan bertakwalah yang pasti dijamin oleh Allah Swt selamat dunia dan akhirat,

وَأَنجَيْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ 

Artinya:
“Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa”. (Q.S. An-Naml: 53).

Oleh karena itu sudah sepatutnya kita sebagai seorang Muslim untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram karena bulan Muharram merupakan bulan pembuka tahun baru. Seyogyanya tahun baru ini dapat kita hiasi dengan berbagai amal saleh. Tentu harapannya, di bulan-bulan selanjutnya Allah memudahkan kita menjalankan berbagai ibadah dan amal shaleh yang hendak kita kerjakan. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menjadi dorongan bagi kita semua untuk menghidupkan sunnah Rasul ini guna mendapatkan ridha Allah S.W.T. Aminn.

0 comments:

Post a Comment